GLOBAL CONFERENCE AND GENERAL ASSEMBLY OF ICA DI KUALALUMPUR MALAYSIA

Pipnews.co.id, Kualalumpur 23 November 2017

International Cooperative Alliance (ICA), atau organisasi gerakan koperasi dunia telah menyelenggarakan konferensi koperasi dunia di Kualalumpur, Malaysia pada 14-17 November 2017 dengan judul “Global Conference and General Assemblay of ICA”.

Tiga orang Delegasi Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin)  ikut hadir sebagai peserta dalam acara ini, yaitu Plh Ketua Umum Dekopin Mayjen TNI (Purn) Nachrowi Ramli, Wakil Ketua Umum Dekopin Moh Sukri, Ketua Komite Hubungan Luar Negeri Dekopin Insanial Burhamzah dan Direktur Hubungan Luar Negeri Dekopin Ilham Nasai. Berikut hasil laporan konferensi tersebut , yang ditulis oleh Insanial Burhamzah.

Thema utama dalam pertemuan tahunan kali ini untuk mengevaluasi cara kita _*menata persamaan dan bagaimana membangun yang lebih efektif guna dapat mengakhiri kemiskinan, dan peduli terhadap lingkungan, dan terus mendorong keberhasilan Koperasi melalui bisnis yang bersih.*_ Walaupun, gerakan Koperasi dunia sudah mempekerjakan hampir 10% dari populasi dunia. Berdasarkan data dari 156 negara, data statistik menunjukkan bahwa pekerjaan di dalam atau di dalam lingkup koperasi setidaknya menyangkut 279,4 juta orang di seluruh dunia (9,46% dari jumlah penduduk yang bekerja di dunia). Inilah beberapa hasil studi CICOPA, organisasi internasional koperasi industri dan layanan, telah merilisnya, ini merupakan laporan global kedua mengenai Koperasi dan Ketenagakerjaan.menciptakan 250 juta lapangan pekerjaan.

Yang membuat Pertemuan ICA yang didirikan sejak 1895 itu adalah lebih istimewa adalah karena bertepatan dengan dilakukannya pergantian Presiden dan memilih 12 orang anggota Global Board of ICA.

*Monique F. Leroux,* selaku Presiden ICA yang berasal dari Canada baru saja digantikan oleh *Ariel Guarco* yang bersal dari Argentina. Pesan Monique antara lain agar ICA dapat memberikan pelayanan yang lebih baik kepada gerakan Koperasi anggotanyam agar Koperasi dapat meningkarkan perannya dalam penyelesaian issu global khususnya pada pengentasan kemiskinan dan lingkungan hidup.

Ariel Guarco yang baru saja terpilih sebagai Presiden ICA dalam sambutan singkatnya mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah memberikan kepercayaan padanya. Dan berjanji untuk meningkatkan kinerja ICA untuk dapat meningkatkan peran ICA dalam penyesaian issu global. Dan pada kesempatan itu, Charles Gauld yang selama 7 tahun lalu mendedikasikan diri sebagai Managing Direktur ICA mengumumkan akan mengakhiri tugas beliau salepas acara Global Conference and General Assembly of ICA 2017 di KL. Malaysia.

Disepakati bahwa individual Co-operators, telah memiliki karakter yang mengkombinasikan antara pemikiran ekonomi, usaha untuk efisiensi, fleksibilitas bersama, rasa partisipasi, lingkungan tipe keluarga, kebanggaan dan reputasi, rasa identitas yang kuat, dan fokus pada nilai. Campuran karakteristik ini menjadi patron Koperasi, sehingga mampu mempertahankan ekonomi yang berkesinambungan.

Namun, para pembicara di Global Conference of ICA mengakui dan sepakat bahwa ICA masih *mencari solusi* bagaimana membangunan kebersamaan yang lebih intens dan lebih produktif antara sesama anggota Koperasi guna terbangun synergy antara Koperasi yang lebih baik di tingkat regional maupun global.

Sesi konferensi *mengenai data* menyoroti peluang yang ditawarkannya kepada rekan kerja dan anggotanya – dan isu etika yang menyertainya.

*Doris Albisser*, wakil presiden MIDATA.coop, mengatakan bahwa organisasinya menawarkan platform milik negara, nirlaba, open source, aman dimana data kesehatan dapat digunakan untuk penelitian. Dia menekankan: _”Kami tidak mengizinkan data yang digunakan untuk penelitian untu dijual. Tujuan jangka panjangnya adalah menggunakan data untuk mempersonalisasi obatobatan.”_

*Jimmy Lin*, dari _First Credit Union Amerika Serikat*, mengatakan bahwa sangat penting untuk memastikan perlindungan terbaru dilakukan. “Kami ingin mengatakan bahwa kami memperlakukan data anggota seperti kami memperlakukan anggotanya sendiri.

