Koperasi Pertanian Berbasis Ecofarming Untuk Perubahan KUD se-Jawa Tengah

PIPnews.co.id | Jakarta – Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah menyelenggarakan kegiatan aplikasi teknis pengembangan usaha koperasi pertanian berbasis ecofarming bekerjasama dengan Kopkun Institute, Purwokerto. Kegiatan ini diikuti oleh 30 Koperasi Unit Desa (KUD) di Jawa Tengah area Pantura. Kegiatan Koperasi Perubahan ini mengambil tema “Cara Koperasi Naik Kelas”, tujuannya untuk membangun kapasitas kelembagaan dan tata kelola agar KUD-KUD bisa naik kelas dari skala mikro, kecil, menengah bahkan besar.

Dalam kegiatan tersebut peserta didorong untuk berpikir maju ke depan (looking forward) daripada terjebak pada nostalgia masa lalu (looking backward) tentang kejayaan KUD di era Orde Baru. “Banyak tantangan ke depan yang membutuhkan kerja keras, agar KUD bisa bertahan minimal 10-20 tahun mendatang. Bila Bapak/ Ibu tidak berubah, dipastikan akan tergeser oleh pelaku ekonomi lainnya”, ujar salah seorang mentor.

Peserta juga diperkenalkan pendekatan untuk membangun kapabilitas dinamis lembaga, sehingga melihat perubahan sebagai hal yang niscaya untuk dilakukan. Dalam sesi itu ada kisah menarik dari salah satu KUD Kab.Tegal di mana mereka telah lakukan perubahan nama dari Koperasi Unit Desa menjadi Koperasi Usaha Daerah (KUD). Hal itu mereka lakukan sebagai cara untuk kembangkan kapasitas kelembagaan sehingga memiliki skala sosio-ekonomi yang luas.

Kegiatan itu dilaksanakan pada 18-22 Juli 2017 di Hotel Moro Seneng, Baturraden. Peserta terlihat antusias meski kegiatan dimulai sejakpukul 08.00 wib  dan selesai pukul 23.00 WIB. Bahkan di malam terakhir kegiatan berlangsung sampai pukul 24.00 WIB. Hal itu nampaknya tak mengurangi semangat peserta karena mentor/fasilitator yang muda-muda dapat membangun dinamika forum dengan baik.

Dalam satu sesi peserta dibagi menjadi lima kelompok didampingi oleh para fasilitator untuk melakukan analisis SWOT kondisi KUDnya masing-masing. “Analisis SWOT ini sebagai permulaan untuk kemudian membangun visi-misi koperasi. Biasanya visi-misi itu kalimatnya bagus-bagus dan besar-besar, dalam lokakarya ini kami latih peserta membuat pernyataan visi yang bisa dicapai, sehingga jelas menurunkannya menjadi target dalam program kerja. Jangan sampai visi-misi hanya menjadi tempelan profil koperasi. Itu basa-basi namanya”, tegas para mentor, Herliana, HC., Vledy Afief, HC. Dan Angjar Muti, HC. Di masing-masing kelompoknya.

Kegiatan ini secara umum mendorong peserta untuk membangun Manajemen Perubahan serta Perencanaan Strategis (Renstra) di KUDnya masing-masing. “Perubahan itu harus dilakukan dan dikelolase cara baik. Itulah pentingnya kita belajar Manajemen Perubahan.

Dengan memahami anatomi perubahan, kita bisa mengelolanya dengan baik. Misalnya bagaimana respon orang-orang terhadap perubahan yang tak selalu positif. Nah, yang seperti itu harus dikelola agar tidak kontra produktif”, terang Firdaus Putra, HC., dalam sesi diskusi.

Kopkun Institute menemukan bahwa banyak koperasi dan tak terkecuali KUD yang tak memiliki Rencana Strategis (Renstra) lima tahunan. Itu yang membuat pengelolaan koperasi dijalankan secara sporadis dan tidak terencana. “Sebagian besar mereka tak punya Renstra, sehingga Program Kerja tahunan biasanya copy-paste tahun sebelumnya atau suka-suka Pengurus yang menjabat. Dengan adanya Renstra, Pengurus cukup menurunkan Road Map lima tahun ke dalam program kerja tahunan”, jelas Novita Puspasari, HC., salah seorang mentor yang juga Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unsoed.

Dalam kegiatan itu dihadirkan beberapa koperasi lain yang sudah melakukan perubahan di koperasinya. Ada Koperasi Pasar Manis (Kopamas), Argo MulyoJati, NEU Banyuma sserta KSU Mitra Purbalingga. Dalam sesi testimonial itu peserta antusias menyaksikan para Pengurus/ Manajer koperasi dapat membuat perubahanse hingga koperasi bekerja secara efektif, serta produktif meski berangkat dari kondisi negatif (bangkrut).

Dipandu oleh sedikitnya 7 mentor, kegiatan panjang itu membuat perserta yakin untuk berubah. “Jadi kenapa kita buat moto kegiatan ini adalah “Jangan basa-basi!“, karena sudah terlalu banyak omong kosong yang kita kerjakan di koperasi. Mungkin terdengar kasar dan vulgar, namun kalau Bapak/Ibu mau jujur, kondisinya seperti itu. Bapak/Ibu bisa lihat, berapa kali Bapak/Ibu diundang ikuti pelatihan A, pelatihan B, lokakarya C, dan seterusnya. Tapi apa dampaknya, masih sama saja. Itu yang namanya kita penuh omong kosong”, terang Direktur Kopkun Institute saat membuka kegiatan.

Di akhir sesi peserta diajak menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang berisi timeline untuk membuat Tim Perubahan diikuti dengan proses perencanaan strategis di koperasinya masing-masing. Sebagai pungkasan, mereka menandatangani Pakta Perubahan sebagai ikrar mereka untuk memulai dan mengawal perubahan di tiap KUD. “Hal ini kita lakukan agar memahami bahwa kegiatan ini bukan formalitas pelatihan belaka. Namun untung-ruginya, mereka sendiri yang akan merasakan. Siapa yang serius akan memperoleh manfaat besardari kegiatan ini”, terang H.Hadi Faroid, perwakilan Pengurus PUSKUD Jawa Tengah.

“Saat ini ada sekitar 500an KUD di Jawa Tengah, yang aktif sampai 300 KUD. Kami berharap nanti semua KUD bisa ikuti kegiatan seperti ini secara bertahap, sehingga seluruh Pengurus/ Manajer KUD terbuka mindsetnya”, Pengurus PUSKUD dalam sambutan penutupannya.“Kegiatan ini untuk lakukan perubahan mindset ini merupaka nsalahsatu maklumat GubernurJawa Tengah dalam peringatan Hari Koperasi ke-70 kemarin, semoga sepulang dari kegiatan ini teman-teman KUD punya cara pandang baru”, sambung Didik Prabowo, SE, M.Si Perwakilan dari Dinas Koperasi UKM Provinsi Jawa Tengah saat melepas peserta pulang. (Yan)

Sumber : Dinas Koperasi UKM Jawa Tengah

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*