E-Commerce Tumbuh Pesat, Bisnis Konvensional Melemah

Pipnews.co.id, Bandung 25 September 2017

Gelombang e-commerce memunculkan tren disruptif. Di satu sisi, e-commerce membantu pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) memperluas pasar. Namun di sisi lain melemahkan bisnis konvensional yang sudah lebih dulu ada.

Demikian diungkapkan Chief Lembaga Riset Telematika Sharing Vision, Dimitri Mahayana, di Bandung, Minggu 24 September 2017. E-commerce memunculkan banyak model bisnis baru, mulai dari belanja, transportasi, bimbel, hingga maintenance rumah tangga online. Selain itu, tentu masih banyak lagi.

“Di bidang transportasi, omzet perusahaan taksi tradisional turun hingga 40% dan setoran pengemudi taksi turun 30%-50%. Anggota Organda juga turun drastis dari 27.000 menjadi 10.000,” kata Dimitri, seperti dilansir Pikiran Rakyat.

Di sektor lain, penjualan tiket pesawat di agen konvensional turun 20%-30%. Iklan majalah turun 4% dan koran 41%. Penjualan ritel kuartal I turun 20%. Bahkan, omzet sebuah konveksi di Tulungagung turun hingga 60%.

Penurunan omzet mereka, menurut Dimitri, ada kaitannya dengan pesatnya pertumbuhan e-commerce, seiring dengan mulai beralihnya gaya hidup masyarakat ke arah digital. Namun, ia menampik jika e-commerce dikatakan sebagai perusak pasar konvensional.

“Pasar bisnis konvensional masih dan akan tetap ada. Hanya sebagian konsumen sudah dan akan beralih ke digital. Keduanya, antara e-commerce dan bisnis konvensiaonal seharusnya bisa saling melengkapi,” katanya.

Contohnya, menurut Dimitri, sebuah tenant di mall tetap bisa mempertahankan skema bisnis konvensional mereka sambil berjualan di marketplace. Dengan demikian, mereka bisa meraup kedua kelompok konsumen sambil memperluas cakupan pasar.

Akan tetap bertahannya bisnis konvensional, menurut dia, karena sebagian masyarakat Indonesia masih sulit melepaskan kebiasaan berbelanja konvensional untuk produk tertentu. Gaya hidup digital juga belum menjangkau seluruh lapisan masyarakat pada area geografis dan rentang usia tertentu.

Berdasarkan data Sharing Vision, nilai transaksi e-commerce di Indonesia tumbuh 39,6% per tahun. Tahun ini nilai transaksi e-commerce diprediksikan mencapai Rp 562 triliun dan akan menyentuh Rp 1.000 triliun pada 2020.

“Jumlah pembeli online Indonesia tahun ini diprediksi mencapai 9,7 juta orang, atau 39% pengguna internet Indonesia,” kata Dimitri.

Seperti diketahui, baru-baru ini dunia bisnis Indonesia dikejutkan dengan keputusan PT Matahari Department Store Tbk yang menutup dua gerainya di Jakarta, yakni di Pasaraya Blok M dan Pasaraya Manggarai. Sejumlah pelaku usaha ritel lainnya juga banyak yang mengeluhkan anjloknya omzet usaha.

Selain sengitnya persaingan di sektor ritel, sejumlah pihak memprediksi, kondisi tersebut juga dipicu kian melambungnya e-commerce. Seperti diketahui, saat ini gaya hidup sebagian masyarakat Indonesia sudah semakin digital. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*