” Data memiliki implikasi besar dalam pertanian, di mana ia dapat membantu produsen mendapatkan harga dan hasil panen terbaik.

*Andrew Crane*, CEO _Co-op CBH Australia_, mengatakan ada masalah siapa yang memiliki data, dengan pembuat peralatan pemanen hi-tech otomatis dapat memili informasi yang dikumpulkannya. “Kami bilang itu petani yang memiliki datanya,” tambahnya.

Sementara itu, Brasil telah melihat pembentukan *Moeda*, kriptografi global pertama di dunia, yang menggunakan blockchain untuk membantu orang mengakses keuangan.

CEO *Taynaah Reis* berkata: “Sangat penting kita bekerja dengan orang yang menyediakan data untuk mengetahui kebutuhan mereka, dan mengikuti mereka, membantu mereka untuk tumbuh.

“Dengan membawa orang bersama dalam sistem ko-op di mana mereka merasa aman untuk berbagi informasi dan mendapat bimbingan, mereka dapat belajar menghasilkan keuntungan dengan suatu tujuan.”

*PEMBICARA UTAMA*

Ada 2 (dua) pembicara utama dalam Global Conference of ICA, antara lain Gro Harlem Brundtland dan Linda Yueh.

Linda Yueh, selaku pembicara utama pada pembukaan keynote speech dipan delegasi Cooperatives dengan tema: _Putting people at the centre of development, the Alliance’s Global Conference, which will take place in Kuala Lumpur, Malaysia, on 14-16 November 2017.

Otomatisasi dan globalisasi memberi tekanan pada ekonomi global meskipun terjadi pertumbuhan di negara-negara berkembang – namun model co-op menawarkan jawaban, kata ekonom Linda Yueh.

Dalam pidatonya, Prof Yueh mengatakan AS telah mengalami 40 tahun stagnasi upah karena otomasi.

Jawabannya, katanya adalah menyeimbangkan ekonomi dari manufaktur ke layanan – yang telah laksanakan di China. Dan koperasi sangat sesuai untuk proses penyeimbangan ini.

“Model co-op memiliki kelebihan dalam hal inovasi, karena inovasi berasal dari manusia, dan investasi koperasi ada pada anggota dan pelanggan mereka,” katanya kepada delegasi.

“Model kooperatif ini sudah ada sejak lama dan sangat sesuai dengan era ini – bagaimana Anda menghasilkan gagasan untuk apa yang perlu Anda sampaikan? Banyak perusahaan berjuang karena mereka tidak berhubungan.

” Dia menambahkan: “Kita perlu memikirkan lebih jauh tentang bisnis yang berakar pada masyarakat sipil – kolektif, koperasi, yang mengenal komunitas mereka, yang dapat mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

” Prof Yueh meminta model pembangunan ekonomi “bottom-up”, menambahkan: “Kita perlu reorientasi dalam memikirkan pertumbuhan, untuk beralih dari memikirkan pertumbuhan dengan kualitas pertumbuhan.

” Ini sesuai dengan model co-op dengan baik, katanya, yang berarti mereka memiliki peran dalam memenuhi Tujuan PBB untuk Pembangunan Berkelanjutan.

“Ada 767 juta orang miskin di dunia,” katanya. “Pendekatan baru perlu dibawa untuk mengakhiri kemiskinan, terutama di Afrika dan Asia Selatan, dan ini adalah peran koalisi dapat dimainkan.”

*Gro Harlem Brundtland* berbicara pada *Closing Plenary*di Global Conference and General Assembly of ICA, adalah wanita pertama yang pernah menjadi Perdana Menteri di Norway, dan Deputy Chair of The Elders. Pesannya dalam Global Conference antara lain Gerakan kooperatif dapat memainkan peran kunci di sejumlah bidang penting yang perlu ditangani untuk mencapai Sasaran Pembangunan Berkelanjutan Perserikatan Bangsa-Bangsa (SDG). Sebab, koperasi telah menjadi “kekuatan vital untuk kebaikan”.

Dr Brundtland juga dikenal sebagai Ibu berkelanjutan. Di bawah bimbingannya pada tahun 1987, Komisi Lingkungan dan Pembangunan Dunia menghasilkan laporan penting Masa Depan Kita, juga dikenal sebagai Laporan Brundtland. Dokumen tersebut menjadi standard konsep pembangunan berkelanjutan saat ini. Dan Dr Brundtland mengatakan nilai-nilai koperasi adalah bagian dari pendidikannya di Norwegia.

