Duta Koperasi Miing : Handycraft Indonesia Diapresiasi, Dapat Akses Pasar Luar Negeri

Pipnews.co.id, Jakarta 24 Oktober 2017

Kementerian Koperasi dan UKM memfasilitasi 13 UKM Indonesia untuk mengikuti Asia World Expo 2017 yang berlangsung di Hongkong 18-22 Oktober 2017. Berbagai kerajinan tangan unik (handycraft) hasil kreativitas UKM Indonesia turut dipasarkan dalam pameran tersebut.

Kerajinan tangan dan produk handmade Indonesia ini pun mendapat apresiasi dari Presiden Asia World Expo 2017 Mr. Cameron Walker sekaligus sebagai tuan rumah. Cameron yang berkesempatan mengunjungi langsung Paviliun Indonesia menyampaikan rasa ketertarikannya.

“Diapresiasi karena handycraft kita yang terbuat dari tangan, unik bagi mereka. Kan, bangsa Eropa harga jual kerajinan tangan jauh lebih mahal dari mesin,” kata Duta Koperasi Indonesia sekaligus pendamping, Dedi Gumelar alias Miing, Minggu (22/10/2017).

Dalam kesempatan perbincangan keduanya, Cameron berharap Indonesia harus terus mengembangkan kerajinan tangan unik dan produk handmade-nya. Dia berjanji akan memberikan akses pasar dan kesempatan lebih banyak bagi UKM Indonesia untuk mengikuti event pameran luar negeri.

“Saya jelaskan kepada dia (Cameron) bahwa kita menarik karena kita memang begitu multikultur sehingga kita kaya dengan kerajinan khas daerah masing-masing,” tutur Miing, seperti dilansir Warta Ekonomi.co.id.

Asia World Expo 2017 merupakan pameran terbesar yang dihadiri pelaku usaha dari berbagai negara. Indonesia mengirimkan 13 pelaku UKM dengan dipimpin oleh Duta Koperasi Dedi Gumelar, serta perwakilan dari Deputi bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM.

Dalam pamaren yang berlangsung selama 5 (lima) hari itu, UKM Indonesia memamerkan karya kerajinan tangan seperti kerajinan yang terbuat dari bahan kayu, perak, anyaman tikar, maupun kerang laut. Sementara peserta dari negara lain umumnya menampilkan produk pabrikan (industri).

Miing sangat berharap Kemenkop dan UKM perlu terus membimbing UKM Indonesia supaya berorientasi ekspor. Hal itu dilakukan dengan cara memberi pelatihan transaksi ekspor, pembekalan pengetahuan ekspor, maupun membuka akses permodalan untuk meningkatkan kapasitas produksi.

“Pemerintah punya kewajiban untuk meningkatkan kapasitas produksi, bimbing mereka ke orientasi ekspor secara sikap mental, kemudian packaging,” pungkasnya. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*