Aceh Pamerkan Kopi Gayo di World of Coffee 2017 Budapest

Peserta Dari Indonesia Pada World Of Coffee 2017 di Budapest,Hungary

Pipnews.co.id,  13 September 2017

Pemerintah Aceh memamerkan keunggulan kopi Gayo dalam ajang pameran kopi terbesar dunia World of Coffee (WoC) 2017 di Budapest, Hungaria.

Delegasi Aceh yang terdiri dari Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh (DPM-PTSP), Iskandar, Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah, para pelaku usaha kopi Aceh serta dinas terkait tiba di Budapest, Hungaria sejak Senin lalu.

Bupati Aceh Tengah, Nasaruddin yang hadir sebagai sebagai pembicara pada peresmian Paviliun Indonesia di ajang WOM 2017 tersebut menjelaskan berbagai keunggulan kopi Arabika dari dataran tinggi Gayo.

Dihadapan Duta Besar Indonesia untuk Hungaria, Wening Esthyprobo dan peserta lainnya, Nasaruddin menggambarkan prospek Kopi Arabika Gayo yang semakin gencar menembus pasar Uni Eropa.

“Sejak keikutsertaan Pemerintah Daerah dan para  exportir Kopi dari Dataran Tinggi Gayo dalam beberapa expo International akhir-akhir ini telah mampu mendongkrak popularitas komoditi Kopi Arabika Gayo, terutama dikalangan masyarakat Uni Eropa yang sebelumnya relatif sulit untuk diterobos”, kata Nasaruddin.

Menurut Bupati Aceh Tengah ini, dataran tinggi gayo yang melingkupi tiga Kabupaten (Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues) memiliki luas tanaman Kopi Arabika Gayo mencapai 110.000 hektar yang seluruhnya diusahakan dan dimiliki oleh Petani.

Pemerintah Daerah memberikan pengawasan sehingga kopi yang dikelola petani di dataran tinggi Gayo ini seluruh produknya tergolong Specialty yang selalu mengutamakan penggunaan pupuk organik terutama dari kulit kopi itu sendiri dan tidak menggunakan pestisida. Kalaupun digunakan, hanya dalam batasan seminimal mungkin.

Perkebunan kopi yang diusahakan rakyat juga berada diluar kawasan hutan, sehingga fungsi hutan untuk kelestarian lingkungan tetap terjaga.

Dikatakan Nasaruddin, kehadiran puluhan pelaku bisnis kopi yang tergabung dalam asosiasi Spesialty Coffee Association of Europe (SCAE) yang difasilitasi oleh Pemerintah Aceh bekerjasama dengan Pemkab Aceh Tengah dan Bener Meriah juga telah memberi perubahan signifikan terhadap permintaan pasar Kopi Arabika Gayo ke Uni Eropa.

“Informasi penting  yang terakhir kita terima,  pada akhir bulan Mei lalu, Kopi Arabika Gayo telah terdaftar sebagai produk yang diakui oleh Uni Eropa berdasarkan perlindungan indikasi geografis, tentu pengakuan ini akan semakin meningkatkan nilai tawar Kopi Arabika Gayo di pasar Eropa,” Jelasnya.

Sementara itu para eksportir Kopi Gayo yang ikut dalam pameran itu berharap permerintah daerah lebih proaktif dalam mempromosikan Kopi Arabica Gayo di Benua Eropa.

Hal itu diungkapkan pimpinan Koperasi Baburrayan, Rizwan Husen yang menilai kehadiran Pemerintah Daerah dalam setiap ekspo kopi International dapat meningkatkan nilai jual Kopi Gayo.

“Sebelum tahun 2015 lalu, penjualan Kopi Gayo ke Eropa sangat sedikit, namun sekarang 25 persen dari seluruh ekspor kopi Baburrayan itu ke Eropa, ” ungkap Rizwan, beberapa waktu yang lalu di Takengon.

Dikatakan Rizwan kehadiran pemerintah daerah pada ekspo Kopi Dunia di Gothenburg-Swedia sejak  tahun 2015 lalu telah berpengaruh pada penjualan Kopi Gayo ke benua biru tersebut.

Disamping itu, Rizwan menilai perlunya hadir Pemerintah daerah dalam setiap ekspo untuk mengetahui apa dan bagaimana permintaan pasar Internasional terhadap Kopi Gayo sehingga bisa merumuskan kebijakan daerah yang tepat dengan tetap mengakomodir kepentingan petani dan pedagang di daerah.

Hadirnya pemerintah daerah,  menurut Rizwan akan semakin menambah keyakinan Pengusaha (Importir/buyer) kopi diberbagai negara terutama di Eropa. Serta adanya jaminan pengelolaan/Budidaya kopi dengan tidak merusak lingkungan/hutan.

Dukungan pemerintah daerah juga terlihat dari antusiasnya puluhan pelaku bisnis kopi dunia yang difasilitasi datang berkunjung ke Aceh Tengah dan Bener Meriah.

“Apalagi saat ini Kopi Gayo sudah mendapat pengakuan dari Uni Eropa dengan keluarnya Perlindungan Indikasi Geografis, sehingga pemerintah daerah juga ikut terlibat menyosialisasikannya terutama di Eropa,” kata Rizwan yang rata-rata telah mengekspor kopi mencapai 2.000 ton pertahun.

Menurut Rizwan, ekspo kopi dunia biasanya dilakukan dua kali dalam setahun, sekali di eropa dan sekali di benua Amerika.

Sumber : ACEHTREND

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*