Di era Globalisasi Koperasi Harus Modern dan Bisa Merambah ke Industri Besar

Pipnews.co.id, Jakarta 20 Januari 2018

Diera digitalisasi Koperasi harus modern dan dipermudah untuk masuk berusaha merambah ke sektor industri besar. Untuk itu, secara kelembagaan dan regulasi tentang koperasi harus dilakukan penyesuaian dengan perkembangan zaman.

Rektor Institut Manajemen Koperasi Indonesia (Ikopin) Burhanuddin Abdullah mengatakan hal tersebut dalam acara pelantikan dan mengukuhkan kepengurusan DPP Ikatan Keluarga Alumni Ikopin (IKA-Ikopin) periode 2017-2021 di Auditorium Kementerian Koperasi dan UKM RI, Jakarta, Kamis, 18 Januari 2018.

Agar koperasi bisa menjadi modern di era digitalisasi lanjut Burhanuddin, maka negara harus hadir untuk menyokongnya. Pada era digitalisasi ini, pemerintah harus menyiapkan regulasi agar usaha diarahkan berbadan koperasi.

Sementara itu, Ketua Umum IKA Ikopin Adri Istambul Lingga gayo mengatakan dilihat dari sisi kelembagaan, Kementerian Koperasi memang harus berdiri sendiri dan memisahkan dengan UMKM agar fokus untuk membesarkan koperasi.

“Untuk itu, IKA Ikopin siap mengajukan judicial review atas Undang-Undang Kementerian Negara untuk mempercepat revolusi koperasi,” kata Adri, yang pada Desember lalu terpilih menjadi orang nomor satu di IKA-Ikopin.

Selain itu, Adri meminta pemerintah untuk inisiasi adanya koperasi pangan, perumahan, dan transportasi. Keberadaan koperasi di sektor tersebut akan mendongkrak daya beli masyarakat akan kebutuhan pangan, perumahan, dan transportasi yang terjangkau.

Dia pun mendesak agar koperasi wajib menguasai paling tidak tiga sektor strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak, yakni pangan, papan, dan kesehatan. Negara harus turut campur tangan menjaga kestabilan pasokan melalui penguasaan atas sektor yang sangat strategis ini. Penyediaan kebutuhan pangan tidak boleh diserahkan kepada orang per orang atau swasta lewat mekanisme pasar, tetapi harus diberikan hak pengelolaannya kepada bangun usaha koperasi.

Menurut dia, Bulog seharusnya berbadan hukum koperasi sehingga koperasi-koperasi pertanian bisa menjadi buffer (penyangga) dan pengatur, baik dari sisi penyaluran, pengadaan, maupun aktivitas perdagangan (distribusi) sehingga memutuskan mata rantai para spekulan dan pemburu rente. Bila perlu koperasi pertanian diberi tanggungjawab melakukan ekspor-impor.

“Jangan seperti sekarang, beras dari petani kita melimpah ruah, tapi harga di pasaran tinggi. Malah sudah impor, tapi harga beras tetap tinggi. Ini jelas ada aksi para spekulan yang bermain. Database pertanian kita juga harus segera dimutakhirkan,” ujar Adri, seperti dilansir Pikiran Rakyat.

Dengan memberdayakan badan hukum yang berjiwa koperasi, menurut dia, akan  mempersempit mata rantai pangan dari petani ke masyarakat sebagai konsumen sehingga harga pangan bisa lebih murah karena meminimalisasi permainan tengkulak. Oleh karena itu, Indonesia butuh banyak koperasi pangan. Belajar dari pengalaman di era Orde Baru yang memberdayakan koperasi untuk mendukung Bulog, saat itu pasokan dan harga pangan khususnya beras lebih murah dan terjangkau masyarakat.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Agus Muharam menyatakan, IKA Ikopin harus bisa menjadi jembatan dunia pendidikan dan masyarakat. Di samping itu, IKA Ikoin melakukan link and match alumni dan dunia usaha sehingga tidak ada lagi lulusan Ikopin yang menganggur.

Terkait revisi UU Kementerian negara yang akan direvisi tahun 2019, Agus mendesak agar IKA Ikopin berani mengajukan judicial review agar Kementerian Koperasi berdiri sendiri, terpisah dari UKM. Pasalnya, koperasi sulit besar jika kementeriannya masih digabungkan dengan sektor UMKM.

“Contohnya, koperasi mau bikin usaha pertambangan harus ke Kementerian ESDM, koperasi mau usaha beras harus ke Kemendag. Harusnya cukup ditangani Kementerian Koperasi,” ujarnya.

Pada acara pelantikan dan sekaligus Rakernas IKA Ikopin, juga dilakukan  MoU antara IKA Ikopin dan Bank BNI terkait kerja sama untuk penerbitan member card anggota alumni IKA Ikopin, pendampingan program CSR BNI untuk pemberdayaan koperasi dan UKM, serta kesiapan alumni IKA Ikopin menjadi agen laku pandai Bank BNI. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*