Kesaksian Yannes Sipahutar: Merasa Dibohongi Oleh Ferdinand Soal Kepemilikan Tanah Dekopinwil

Pipnews.co.id, Jakarta 28 September 207

Yannes Sipahutar, wartawan Majalah PIP (Pusat Informasi Perkoperasian) terbitan Jakarta,  merasa dibohongi oleh Ferdinand Simangunsong (Alm), mantan Ketua Dewan Koperasi Wilayah (Dekopinwil) Sumatera Utara (1986-2012) ketika beliau diwawancarai semasa hidupnya.

Kebohongan itu, terkait dengan kepemilikan tanah dan gedung perkantoran Dekopinwil Sumut yang kini dalam sengketa antara Dekopinwil Sumut dengan Ahli Waris (anak-anak) Ferdinand Simangunsong.

Dulu ketika diwawancarai, Ferdinand mengaku kepada saya, gedung itu adalah milik Dekopinwil Sumut, tapi nyatanya jadi sengketa. Di sinilah antara lain letaknya kebohongan itu. Terus terang saya kaget, ketika diberitahu Dekopinwil Sumut berperkara dengan anak-anak Ferdinand.

Dalam beberapa kali wawancara saya dengan Ferdinad baik di kota Medan maupun di Jakarta, tak sedikit pun terkesan, bahwa gedung perkantoran yang sudah ditempati Dekopinwil Sumut sejak tahun tujuhpuluhan di Jalan Sei Besitang No. 9 kota Medan, sebagai milik pribadi Ferdinand. Justru sangat jelas gedung itu milik gerakan koperasi Sumatera Utara.

Ambil contoh dengan wawancara saya dengan Ferdinand Simangunsong 32 tahun silam (masih bisa dilihat pada bundelan Majalah PIP edisi Maret 1985). Kala itu beliau sedang mengikuti Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Dekopin di Jakarta (saat itu ia masih Ketua II Dekopinwil/sedang Ketua Umumnya MJT Sihotang) Dalam percakapan ketika itu, Ferdinand mengatakan, bahwa gedung tersebut adalah milik Dekopinwil Sumut.

Sebagai bukti dari pernyataan Ferdinand ini, bisa dilbaca pada berita Majalah PIP No 47 Tahun IV – 31 Maret 1985,  dengan Sub Judul “Dipugar Menjadi Wisma Koperasi”.( Berita ini juga dilengkapi foto wawancara Yannes Sipahutar dengan Ferdinand Simangunsong). Berikut kutipannya.

Ferdinand Simangunsong, yang juga anggota DPRD Tk I Sumut, juga mengatakan dalam usaha untuk lebih meningkatkan fungsi Dekopinwil, pada awal tahun 1986 “gedung Dekopinwil” akan segera dipugar menjadi wisma koperasi bertingkat tiga. Lantai dasar dipergunakan untuk ruang pertemuan, lantai 2 dipergunakan untuk ruang pendidikan dan lantai 3 untuk ruang kantor. Mengenai biaya pembangunan Rp 300 juta lebih akan diperoleh dari gerakan koperasi di tingkat satu dan bantuan Pemda. “Dengan selesainya gedung Wisma Koperasi, nanti diharapkan Dekopin dapat menyelenggarakan pendidikan sendiri kepada gerakan disamping Balatkop” tambahnya.

Mencermati kalimat diatas yang berbunyi “gedung Dekopinwil”. Itu, sangat jelas memberikan arti bahwa gedung yang berada di Jalan Sei Besitang, Medan, itu adalah gedung Dekopinwil Sumut. Apalagi kala itu Dekopinwil memang berkantor di sana. Jadi sangat tidak masuk akal, jika kemudian tanah dan gedung tersebut menjadi milik pribadi Ferdinand.

Apa yang saya tulis pada berita Majalah PIP itu, benar-benar apa adanya sesuai dengan hasil percakapan dengan Ferdinand ketika itu. Tidak ada rekayasa, atau dibuat-buat, karena memang tidak tahu apa yang terjadi  pada 32 tahun kemudian. Jikapun tulisan ini dianggap masih relevan saat ini, itu kebetulan saja karena bundelan arsipnya masih tersimpan rapi.

Lantaran itu ketika saya ditunjuk menjadi salah seorang saksi pada perkara ini, dan sudah selesai bersaksi pada tanggal 22 Agustus 2017 di Pengadilan Negeri Medan, tulisan inilah yang salah satu saya sampaikan kepada  Hakim, sekaligus saya bacakan.

Masih terkait gedung Dekopinwil Sumut, juga pernah di muat pada Majalah PIP No. 289/Th XXV September 2007.  Berikut kutipannya, seingat dia (maksudnya JK Lumunon mantan Direktur Ditjen Koperasi yang diwawancarai Yannes dari Majalah PIP) kasus serupa pernah terjadi di Medan, Sumatera Utara. Sekitar tahun delapan puluhan Dekopinwil Sumut nyaris tergusur dri gedung koperasi di Jalan Sei Beitang Medan, tempat di mana Dekopinwil berkantor. Oleh Kanwildepkop Sumut Dekopinwil diperintahkan untuk meninggalkan gedung dengan alasan akan dipakai Kanwildepkop.

Lantas, apa yang terjadi? Dekopinwil Sumut gigih mempertahankan asetnya, karena gedung itu adalah hibah dari Asia Development Bank. Sama dengan status gedung Dekopinwil Jakarta di Jalan Darmawangsa, Jakarta, Selatan.  Hingga sekarang gedung itu menjadi aset gerakan koperasi Sumut. Kata Lumunon, pada zaman itu empat gedung serupa dihibahkan Asia Development Bank kepada gerakan koperasi. Dua lainnya berada di Malang dan Denpasar.

Tidak itu saja, pada edisi Desember 2012, Majalah PIP juga memuat Obituari Ferdiand Simangunsong yang meninggal dunia pada 4 Desemnber 2012. Berikut kutipannya : Hal lain yang patut diingat dari seorang Ferdinand, adalah kegigihannya mempertahankan perkantoran Dekopinwil Sumut sekarang di Jalan Sei Besitang Medan, yang sempat mau dirampas dinas koperasi setempat. Padahal gedung itu dibangun pada tahun limapuluhan oleh Bank Dunia dan sudah dihibahkan kepada gerakan koperasi. “Masa mau diambil begitu saja,” ujarnya kala wawancara dengan PIP setahun silam.

Namun sayangnya kegigihan Ferdinand mempertahankan gedung Dekopinwil seperti ditulis di atas, bukan untuk kepentingan gerakan koperasi, tapi diambil alih jadi milik pribadinya. Di sinilah saya juga merasa dibohongi saat diwawancarai, yaitu lain dikatakan lain diperbuat. (Yannes)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*