Salak Banjar Butuh Solusi Pasar

Pipnews.co.id, Banjarnegara – Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah juga sudah lama dikenal sebagai penghasil salak. Ciri khas salak Banjar ini bentuknya lebih besar dari salah pondoh yang sudah mashur dan tumbuh di daerah Jogja. Memiliki rasa agak beda dengan salak pondoh, manis dan lebih lunak dagingnya. Selain itu salak banjarnegara memiliki ukuran yang besar dan berdaging total. Warna daging buahnya putih kekuningan. Sayangnya, untuk musim panen kali ini harganya jatuh.

Dengan kondisi tersebut dirasakan sangat memberatkan bagi kelangsungan hidup petaninya karena tidak dapat menikmati harga bagus. Demikian seperti diulas salah satu pegiat sosial media (sosmed) Sagiyo Arsadiwirya yang merasa prihatin akan komoditas dari daerahnya itu yang kini sedang muram.

Menurutnya populasi pohon salak kini jumlahnya makin banyak namun secara kasat mata produksinya turun. Pada musim panen 2015 dengan jumlah pohon salak sebanyak 15,6 juta batang, mampu menghasilkan buah segar sekitar 3.600 ton, tetapi pada periode sama tahun 2016 dengan jumlah lebih banyak yakni sebanyak 16,4 juta batang, tetapi hasilnya justru menurun manjadi 2.300 ton.

Sudah begitu sambung dia makin miris karena harga salak ikut merosot. Pria asal Kalikudi, Cilacap ini menambahkan bahwa harga salak yang semula Rp 5000 perkilo menjadi Rp 2000 per kilo. “Lengkap sudah penderitaan petani. Fenomenanya persis dengan nasib tragis ketela pohon, beberapa tahun lalu. Ketika semula perkilo dihargai Rp 2000 anjlok menjadi Rp 200 saja. Otomatis menghadapi kondisi tersebut membuat asa petani seolah tumbang, karena menderita kerugian, biaya produksi tidak tertutup oleh hasil panen,” ujarnya.

Untuk itu ia mengharapkan ada kepedulian, baik dari pihak pemerintah daerah atau pihak lain ikut mengangkat kesulitan yang dialami petani. Agar harga salak tidak sampai terpuruk lagi. Mengingat komoditas ini sungguh memiliki manfaat yang besar dan dapat dikonsumsi menjadi bervariasi olahan makanan maupun minuman.

Tanaman salak merupakan buah bersisik (snake fruit) plasma nutfah asli hutan Indonesia. Tumbuh baik di ketinggian sekitar 50 meter hingga 800 meter dpl dan bersuhu sekitar 20°C-30°C. Referensi gizi menyebut, salak kaya khasiat untuk kesehatan. Mengandung energi, protein, karbohidrat, lemak, kalsium, fosfor, zat besi, vitamin C, serat, beberapa gram vitamin B dan mineral.

Kandungan betakaroten pada salak dapat menjaga kesehatan mata kita. Bahkan kandungannya sampai 5,5 kali lebih besar dari buah mangga dan 5 kali lebih besar dari semangka, wortel, tomat dan mangga.

Salak juga mengandung tanin yang telah banyak dikenal sebagai bahan pengobatan diare. Senyawanya mampu mengusir bakteri penyebab diare, sehingga gejala sakitnya dapat dihentikan. Selain itu kandungan fitonutrien pada salak ternyata sangat bermanfaat bagi yang sedang menjalankan program diet. Kandungan lain terdapat 2 mg Vitamin C yang dapat membantu memperlancar pencernaan. Itu artinya kita tidak perlu makanan mahal atau mewah untuk program diet.

Di sisi lain, buah salak sesuai hasil penelitian mampu meningkatkan kinerja otak dengan membawa kandungan pottasium dan pektin, yang dapat menutrisi beberapa syaraf serta mampu memperlancar dan mengendalikan peredaran darah menuju otak. Jadi, mengkonsumsi buah salak dapat membuat otak lebih cerdas.

Melihat kayanya manfaat kandungan tersebut, sesungguhnya kebun salak di Banjarnegara bisa dikembangkan menjadi industri dari hulu hingga hilir. Dengan membranding dan mengemasnya menjadi produk yang cantik, akan mendatangkan nilai tambah yang besar buat petani. Salak bisa diolah menjadi kripik, manisan dan asinan. Selain itu masih dapat dikembangkan sebagai obat alami yang sangat berkhasiat. Bahkan bijinya pun dapat dibikin sebagai kopi untuk dinikmati kesegarannya.

Eka Dyah WP dan Widjonarko Peneliti dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang pernah meneliti industri rumahan pengolahan salak di seputar Kecamatan Madukara. Kesimpulannya, produk turunan salak itu mampu menghasilkan nilai tambah pada pendapatan petani sebesar 17-28% per kuintal salak yang diolah maksimal.

Untuk itu kedua peneliti itu menyarankan beberapa rumusan strategi, antara lain meningkatkan produksi dan kualitas salak, pembentukan lembaga riset, inovasi produk turunan salak, penguatan branding dan promosi penjualan, penguatan kapasitas lembaga penunjang, pengembangan teknologi, mobilisasi sumber dana, membangun forum kemitraan dengan pemda lain, serta pembentukan klaster industri salak sebagai strategi pendukung untuk menciptakan kegiatan ekonomi yang berkelanjutan.

Hasil rumusan itu kata Sagiyo bisa diwujudkan asal ada kemauan dan dukungan nyata. Ia mencontoh buah kelapa yang memiliki produk hilir yang beraneka. Menurutnya dari sebiji kelapa, saat ini, kita bisa menikmati dalam produk olahan lain, seperti minyak goreng, tepung kelapa (decicated coconut/DCN), santan, nata de coco, kelapa muda (dikalengkan), kue kelapa (coconut cake), ataupun dikonsumsi segar sebagai buah (kelapa muda), dan produk-produk makanan lainnya. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*