REVOLUSI UANG VIRTUAL, ANCAMAN BAGI BANK SENTRAL, TETAPI PELUANG BAGI KOPERASI DUNIA

By: Insanial Burhamzah

PENDAHULUAN

Pada tahun 2011 saya di undang khusus oleh Mr. Charles Gauld, Managing Director of ICA -(International Cooperative Alliance), untuk hadir pada acara Global Conference and General Assembly of ICA di Cancun, Meksiko. Agenda utama saya di Cancun, Meksiko, adalah untuk mempresentasikan sebuah konsep yang saya gagas sebelumnya yang saya namakan Coop2Coop. Sebuah konsep sederhana untuk mengintegrasikan Koperasi Global kedalam dunia cyber, agar terbangun kebersamaan global menghadapi berbagai issu dan tantangan global.

Issu global ketika itu adalah masih dipengaruhi oleh krisis keuangan global pada tahun 2008 yang diawali kolaps nya Lehman Brothers, Merrill Lynch, AIG, Goldman Sachs, JPMorgan Chase & Co, Bear Stream, Fannie Mae, Freddie Mac, Citicorps dan lainnya., sehingga pemerintah AS dipaksa merogoh koceknya untuk memberikan dana talangan / bailout sebesar USA 700 milyar. Dan walaupun krisis keuangan dunia sudah mulai pulih, tetapi berbagai issu global lainnya seperti masalah _kelangkaan pangan, kelangkaan energy dan konflik horizontal_ antara negara dan masalah _genosida kemanusiaan di Rohingya, Syria_ dan diberbagai belahan dunia lainnya yang  kesemuanya akan selalu menjadi bahaya laten terjadinya krisis ekonomi global, sehingga ekonomi global terus dalam ancaman.

Sementara, potensi Koperasi-koperasi dunia yang menjadi anggota ICA / https://ica.coop/ saat ini memiliki anggota lebih dari 2 (dua) milyar orang Cooperators, yang tersebar di lebih 100 negara. Namun, keberadaan mereka masih berjalan sendiri-sendiri. Padahal apabila Modal Social Koperasi yang sangat dahsyat itu, dapat terkoneksi satu dengan lainnya dalam sebuah bangunan komunitas Closed-Loop, maka Koperasi akan menjadi kekuatan ekonomi raksasa baru yang dapat mengendalikan supply and demand barang dan jasa untuk berada pada equilibrium yang adil. Sebab, kue ekonomi dunia selama ini dikendalikan oleh para kartel dan berbagai pratek monopoli.

Maka saya menawarkan Coop2Coop, sebagai sebuah konstruksi one stop service bagi para Cooperators didalam keanggotaan  Closed-Loop  guna terbangunnya synergy peer to peer antara person to person, dengan 3 fitur utama antar lain :

  1. Telepresence
  2. Market Place
  3. CoopTrade, untuk melakukan perdagangan komoditi dan jasa melalui fitur Derivative dan E-Commerce
  4. bertransaksi melalui payment gateway Blockchain menghadirkan CoopCoin, guna memudahkan para Cooperator bertransaksi secara murah, efisien, dan aman antara koperasi ke individu (B2C) dan antara sesama koperasi dan antara koperasi dengan global merchant (perusahaan industry barang / jasa yang non-koperasi), tanpa batas wilayah dan waktu.

Sebab, lompatan perkembangan teknologi Informasi saat ini memungkinkan kita wujudkan semuanya bisa terjadi.

 

COOPCOIN

Coopcoin terinspirasi dari Bitcoin mata uang virtual yang dikembangkan pada tahun 2009 oleh seseorang dengan nama samaran Satoshi Nakamoto. Mata uang ini seperti halnya Rupiah atau Dollar, namun hanya tersedia di dunia digital. Konsepnya mungkin terdengar seperti eGold, walaupun sebenarnya jauh berbeda.

Coopcoin menggunakan system Blockchain ” yang merupakan“buku besar” / ledger, guna dilakukannya transaksi yang tidak dapat rusak dan dapat diprogram untuk mencatat tidak hanya transaksi keuangan tapi tetapi juga non uang.”

Melalui  Blockchain  semua transaksi tidak dikontrol oleh lembaga atau pemerintah manapun, dan dikembangkan dengan sebuah “idealism” bahwa mata uang yang baik tidak dikontrol oleh pemerintah atau bank sentral. Krisis finansial beberapa waktu yang lalu menegaskan bahwa pemerintah selalu lalai dalam menjaga kestabilan ekonomi. Pemerintah diberbagai negara yang selama ini dipercaya oleh pasar, namun kenyataannya selalu dikuasai oleh orang-orang yang korup dan hanya bekerja demi keuntungan pribadi, sehingga keputusan-keputusan finansial selalu berpihak kepada konglomerat belaka.

