Harga Acuan Ayam Hidup Digodok Kementerian Perdagangan Mengikuti Perkembangan Biaya Produksi

Pipnews.co.id |Jakarta – Kementerian Perdagangan (Kemendag) tengah menggodok harga acuan ayam hidup melalui revisi Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 7 Tahun.2020. Harga acuan tersebut perlu diatur lantaran harganya bergerak dinamis mengikuti permbangan biaya produksi . Direktur Barang Kebutuhan Pokok dan Barang Penting Kementerian Perdagangan Isy Karim mengatakan, revisi peraturan mengantisipasi kenaikan biaya produksi. “Sebagai salah satu upaya stabilisasi harga komoditi barang kebutuhan pokok, saat ini Kemendag mere visi Permendag No. 07/2020 tentang Harga Acuan dengan memperhitungkan biaya input yang bersifat dinamis dengan menggunakan koefisien dan konstanta,” kata Isy Karim dalam siaran pers yang dilansir Humas Kemendag (30/6/2021). Isy menjelaskan, revisi permendag menetapkan rumus harga acuan yang berbasis harga input, serta menetapkan koefisien masing masing komoditi barang kebutuhan pokok. “Adapun harga acuan merupakan harga tingkat wajar dengan mempertimbangkan struktur biaya produksi dan distribusi, termasuk keuntungan masing masing pelaku usaha,” tutur Isy. Kata dia, harga acuan menjadi indikator pemerintah dalam rangka menjaga keamanan dan stabilitas harga barang kebutuhan pokok masyarakat. Padahal harga acuan pemerintah yang paling tinggoi adalah Rp 3.150/k paling rendah Rp 2.500/kg untuk kadar air 35 persen di tingkat petani. g untuk kadar air 15 persen atau Sementara itu, Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Makmun mengatakan, naiknya harga ayam hidup juga ter jadi lantaran harga bahan pakan seperti jagung sempat baik hingga Rp 6.000/kilogram.

Melambungnya harga jagung ini turut menyebabkan harga pakan terkerek naik dari Rp 6.974/kg pada awal tahun menjadi Rp 7.379 per Mei 2021. Bahkan mencapai Rp 8.000/kg pada Juni 2021. “Akibat kenaikan ini, pelaku usaha dan industri peternakan unggas merasakan dampak signifikan dari meningkatnya biaya pembelian bahan baku dan harga pokok produksi (HPP) ayam hidup,” tuturnya. Untuk mengantisipasi harga jagung, pihaknya sudah me lakukan impor gandum yang bisa digunakan sebagai substitusi jagung untuk bahan pakan ternak.

Menurut Makmun, pemerintah belum membuka impor jagung karena harganya yang masih tinggi di pasar internasional. “Ketika harga jagung dan kedelai melonjak, perusaha an pakan ternak dan para peternak menjerit, khususnya peternak unggas,” kata Makmun. Adapun dalam 10 tahun terakhir, terjadi kenaikan produksi jagung. Hal ini tidak terlepas dari tumbuhnya sentra sentra produksi jagung baru di luar pulau Jawa. Di pulau Sum atera misalnya, sentra jagung tumbuh dari 23,46 persen tahun 2010 menjadi 27,33 persen di tahun 2020.

Sementara pulau Sulawesi tumbuh dari 15,08 persen tahun 2010 menjadi 19,83 persen pada 2020. “Sementara dari 87 pabrik pakan ternak yang ada di Indonesia sebanyak 63 pabrik pakan atau 72,41 persen di antaranya berada di pulau Jawa,” pungkas Makmun. (Yannes)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.