Ekspor Telur Tetas Ayam ke Myanmar, Bukti Indonesia Bisa Bersaing di Pasar International

Pipnews.co.id, Tangerang 6 Mei 2018 – Siapa bilang produk telur tetas dari Indonesia tidak laku di luar negeri. Buktinya, produsen telur ayam PT. ULU 101 baru saja meluncurkan ekspor telur perdana ke negera Myammar. Secara simbolis, ekspor perdana ini digelar pekan lalu di komplek pergudangan Cargo 510 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.

Hadir dalam acara ini Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementerian Pertanian I Ketut Diarmita dan Duta Besar Indonesia untuk Myammar Ito Sumardi. Di sana juga tampak Petinggi PT ULU 101 Saahudin.

I Ketut Diarmita mengatakan, untuk urusan ekspor-impor telur ayam bukalah perkara mudah. Untuk bisa ekspor harus lebih dulu mendapatkan persetujuan dari negara calon pengimpor, karena kualitas telur tetas ayam yang akan diekspor harus sesuai dengan yang menjadi persyaratan Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE). Menurutnya, aspek status kesehatan hewan menjadi persyaratan utama, dan menjadi salah satu daya saing dalam perdagangan internasional.

Seperti diketahui lanjut dia, sejak merebaknya penyakit AI (Avian Influenza) di Indonesia pada 2004, beberapa negara telah menutup impor produk unggas dari Indonesia. Untuk itu, Kementan melalui Ditjen PKH telah mengambil langkah kebijakan dengan melakukan pembebasan melalui kompartemen, zona, pulau atau provinsi dengan mengacu pada Peraturan Menteri Pertanian RI No. 28 Tahun 2008 tentang Penataan Kompartementalisasi dan Zonasi.

Ia menyebutkan, tahun ini Kementan telah mengeluarkan sebanyak 77 kompartmen bebas AI untuk Breeding Farm aktif, yaitu: sebanyak 6 perusahaan GPS (Grand Parent Stock, 51 Perusahaan PS (Parent Stock), 15 perusahaan FS (Final Stock), 5 perusahaan Hatchery di 9 provinsi, diantaranya Jawa Barat (43), Lampung (13), Jawa Timur (9), Banten (3), Jawa Tengah (3), Bali (2), NTT (2), Yogyakarta (1) dan Kalimantan Barat (1).

PT. ULU merupakan salah satu Unit Usaha yang telah menerapkannya, sehingga telah memperoleh sertifikat kompartemen bebas penyakit AI (Avian Influenza) dan Sertifikat Veteriner dari Pemerintah. Saat ini Kementerian Pertanian terus mendorong pelaku usaha perunggasan untuk memperbaiki pola pemeliharaan unggasnya, sehingga akan mampu melakukan ekspor dan bersaing diperdagangan global.

Sejumlah kebijakan Kementerian Pertanian lainnya yang dapat mendorong peningkatan kualitas produk peternakan yang akan diekspor selain sistem kompartemen, yaitu: penerapan Good Breeding Practices, Prinsip-Prinsip Kesejahteraan Hewan (Animal Welfare), dan Sertifikasi Veteriner.

“Saya memberikan apresiasi kepada PT. ULU yang berkomitmen dalam pengembangan teknologi persilangan ayam lokal Indonesia dalam upaya budidaya dan pelestarian, serta pemanfaatan sumber daya genetik ayam lokal, sehingga mampu menghasilkan produk berkualitas yang berhasil menembus pasar ekspor,” kata I Ketut.

Mengutip siaran pers I Ketut menjelaskan, sejak tahun 2015 Indonesia telah melakukan ekspor telur tetas ayam dengan jenis ayam ras ke Myanmar, dan hingga Maret 2018 jumlah komulatif yang sudah diekspor sebanyak 10.482.792 butir dengan nilai Rp. 109,60 miliar. Berdasarkan data BPS tahun 2017, volume ekspor telur tetas ayam ras terus meningkat mencapai 27,39% dan nilai ekspor meningkat sebesar 26,76% dibanding tahun sebelumnya. Adapun negara tujuan ekspor meliputi Myanmar, Papua Nugini, Vietnam, Malaysia, dan lain-lain.

“Ekspor telur tetas ini adalah bukti Indonesia bisa ikut bersaing dengan negara lain dalam tehnologi unggas yang menghasilkan final stock ayam pedaging dengan kualitas premium dan sesuai dengan persyaratan internasional. Artinya Indonesia telah dapat membuktikan dengan sistem kompartemen bebas AI yang diakui negara lain,” tandasnya.

Ekspor sub sektor peternakan sangat fantastis, Berdasarkan data dari BPS, pencapaian nilai ekspor komoditas subsektor peternakan 2017 mengalami peningkatan sebesar 14,85% dibandingkan 2016. Nilai ekspor $623,9 juta atau setara dengan Rp8,5 triliyun.

Kontribusi volume ekspor 2017 untuk subsektor peternakan merupakan yang terbesar pada kelompok hasil ternak, yakni sebesar 64,07%. Salah satunya adalah daging ayam. Negara tujuan ekspor subsektor peternakan terbanyak adalah Hongkong (23,10%) dan China (21,96%). Sejauh ini, secara keseluruhan peternakan Indonesia sudah mampu menembus lebih dari 110 negara.

I Ketut berharap, dengan mulai terbukanya akses pasar beberapa negara, semua pelaku usaha, termasuk PT. ULU untuk terus dapat meningkatkan kuantitas maupun kualitas produk siap ekspor, sehingga produk peternakan Indonesia lebih mampu bersaing di perdagangan internasional. Pelaku usaha juga harus punya kemampuan membaca peluang dunia, salah satunya pasar di Timur Tengah dan negara-negara mayoritas muslim untuk produk bersertifikasi halal.

Sementara itu, Sahudin menyampaikan, produk telur tetas ayam ULU 101 merupakan salah satu hasil teknologi persilangan antara ayam Pelung jantan dengan ayam ras betina indukan, menjadi final stock ayam komersial (Ayam ULU 101) yang memiliki performa dan kualitas daging yang baik, sehingga menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Menurutnya, ekspor perdana telur tetas ini ke negara Myanmar menjadi langkah awal memperkenalkan Ayam ULU 101 ke pasar internasional. “Negara ekspor selanjutnya adalah Malaysia, Singapura dan Timor Leste,”imbuhnya..
Pada kesempatan itu, Ito Sumardi mengatakan Myanmar negara yang berpotensi untuk ekspor ayam karena penduduk di sana sebagian besar tidak makan daging sapi. Oleh karena itu ayam Indonesia akan sangat disukai oleh masyarakat Myanmar. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*