Dekopin : Koperasi Indonesia Mempunyai Tantangan Berat Disemua Sektor Ekonomi

Pipnews.co.id, Yogyakarta 28 Oktober 2017

Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) menyadari, bahwa Koperasi Indonesia saat ini masih mempunyai tantangan yang berat. Persaingan dan globalisasi telah terbuka dihampir semua sektor perekonomian. Sementara saat ini koperasi kita justru “besar” disisi kuantitas, namun “kecil” disisi kualitas.

Pelaksana Harian (Plh) Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) Mayjen (Purn) Nachrowi Ramli mengatakan hal tersebut dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-II Dekopin Tahun 2017 di Hotel Sahid Jaya, Yogyakarta (24/10/2017).

Hadir dalam acara Rakernas (24-26 Oktober) yang dibuka Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga Pimpinan Paripurna Dekopin, Badan Pengawas, Majelis Pakar dan Dewan Koperasi Wilayah (Dekopinwil) dari 34 Provinsi. Di sana juga tampak Sekda DI Yogyakarta Gatot Saptadi (mewakili gubernur) dan Kepala Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi Cristina Lucy Irawati.

Dalam catatan Dekopin lanjut Nachrowi, hingga tahun 2017 ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan besar yang membutuhkan keberanian. komitmen dan konsistensi dalam membangun koperasi.  “Ada tiga catatan utama terkait pekerjaan besar tersebut,” ujar Nachrowi.

Kata dia, yang pertama koperasi belum mampu memberikan kemanfaatan kepada pemiliknya, yaitu anggota. Hal ini dikarenakan skala ekonomi, permodalan, sumber daya manusia dan kultur pada organisasi belum mampu menjadikan koperasi sebagai kekuatan ekonomi rakayat yang terkonsolidasi-dengan sistem manajemen yang kuat dan modern.

Kedua, program revitalisasi yang dicanangkan beberapa tahun ini belum memberikan dampak perubahan koperasi secara mendasar. “Secara jujur kita harus mengakui, saat ini makin menyebar koperasi yang berwatak rentenir, dengan cabang-cabang yang menggurita,” tandas Nachrowi.

Sementara yang ketiga lanjut dia, kita belum mampu menyusun model/metode yang mudah dan murah untuk melakukan revitalisasi koperasi secara sejati. Juga belum mampu melakukan pembenahan secara gradual dalam pengembangan usaha yang bergerak secara terintegrasi, sehingga mampu memenuhi segala kebutuhan ekonomi anggotanya.

“Insan koperasi masih terjebak pada perebutan usaha parsial dengan organisasi berskala kecil,” tegas Nachrowi Ramli, yang juga Wakil Ketua Umum Dekopin Bidang Advokasi, Sosialissi dan  Hubungan Luar Negeri.

Menurut Nachrowi, mengukur keberhasilan suatu koperasi tidaklah semata-mata tingginya sumbangan PDB. Tetapi yang utama adalah bagaimana koperasi dapat mensejahterakan anggota dan masyarakat. Karena kesokoguruan koperasi pada dasarnya bagaimana koperasi tersebut memberi nilai tambah sosial-ekonomi pada masyarakat yang secara kolektif berkoperasi. Dengan kesejahteraannya anggota dan masyarakat, secara tidak langsung akan berdampak pada PDB.

“Oleh karena itu, adalah kewajiban kita semua untuk berupaya sekuat mungkin agar koperasi Indonesia melaksanakan usahanya melandaskan diri berdasarkan nilai dan prinsip koperasi,” tutur Nacrowi menutup sambutannya. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*