Melihat ke masa depan, dia mengatakan bahwa dia “optimis” namun sektor bisnis harus fokus pada penghormatan terhadap hak asasi manusia, dan menangani ketidaksetaraan di dalam budaya perusahaan dan berkomitmen untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Koperasi sudah membangun komitmen dan berjanji pada SDG melalui platform Coopsfor2030 Alliance.Demikian “Bisnis pada umumnya, dan juga sektor koperasi secara khusus telah lama menjadi kekuatan yang penciptaan kekayaan. Namun, hari ini, mereka juga bisa menjadi kekuatan yang jauh lebih besar, yakni “kekuatan untuk keadilan dan perdamaian. Dengan tema: _”Bekerja dengan dan untuk masyarakat, mereka dapat membantu memenuhi visi pembangunan berkelanjutan yang kami luncurkan tiga dekade yang lalu,”_ katanya.

*PERTEMUAN ACO (Asean Co-operative Organization), Tanggal 18-19 November 2017*

Di hari perama Sabtu tanggal 18 November 2017, Pertemuan ACO dihadiri oleh Dato’ Haji ABDUL FATTAH Haji Abdullah  (Presiden Angkasa), sekaligus sebagai Host didampingi Dato Hanafiah, dan sejumlah delegasi Malaysia lainnya. Delegasi Indonesia dipimpin oleh Bapak Nachrowi Ramli, didampingi oleh Insanial Burhamzah, Ilham Nasai dan Efendi, dan delegasi Philippines dan Cambodia.

Pada kesempatan itu kami diminta memberikan tanggapan atas berbagai issu global baik yang terkait dengan Asean maupun terhadap issu yang disampaikan pada Global Conference of ICA di tempat yang sama. Kami menawarkan konsep kerjasama terstruktur, stistimatis, dan massive melalui Coop2Coop Trade. Yang langsung disetujui oleh Dato Fattah dan kami diminta untuk segera di Presentasikan pada acara ACO pada hari Minggu tanggal 19 November 2017. Namun, karena kami belum dijadwalkan, sementara acara pada keesokan harinya sudah ada *Tan Sri Rafidah Aziz* mantan Menteri Perdagangan Malaysia dan pembicara penting lainnya yang sudah diagendakan, maka kami dijadwalkan pada session terakhir. Namun, karena pada jam yang sama kami sudah harus berangkat ke Airport. Sehingga kami janji akan presentasikan konsep Coop2Coop pada session khusus melalui webinar.

Tema diskusi ACO adalah *“To bring the Co-operative in the Next Imperative”* adalah sangat menantang khsusnya untuk Indonesia. Dimana peran Koperasi masih menjadi konsep yang nyaris terhapuskan oleh UUD kita yang baru.

*KESIMPULANDAN REKOMENDASI*

Esensi makna pertemuan ICA 2017 di KL sarat dengan pesan yang mengingatkan kita yang telah berada _era digital_sehingga kita ditantang selaku masyarakat global untuk _berfikir cepat, bertindak cepat namun tetap penuh kearifan terhadap nilai kemanusiaan dan lingkungan._ Bahkan Tan Sri Rafida Aziz mengatakan kita sedang berada pada *“Klik Generation”* yaitu generasi yang sangat dimanjakan oleh _teknologi informasi_ sebagai life style dalam semua aspek kehidupan kita.

Kita patut menjaga moral nasionalitas kita, sebab kita sebagai bangsa memiliki sejarah panjang sampai terbentuknya sebuah bangsa yang berdaulat. Tetapi diatas dari nasionalitas itu adalah nilai kemanusiaan yang harus kita kedepankan bersama secara universal agar keberadaan kita sebagai bangsa tridak terdistorsi oleh berbagai alasan negara aggressor, baik secara militer maupun melalui perang symetris yang mempraktekkan *devide et impera* pada negara lainnya.

Keadilan ekonomi Global sangat sulit terwujud jika kerjasama regional dan global antara Koperasi masih belum terwujud secara kongkrit dalam tataran bisnis yang memudahkan semua pihak untuk akses pada Modal, Teknology dan Pasar global pula.

Oleh karena itu diperlukan sebuah kerjasama yang sistemetis, terstruktur dan massive antara koperasi global. Jawaban kami adalah *Coop2Coop Trade* sebagai solusi totalnya.

*Rekomendasi*kami adalah :

  1. DEKOPIN segera mengambil inisiatif sebagai host Webinar antara Koperasi Global dengan mengedepankan informasi akses pada :
  2. *Modal*, dengan mengundang lembaga keuangan local dan international,
  3. *Pasar*, dengan mengundang berbagai prosuden komoditi local dan global
  4. *Teknologi*, dengan mengundang para pakar teknologi pertanian, perikanan
  5. Bekerjasama dengan Coop2Coop Trade, sebuah konsep yang memadukan aplikasi digital sebagai market place global, Payment Gateway berbasis Blockchain dan system komunikasi multi fungsi, berbasis internet. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*