Koperasi di Tumang Boyolali Belum Maksimal Manfaatkan Fasilitas KITE

Pipnews.co.id, Jakarta 19 Oktober 2017

Kendati telah diluncurkan sejak 30 Januari 2017, namun fasilitas Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) bagi Koperasi yang bergerak di sektor Industri Kecil Menengah (IKM) belum dapat dimanfaatkan secara maksimal.

Dirjen IKM Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Gati Wibaningsih mengatakan hal tersebut di Jakarta (18 Oktober 2017). Sebagai contoh Gita menunjuk Koperasi Pengrajin Tembaga dan Kuningan di Tumang, Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jateng, hingga sekarang belum bisa memanfaatkan fasilitas KITE.

Hal itu bisa terjadi lanjut Gita, karena Koperasi di Tumang Cepogo, Boyolali yang direncanakan sebagai Pusat Logistik Berikat (PLB) baru terbentuk pada Oktober 2017 ini.

“Kondisi tersebut mengakibatkan Koperasi Tumang belum secara efektif dapat menjalankan tugas pokok dan fungsinya sebagai PLB. Akibatnya, fasilitas KITE bagi IKM belum dapat dimanfaatkan dengan baik,” tutur Gati.

Kata Gita, Kemenperin menyediakan fasilitas KITE bagi IKM bertujuan agar IKM dapat lebih mudah mengimpor bahan baku yang akan dikonsumsi pada proses produksi menjadi suatu produk jadi, Nantinya, produk jadi tersebut akan diekspor kembali.

“Disamping itu, IKM di Tumang belum dapat melakukan ekspor secara mandiri. Pasalnya, kegiatan ekspor di Tumang hingga kini masih melibatkan pihak ketiga,” ujar Gati.

Mengutip Industry.co.id,Gati mengemukakan, Kemenperin mengusulkan agar PLB yang didirikan nanti dapat meningkatkan fasilitas KITE dan pembiayaan ekspor. Itu dapat dilakukan dengan membuat akses ekpor dan impor bahan baku dan hasil produksi IKM menjadi lebih luas.

“Pengurusan Ijin Usaha Industri (IUI) dan dokumen kelengkapan bagi sektor IKM diusulkan agar dipermudah. Selain itu, struktur biaya masing-masing komoditas IKM perlu ada. Pasalnya, komoditas-komoditas itu memiliki masalah yang berbeda dalam akses pembiayaan,” tegas Gati.

Gati mengungkapkan, Kemenperin kini sedang mendata beberapa IKM yang berpotensi ke pasar ekspor dan memberikan peringkat bagi IKM tersebut. Itu diakukan untuk memberikan kemudahan ekspor melalui pemberian pembiayaan, penjaminan, jasa asuransi dan jasa konsultasi ekspor.

“Tahap pertama ini, kami melakukan market intelligence untuk mengetahui kondisi pasar, penentuan produk dan tahap positioning. Kemudia itu disusul oleh pengembangan produk untuk standarisasi dan desain,” pungkas Gati. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*