Bisnis

Koperasi Mina Bahari Alokasikan Rp11,9 Miliar, Patungan Bangun Pabrik Tepung Ikan

Pipnews.co.id, Indramayu – Industrialisasi koperasi perikanan adalah keniscayaan. Artinya, sebuah bangunan industrialisasi perikanan dari hulu hingga hilir yang berbasis koperasi. Mulai dari penangkapan, pengolahan dan produksi, hingga pemasaran.

Keniscsyaan itu bisa terealisasi, mengingat sesuai data di Kementerian Koperasi dan UKM ada 1.988 koperasi di seluruh Indonesia yang bergerak di sektor perikanan dan kelautan. Dengan membangun industri, potensi kelautan dan perikanan lokal dapat maka tergarap optimal lewat koperasi.

Pondasi industrialisasi koperasi perikanan, sekiranya akan diperkuat dengan rencana Koperasi Mina Bahari di Indramayu, membangun pabrik tepung protein ikan. Investasi yang akan digelontorkan mencapai Rp 11,9 miliar. Dengan kapasitas produksi 20 ton per bulan. Pembangunan pabrik akan bermitra dengan PT Aruna Industri Bintan.

Mrmurut Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran Kementerian Koperasi dan UKM, Victoria br. Simanungkalit, bahwa dalam meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan anggota koperasi, perlu terobosan baru dengan membangun industrialisasi berbasis koperasi dengan model kemitraan inklusif. Yakni kemitraan yang saling menguntungkan.

Dia menambahkan, arah kebijakan kedepan akan menumbuhkembangkan investasi usaha koperasi. Koperasi tidak dimanja lagi dengan pola-pola lama, tetapi bantuan yang bersifat sosial dan mendorong membangun industri yang berkelanjutan. “Hal ini sejalan dengan pogram prioritas nasional sesuai RKP 2019 membangun korporasi model koperasi melalui kemitraan,” kata Victoria.

Selain menyejahterakan anggota, Victoria menyampaikan tujuan lain pengembangan investasi usaha koperasi melalui industrialisasi adalah kerlibatan secara tidak langsung dalam penanganan stunting. “Sebab, stunting menjadi masalah besar saat ini dan menjadi perhatian serius pemerintah,” ujarnya lagi.

Masih kata Victoria, produksi ikan dengan produk akhir berupa protein ikan menjadi solusi asupan tambahan gizi. “Kedepan Koperasi perikanan dapat mengambil peran dan berkontribusi untuk Indonesia Sehat. Dengan memperluas jangkauan pembangunan industri tersebut di berbagai daerah yang potensil,” jelas Victoria.

Hal senada juga disampaikan Asisten Deputi Perikanan dan Peternakan, Budi Mustopo. Menurutnya kemitraan saling menguntungkan, dimana koperasi yang mempunyai sumber bahan baku dan industri dalam hal ini PT Aruna Indutri Bintan, mempunyai teknologi pengolahan dan kepastian serapan pasar. Yang tidak kalah penting adalah pendampingan dalam proses opersional.

Budi menambahkan, kemitraan yang terjalin antara Koperasi Mina Bahari dan PT Aruna Industri Bintan itu, menyangkut aspek-aspek yang disebutkan diatas. Dimana perusahaan memberikan jaminan pasar, teknologi dan pendampingan operasional. Di lain pihak, Koperasi Mina Bahari menjamin ketersediaan ikan untuk kebutuhan bahan baku tepung protein ikan, menyediakan tenaga kerja, lahan dan investasi.

Jalinan kemitraan antara koperasi dan swasta imbuh Budi, dapat mengatasi hambatan-hambatan koperasi menjadi sebuah industri. Yang selama ini  aspek pembiayaan, operasional dan teknologi adalah kendala utama koperasi. “Kemitraan ini membuka peluang untuk mencari akses pembiayaan yang lebih mudah, ada transfer teknologi dan peningkatan kompetensi SDM,” jelas Budi.

Ia menegaskan industrialisasi hanya bisa terwujud jika ada dukungan pembiayaan dari lembaga perbankan dan non bank. Salah satunya dukungan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM. Terlebih, LPDB di bawah Kementerian Koperasi dan UKM ini sasaran pembiayaannya memang koperasi dan UMKM dengan memberikan bunga murah.

Lanjut Budi, pembangunan industri berbasis koperasi perikanan akan semakin memperkuat koperasi dalam penguasaan teknologi, penyerapan tenaga kerja, menaikkan skala usaha. “Lebih penting adalah peningkatan kesejahteraan nelayan dan masyarakat pesisir,” pungkasnya.

Langkah Awal

Sementara itu Sekretaris Koperasi Mina Bahari, Royani mengatakan selama ini ada keinginan mereka untuk membangun industri pengolahan ikan. Tetapi terkendala dengan ketidakmampuan pemasaran dan SDM yang terbatas. “Dengan adanya jaminan pasar dari PT Aruna, kami optimistis untuk melangkah ke arah industri. Pabrik tepung protein ikan ini merupakan langkah awal untuk membangun industri ke berbagai jenis produk yang ingin kami hasilkan,” kata Royani.  

Untuk segera mewujudkan rencana tersebut, Koperasi Mina Bahari sudah mengajukan kredit investasi ke LPDB KUMKM senilai Rp 11,9 miliar. Royani mengharapkan pengajuan kredit tersebut segera terealisasi agar pembangunan pabrik dapat dikerjakan secepatnya.

Koperasi Mina Bahari juga merupakan pengelola Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Eretan Kulon. Untuk kapasita produksi 20 ton tepung protein ikan, diperkirakan membutuhkan bahan baku 70 ton ikan per bulan. Jenis ikan yang digunakan ini adalah ikan yang umumnya harganya murah, kadar minyaknya rendah, dan tidak terserap pasar.

Pembangunan industrialisasi perikanan berbasis koperasi juga untuk merealisasikan Inpres No. 7 Tahun 2016 tentang Percepatan Pembangunan Industri Perikanan Nasional. Dalam Inpres tersebut Kementerian Koperasi dan UKM menjadi salah satu kementerian yang mendapat amanat untuk melaksanakannya.

Inpres tegas menyatakan pembangunan industri perikanan untuk kesejehateraan nelayan, pembudidaya, pengolah dan pemasar hasil perikanan, termasuk untuk penyerapan tenaga kerja. (Slamet AW).

admin

Eko Priyanto lahir di kota Wonosobo 27 April 1982, Alumni Sistem Informasi disalah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta dan memperoleh gelar Sarjana Komputer (S.Kom). Memulai mengenal pemograman website sejak tahun 2007 hingga sekarang. Saat ini fokus sebagai profesional Web Design dan menjadi penulis dibeberapa blog tutorial miliknya.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button