KPRI Rukun Maron Kolaps, Dana Simpanan Anggota Rp 3,95 M Tak Jelas

Pipnews.co.id, Maron 22 Oktober 2017

Ratusan anggota Koperasi Pegawai Republik Indonesia (KPRI) Rukun, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, kini tengah resah. Mereka mempertanyakan kepastian pengembalian dana simpanan anggota. Apalagi, hasil audit ditemukan selisih antara laporan keuangan koperasi dengan pengeluaran yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Tidak tanggung-tanggung, nilai selisihnya mencapai Rp 3,95 miliar.

Hal itu terungkap saat digelar Rapat Anggota Luar Biasa (RALB) yang digelar di di SD Negeri Maron Wetan 1, Rabu (18/10). Hadir dalam tersebut, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Dewan Koperasi Daerah (Dekopinda), dan Dinas Pendidikan.

Data yang dihimpun Jawa Pos Radar Bromo menyebutkan, KPRI Rukun berdiri pada tahun 1972 silam. Saat ini, anggota yang tersisa sekitar 122 orang. Sejak 2014 lalu, Dinas Koperasi dan Usaha Mikro setempat, melarang koperasi menarik dana simpanan anggota. Alasannya, koperasi tersebut dianggap kolaps. Hingga akhirnya, Dinkop Usaha Mikro memerintahkan untuk dilakukan audit dengan melibatkan Kantor Akuntan Publik (KAP) dari Malang.

Suryatin, salah satu anggota koperasi yang juga kepala SDN Gerongan, Maron, mengatakan, ia tidak bisa mencairkan dana simpanannya. Padahal, dana simpanan itu menjadi haknya. Bahkan, guru yang sudah pensiun pun, tidak dapat menarik dana simpanan di koperasi tersebut.

“Saya mulai dinas tahun 1980, tapi tidak dapat menarik simpanan itu. Saya mengeluarkan uang untuk simpanan koperasi tiap bulan Rp 250 ribu. Terakhir tahun 2014. Setelah itu, koperasi ini tidak boleh menarik dana simpanan lagi oleh dinas koperasi,” katanya, seperti dikutip dari Radar Bromo.

Hal serupa diungkapkan Feni Krismiati, kepala SDN Wonorejo 3 Maron. Ia menduga ada penyelewengan dana simpanan anggota. Karena, semua anggota koperasi tidak bisa mencairkan dana simpanannya. “Uang saya Rp 17 juta lebih, tidak bisa dicairkan. Kalau pinjam ke koperasi ini, bunganya 2 persen. Terus kemana uang simpanan anggota dan hasil simpan pinjam itu,”  ujarnya.

Kabid Kelembagaan pada Dinkop Usaha Mikro setempat, Setiadi Agus mengatakan, pihaknya masih menelusuri soal selisih duit yang mencapai miliaran tersebut. Karena itu, sejak Januari 2017, pihaknya membentuk tim kecil untuk melakukan inventarisasi transaksi keuangannya.

Saat disinggung soal hasil audit KAP? Setiadi tidak menampik adanya selisih keuangan di koperasi tersebut. Bahkan, transaksi keuangan koperasi tersebut memang susah ditelusuri. “Sekarang ini, kami adakan rapat anggota luar biasa untuk membicarakan bersama jalan keluarnya,” terangnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Koperasi Daerah (Dekopinda) Kabupaten Probolinggo Joko Rohani menilai, kolapsnya KPRI Rukun dikarenakan kesalahan pengurus. Pembukuan dan manajemen keuangan serta aset koperasi yang membawahi sekitar 27 lembaga itu tidak jelas.

Ia menduga, ada laporan keuangan koperasi fiktif. Harusnya pendapatan koperasi minus, diubah dan dilaporkan untung. “Pengurus koperasi kok berani, saat koperasi mengalami kerugian dilaporkan untung,” ujarnya,  disela RAT.

Soal utang piutang koperasi ke bank, Joko Rohani menjelaskan, koperasi ini menutup utang di bank yang satu dengan cara utang di bank lainnya. Namun, pengurus tak menghitung bunga utang sebagai beban keuangan koperasi, hingga kemudian terus merugi. “Saat pinjam ke bank dan melunasi, penalti bank tidak dihitung. Padahal, itu jelas tanggungan koperasi yang harus dibayar,” terangnya.

Sementara itu, Supargianto, ketua KPRI Rukun mengatakan, koperasi tersebut sejak 1996 terbelit utang miliaran. Ia sendiri menjabat sebagai ketua KPRI sejak 2011 lalu.

Saat itu utang koperasi tumpang tindih. Bahkan, banyak aset anggota ditarik di tengah jalan. Sampai akhirnya, uang koperasi yang diputar tidak ada lagi. Pria yang juga kepala SDN Gading Kulon 1 Banyuanyar ini menjelaskan, sejak 2011 itu, keuangan koperasi minus Rp 1 miliar lebih. “Waktu saya menjabat (sebagai ketua, Red), utang ke bank itu sudah Rp 3,7 miliar,” ujarnya. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*