Coopcoin memiliki sejumlah fitur yang sangat menarik yaitu sifatnya yang anonim dan biaya transaksi yang sangat rendah (hampir 0). Transfer cepat, dan ke negara mana saja asalkan ada fasilitas internet, dan hanya menggunakan smartphone / Laptop serta  aman menjaga privasi user ke level yang paling tinggi.

Sebagaimana Bitcoin yang telah diadopsi oleh banyak perusahaan keuangan dunia seperti IBM, Cisco dan bahkan  Stephan Pouyat, Global Head of Funds dari EuroClear, melukiskan kehadiran Bitcoin saat ini seperti pada saat awal diperkenalkannya automated funds processing  pada tahun 1986 oleh the Depository Trust & Clearing Corporation (DTCC).  Maka Coopcoin, yang menggunakan database Blockchain, transaksinya tidak akan dikontrol oleh suatu otoritas jasa keuangan atau bank sentral manapun. Melainkan sangat terbuka untuk umum sehingga mustahil bagi seseorang untuk memalsukan transaksi di Blockchain. Seluruh transaksi tercatat secara live, transparan, dan tersebar ke jutaan server. Mereka yang ingin mengubah atau memalsukan data transaksi Coopcoin, harus meretas jutaan server tersebut di saat yang bersamaan.

Coopcoin akan disimpan ke dalam Coopcoin Wallet. Wallet ini harus terinstall di kedua belah pihak, bisa dengan PC/laptop, tablet ataupun smartphone. Setelah menginstall wallet, Anda akan mendapatkan Coopcoin Address. Untuk transfer Coopcoin sangat mudah, buka aplikasi wallet, masukan Coopcoin Address dari lawan transaksi dan jumlah bitcoin yang ingin ditransfer, kemudian kirim.

Lalu jika ada yang bertanya, jika tidak ada bank atau perusahaan yang mengelola seperti halnya paypal atau egold, lalu data keuangan disimpan di mana? Jawabannya, di computer komputer kita masing-masing (dalam wallet) dan jaringan peer to peer di seluruh dunia. Jadi uang Coopcoin tersimpan di komputer kita sendiri di dalam wallet. Jika komputer rusak sama saja uang coopcoin kita hilang, jadi wallet Coopcoin harus di-backup secara berkala ke beberapa device. Ketika melakukan transaksi, puluhan ribu komputer di dalam jaringan Coopcoin akan menverifikasi data yang Anda masukan sehingga tidak terjadi kecurangan.

Sistem Coopcoin yang open source tidak memungkinkan dibobol sekalipun oleh hacker yang jenius. Hal ini dibuktikan oleh hasil review oleh berbagai ahli IT. Sebab, semua data transaksi masa lampau tersimpan di semua peer di seluruh jaringan, dan harus berurutan. Setiap transaksi baru akan diverifikasi oleh sejumlah peer baru dinyatakan valid.

 

MODEL DERIVATIF PADA COOPTRADE

Business Model Derivatif, Securitization Chain, lahir dari perkembangan IT. Dan IT saat ini telah menjadi peradaban baru masyarakat ekonomi global. Dan peradaban kita tidak mungkin kembali ke titik awal non-digital.

Business Model Securitization Chain, adalah model Pasar abad 21, sangat diperlukan untuk efisiensi waktu dan biaya, bergeraknya arus uang dan barang di era global ini. Walaupun, diperlukan adanya reformasi untuk mengendalikannya, agar tidak ada lagi memberikan akses kepada pelaku yang menjadi spekulan yang hanya ingin memperkaya diri sendiri.

Dengan adanya Coopcoin, maka lebih memudahkan transaksi yang transparan pada konsep Derivatif. Walaupun konsep derivative pernah gagal menciptakan Securitization Food-Chain di AS pada tahun 2008 lalu. Namun, perdagangan Derivatif pernah menjadi kekuatan baru bangkitnya industri keuangan Amerika Serikat. Sehingga Pada tahun 1980 – 2007, sektor finansial AS berhasil mengkonsolidasi beberapa Perusahaannya menjadi perusahaan raksasa dan mendunia, seperti Citicorp, Lehman Brothers, Merrill Lynch, AIG, Goldman Sachs, JPMorgan Chase & Co, Bear Stream, Fannie Mae, Freddie Mac dan lainnya. Dimana mereka memulai dari hipotek Real Estate, karena menganggap Real Estate itu nyata. Karena assetnya bisa di lihat aset secara kasat mata. Mereka bisa hidup di-asset mereka. Mereka bisa menyewakan aset mereka. Sehingga terjadi ledakan besar dibidang perumahan. Selera dari sektor keuangan, membuat semua orang melakukan itu.

