Pelaksanaan Sertifikasi Profesi Koperasi di Jabar Rendah

Pipnews.co.id, Bandung 20 Oktober 2017

Kesadaran koperasi di Jawa Barat (Jabar) untuk melakukan sertifikasi profesi bagi sumber daya manusia (SDM) yang mengisi jajaran manajemen masih rendah. Jabar tertinggal dibandingkan Jakarta, Bali, Jawa Tengah (Jateng), dan Jawa Timur (Jatim).

Demikian diungkapkan Fasilitator Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Koperasi Jasa Keuangan (KJK), Eko Heri Putranto, pada Bimbingan Teknis Sertifikasi Manajer Koperasi, di Hotel Gumilang Sari, Jln. Dr. Setiabudhi, Bandung, Kamis, 19 Oktober 2017. Menurut dia, Bali berada di posisi teratas untuk kepemilikan sertifikat profesi bagi SDM manajemen koperasi.

“Pemahaman koperasi Jabar tentang pentingnya sertifikasi SDM masih rendah. Seharusnya, semua SDM yang berada di level manajemen, mulai dari manager, staf, hingga customer service, mengantongi sertifikat profesi,” kata Eko.

Koperasi sebagai lembaga intermediasi, menurut dia, mengelola dana anggota yang tidak sedikit, bahkan ada yang mencapai miliaran rupiah. Ia menilai, tentu akan sangat berisiko jika dikelola manajemen yang tidak bersertifikat dan tidak berkompeten.

“Dengan dikelola manajemen yang andal dan berkompeten, potensi koperasi untuk memiliki kinerja prima lebih besar. Sertifikasi juga dibutuhkan untuk meningkatkan daya saing SDM koperasi di era pasar bebas,” ujar Eko, seperti duktip dari Pikiran Rakyat (19/10/2017).

Ia mengakui, sejatinya bukan hanya koperasi di Jabar yang belum memahami pentingnya sertifikasi profesi bagi SDM manajemen. Secara nasional, SDM manajemen koperasi yang sudah tersertifikasi baru 1.000 orang.

Biaya sertifikasi Rp 6,5 Juta

Kepala Bidang Kelembagaan Koperasi Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Provinsi Jawa Barat, Elis Yatimah, juga mengatakan, baru koperasi besar di Jabar yang melakukan sertifikasi bagi SDM manajemennya. Sebagian besar belum melakukan sertifikasi.

Padahal, dikatakan Elis, sertifikasi bagi SDM manajemen koperasi sangat penting agar koperasi lebih sehat, lebih profesional, dan memiliki kinerja yang lebih baik. Dengan demikian, koperasi bisa bersaing dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya.

“Untuk mendorong kesadaran sertifikasi bagi manajemen koperasi, kami melakukan bimbingan teknis ini. Hasilnya, separuh dari peserta menyatakan siap melakukan sertifikasi secara swadana,” ujar Elis.

Total peserta bimbingan teknis tersebut sebanyak 100 orang dari 50 koperasi simpan pinjam (KSP) dan koperasi yang memiliki unit simpan pinjam (USP). KSP dan USP, menurut dia, memang menjadi prioritas untuk program sertifikasi profesi tersebut.

“Seharusnya memang semua koperasi melakukan sertifikasi,”ujarnya.

Biaya sertifikasi profesi bagi SDM manajemen koperasi, menurut Elis, sekitar Rp 6,5 juta per orang. Sertifikasi berlangsung selama enam hari. Bukan hanya mengikuti uji kompetensi, peserta juga akan mendapatkan penambahan wawasan dan pengetahuan tentang manajemen dan kesehatan koperasi.

Saat ini jumlah koperasi di Jabar sebanyak 25.933 dan 770 diantaranya adalah KSP. Secara nasional, jumlah KSP mencapai 7831 unit, koperasi kredit 930 unit dan KSP Syariah sebanyak 989 unit.(Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*