UKM Harus Berani Jajal Pasar Ekspor, Karena Peluang Masih Besar

(foto: ilustrasi )

Pipnews.co.id, Bandung 15 September 2017

Pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) harus mengubah mindset dan memaksimalkan era pasar bebas guna memasuki pasar ekspor. Langkah ini bisa dimulai dari kawasan ASEAN terlebih dahulu. Dengan membidik ekspor, pelaku UKM di Indonesia akan mendapatkan 340 juta pasar tambahan dari ASEAN.

Demikian diungkapkan Kasubdit Kerja Sama Perdagangan dan Perindustrian Direktorat Kerja Sama Ekonomi ASEAN di Kementerian Luar Negeri, Nur Rochmah Hidayah pada acara diskusi ASEAN Untuk Rakyat. Diskusi bertopik “Peningkatan Daya Saing UMKM Indonesia di Pasar ASEAN dengan Pemanfaatan Surat Keterangan Asal (SKA) ASEAN/Form D”, ini digelar di di Hotel Grand Tjokro,Bandung, Selasa 12 September 2017. Dia menambahkan, total jumlah Penduduk ASEAN diperkirakan mencapai 625 juta jiwa.

Kata dia, pasar bebas harus dipandang sebagai peluang. Ada banyak kemudahan yang diberikan pasar bebas. Selain tambahan pasar yang besar, bea masuk produk ekpor ke negara-negara ASEAN juga 0%. Ini adalah peluang yang harus ditangkap.

Apalagi lanjut dia, negara-negara ASEAN sudah memiliki kerja sama uji keamanan produk pangan. Dengan demikian, produk pangan yang sudah lolos uji keamanan di Indonesia bisa langsung masuk pasar negara ASEAN lain tanpa harus diuji lagi.

“Jika ingin ekspor ke negara-negara ASEAN, pelaku UMKM tinggal melengkapi produknya dengan sertifikat halal dan POM untuk makanan. Perhatikan kelengkapan informasi produk dalam kemasan dan perizinan,” kata Nur, seperti dilansir Pikiran Rakyat.

Hal yang tak kalah penting, menurut dia, pelaku UMKM berorientasi ekspor juga harus berinovasi untuk meningkatkan daya saing, baik dari sisi produk maupun kemasan. Untuk memasuki pasar ekspor, pelaku UMKM bisa memaksimal e-commerce, media sosial, dan media online lainnya.

“Pengiriman satu paket dengan berat satu kilogram ke luar negeri pun sudah termasuk ekspor. Jadi, ekspor bukan hanya yang dikirim dengan volume besar, kontaineran. Mindset ini yang harus ditanamkan,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Jawa Barat (Jabar), Dudi Sudradjat Abdurachim, juga mengatakan, UMKM harus memaksimalkan marketplace, media sosial, maupun domain untuk membidik pasar ekspor, dimulai dari ASEAN. Strategi ini, bukan hanya untuk memperluas pasar UMKM, tapi juga guna mempertahankan pasar Indonesia dari gempuran pelaku usaha dan produk asing.

“Pasar Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa adalah target yang seksi bagi mereka. Pelaku usaha dari luar berlomba-lomba masuk ke pasar Indonesia, baik melalui jalur perdagangan maupun investasi,” katanya.

Dudi menilai, mereka berambisi untuk menguasai pasar Indonesia dari hulu hingga ke hilir. Bahkan bisnis penunjang seperti pembiayaan, pembayaran, hingga logistik juga ingin mereka kuasai melalui praktek konglomerasi.

“Target pertama mereka adalah menguasai pasar dengan strategi harga murah. Setelah itu, secara perlahan meningkatkan kualitas agar bisa bersaing di semua level komsumen, termasuk kelompok ekonomi menengah ke atas,” tuturnya.

Cara pelaku usaha Indonesia, khususnya UMKM, untuk memenangkan persaingan, menurut dia, bukan hanya dengan meningkatkan kualitas dan daya saing, tapi juga dengan membidik pasar ekspor. Jadi, UMKM menerapkan strategi bertahan sambil menyerang.

“Maksimalkan teknologi informasi, bukan hanya untuk memperkuat dan menjangkau pasar lokal, tapi juga pasar luar negeri, seperti ASEAN. Tanpa memaksimalkan teknologi informasi, kita akan tertinggal. Jangan sampai hanya jadi penonton di era pasar bebas ini,” kata Dudi.

Seperti diketahui, pemerintah menargetkan kontribusi ekspor produk UKM akan mencapai 20% dari total ekspor produk nonmigas pada 2019. Saat ini kontribusi ekspor produk UKM Indonesia baru mencapai 15,8% atau sekitar 23 miliar dolar AS dari total ekspor nonmigas. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*