Didalam proses securitization food-chain, AIG, American International Group , ikut menjadi bagian yang berperan untuk membeli dan menjual CDO (Colletaralized Debt Obligation), yang mereka sebut sebagai pertukaran kredit atau CDS (Credit Default Swap). Pertukaran kredit bekerja seperti polis asuransi. Seorang investor yang membeli pertukaran kredit untuk melindungi CDO mereka, dengan membayar kepada AIG setiap 4 bulan. Apabila CDO nya menjadi buruk, AIG berjanji untuk membayarkan kerugian mereka. Tetapi tidak seperti asuransi yang biasa. Sebab, spekulators juga bisa membeli pertukaran kredit /CDS dari AIG. Untuk bertaruh melawan CDO yang tidk mereka miliki.

Namun pada  CoopTrade  yang kami gagas ini, bentuknya lebih sederhana, komoditi tidak dibatasi hanya rumah, tetapi beragam komoditi yang tidak dibatasi, selama dapat ditampung pada masing-masing W/R (warehouse receipt / resi gudang) yang dikelola oleh Koperasi diberbagai negara. Dan pada saat W/R menerima titipan komoditi, maka W/R akan mengeluarkan sertifikat pada masing-masing komoditi tersebut, dan atas kerjasama dengan lembaga survey yang kami tunjuk. Sertifikat yang dikeluarkan W/H melalui Coop2Coop akan dijadikan hipotek pada bank investasi. Selanjutnya Bank Investasi menggabungkan ribuan hipotek dan pinjaman termasuk Commercial Morgages, Corporate Buy-out Debt, Home Morgages, Car Loan, Credit Card Debt dan lainnya. Untuk menciptakan derivatif rumit yang disebut CCC (Collateralized Cooperative Commodity), kemudian Bank Investment menjual CCC tersebut kepada para Investor. Investor berhak untuk memerintahkan memindahkan komoditinya dari gudang yang satu ke gudang yang lain di berbagai negara.

Seharusnya, setelah adanya Risk Sharing yang dibangun dengan sistem Securitization Chain, tinggkat kegagalannya menjadi “zero”, sebab system itu memberikan tingkat keamanan paling tinggi yang pernah ada dalam sejarah keuangan dunia.

Saya melihat business Model Securitization Chain ini, sangat baik apabila dapat di adopsi untuk memperkuat Modal dan sekaligus sarana efektif untuk Penetrasi Pasar bagi anggota Koperasi dunia, melalui konsep Cooperative to Cooperative. Dengan alasan :

  1. Koperasi merupakan representasi masyarakat banyak
  2. Mencegah kepentingan individu yang serakah
  3. Membangun keseimbangan ekonomi yang selama ini kue ekonomi dikuasai oleh monopoli perusahaan raksasa yang bermodal besar.

 

Langkah – Langkah Yang Dibutuhkan Antara Lain:

  1. Melakukan percepatan perbaikan kondisi distortif dan risiko mikro di sektor riil melalui perbaikan iklim investasi secara keseluruhan, melalui mekanisme pembagian risiko berantai sebagaimana sukses pada Securitization Chain di AS.
  2. Melakukan koordinasi, pembentukan synergy antara para pemangku kepentingan (stakeholder) seperti lembaga penjamin/Asuransi, Modal Ventura bersama para pelaku pasar, regulator untuk mengikat diri kedalam “RISK SHARING”

 

PENUTUP

Revolusi IT saat ini, telah menjadi peradaban baru masyarakat ekonomi global. Dan peradaban kita tidak mungkin kembali ke titik awal non-digital. Dampaknya diberbagai sector, khususnya di sector keuangan mengalami “revolusi” yang kedua kalinya dalam sejak tahun 1980an, setelah ditemukannya Automated Clearing House yang menggunakan Nostro Account. Sehingga Visa & MasterCard yang walaupun tidak memiliki bank, tetapi hadir di semua bank di seruluh dunia  guna mengendalikan milyaran transaksinya yang terjadi setiap hari.

Dan  revolusi keuangan kedua  saat ini adalah dengan hadirnya  Bitcoin yang dikombinasikan dengan teknologi database  blockchain , _merubah semua padigma keuangan global_ dari system terkontrol menjadi transaksi super liberal dan memiliki tingkat keamanan lebih tinggi serta dengan biaya super murah. Sehingga, keberadaan Bank sentral akan ter-eliminir dengan sendirinya seiring dengan perjalanan waktu dalam hitungan satu decade ini atau lebih cepat ?

Dan untuk melakukan penetrasi pasar global kita tidak bisa lagi berharap banyak dengan cara-cara konvensional yang sangat rentan digunakan oleh para kartel dan berbagai bentuk praktek monopoli. Perdagangan derivative menjadi pilihan peradaban pada manusia mellenium guna seiring dan sejalan dengan  kecepatan informasi yang didukung oleh teknologi abad 21. Hakekat dari Transaksi derivatif adalah upaya melindungi nilai (hedging) atau mengelolah manajemen resiko.

Penulis adalah Pimpinan Paripurna DEKOPIN – Ketua Komite Luar Negri

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*