Ketua Gakoptindo Aip Syaifuddin: Swasembada Kedelai 2020 Sulit Terealisasi

Pipnews.co.id, Jakarta 3 November 2017

Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo), Aip Syaifuddin berpendapat, bahwa swasembada kedelai Indonesia pada tahun 2020 akan sulit terealisasi.

Hal tersebut dikatakan Aip Syaifuddin untuk menanggapi penjelasan dari Menteri Pertanian Amran Sulaiman beberapa waktu lalu, yang mengatakan Indonesia akan mengalami swasembada kedelai pada 2020. “Hemat saya, hal itu sulit diwujudkan,” ujar Aip Syaifuddm kepada Pipnews.co.id, di sela Rakernas Dekopin di Yogyakarta pekan lalu.

Kata dia, salah satu alasan yang menyebabkan hal sulit terealisasi, lantaran petani enggan bertanam kedelai karena keuntungan yang didapatkan lebih kecil dibandingkan komoditas pangan lain.

“Kalau tanah satu hektare (ha) ditanami kedelai, hasilnya kurang dari Rp 12 juta setahun. Sementara padi, dari satu hektare minimal sekali tanam dapat 4 ton dengan harga Rp 7.500 per kg. Padahal masa tanamnya sama 100 hari,” imbuhnya lagi..

Meski begitu, Aip juga mengatakan swasembada kedelai masih mungkin dilakukan, asalkan terdapat pergerakan dari pemerintah, dan tidak hanya mengandalkan petani. “Kalau boleh pemerintah sendiri yang mengerjakan, di mana mereka harus mencari lahan, mengelola, menanam, dan lain-lain. Kalau petani yang mengerjakan, jangan harap bisa swasembada kedelai,” ungkap Aip.

Dia juga menyebutkan, saat ini ketersediaan kedelai untuk memenuhi kebutuhan industri tergolong terbatas. Aip bilang, kebutuhan kedelai nasional sebanyak 2,7 juta ton setiap tahunnya. Dari jumlah tersebut hanya 700.000 ton yang merupakan kedelai lokal. Kedelai lokal juga kebanyakan digunakan untuk kebutuhan industri minuman berbahan kedelai.

Sementara itu, kebutuhan kedelai industri makanan olahan tahu dan tempe sebanyak 1,9 juta ton per tahunnya. Kebutuhan tersebut lebih banyak dipenuhi dari kedelai impor meskipun semua produk kedelai impor menggunakan rekayasa genetik (GMO).

“Kalau kedelai impor selalu ada stoknya. Di pasaran ada, dan harganya stabil dan murah. Harganya kira-kira Rp 6.500 per kg. Kalau kedelai lokal peraturan dari pemerintah sendiri sudah Rp 8.500 per kg,” jelas Aip. (Yan)

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*