PLUT-KUMKM Cianjur Angkat Potensi Daerah hingga Dikenal Mancanegara

Pipnews.co.id, Cianjur – Kegiatan ekspos dan gelar produk unggulan usaha kecil dan menengah (UKM) Kabupaten Cianjur berlangsung meriah di Kecamatan Pacet, belum lama ini. Dari sekian banyak peserta, Kopi Luwak MB, Kopi Sarongge, dan Bambang Family Dairy paling layak disebut sebagai UKM Cianjur yang berkembang pesat, berkat dukungan Pusat Layanan Usaha Terpadu- Koperasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (PLUT-KUMKM) di Desa Gadog, Pacet sejak pebruari 2014.

Ketiga UKM itu mengusung semangat sama, yakni mengangkat potensi daerah hingga dikenal ke mancanegara. Budianto, warga Desa Sindanglaya, Kecamatan Cipanas menggagas produksi kopi luwak ini dengan label MB sejak 2010. Dukungan konsultan PLUT-KUMKM Cianjur, membuat produk nya menembus pasar mancanegara, meski harganya di kisaran Rp 3 jutaan per kg. Kampung Sarongge Desa Ciputri, Pacet ini memang punya produk andalan yakni kopi. Cita rasanya unik, masam seperti wine dan kemudian rasanya beranjak manis.

Selain kopi Luwak MB yang dikembangkan Budianto, ada Bambang Family Dairy yang adalah peternak sapi yang memproduksi susu sapi murni dengan pasteurisasi, sehingga organisme yang merugikan hilang dan aman untuk dikonsumsi. Usaha ini dikembangkan oleh Valentinus Indhiarto Aris Gunadi, selain memproduksi susu, yogurt segar juga keju mozarella.

Kopi Luwak MB

Sementara kopi Luwak MB produk olahan Budianto, mengaku mengawali kiprah bisnisnya melalui jalur yang unik. Dia mulanya terinspirasi dari mimpi, seperti biasa dalam tidur pulasnya paska berkegiatan seharian, mendapat mimpi menangkap seekor musang yang kemudian dipelihara hingga beranak-pinak.

Setelah berpikir dan menimbang dengan matang, dia memutuskan untuk memelihara luwak, hewan pengerat sejenis musang yang suka makan biji kopi. Sesekali dia mencoba memberi makan luwak dengan biji kopi matang.

Akhirnya pria kelahiran Madiun pada 1969 itu pun bergabung dengan komunitas pecinta musang di berbagai wilayah, sehingga dia mulai memahami cara memelihara luwak, hingga akhirnya pada 21 Juni 2010 memproduksi kopi luwak sendiri dengan label MB. Kopi luwak MB dijual dalam kemasan 50 gram, 100 gram, 250 gram, 500 gram hingga 1 kg. Harganya bervariasi mulai dari Rp 100 ribu hingga Rp 3 juta per kg. “Ada juga kemasan sachet untuk satu kali seduh,” kata Budianto

Dia mengakui, kopi luwaknya memang belum banyak dikenal di Cianjur, namun berkat dukungan PLUT-KUKM Cianjur, kopi produksinya malah lebih dikenal di mancanegara. Seperti di Malaysia, Singapura, Hong Kong, China, Arab Saudi, Belanda, atau bahkan hampir semua tamu dari Eropa sudah mencicipi kopi luwak.

“Mereka rata-rata membawa guide dari biro perjalanan untuk ke lokasi membeli Kopi luwak MB buat oleh-oleh untuk dibawa ke negara masing-masing,” kata Budi Firmansyah, konsultan pemasaran PLUT-KUMKM didampingi Bobby dan Ria Gustinawati dari bidang SDM dan kelembagaan.

Berkat dukungan konsultan PLUT-KUMKM, Budianto aktif mengikuti pameran di pusat eksibisi dan mall di Jakarta hingga pameran di Korea, sehingga bukan hal mustahil kalau dia mengidamkan Kopi Luwak MB kelak menjadi ikon Cianjur bersanding dengan tauco, manisan, dan beras.

Ria Gustinawati mengakui cita-cita mulia Budianto dapat menjadi inspirasi pelaku UKM lainnya di Cianjur dan seluruh Indonesia, dan menjadi contoh teladan bagi Cianjur karena mampu membawa nama daerahnya ke seantero jagat. Budianto berharap dukungan pemerintah daerah hingga pemerintah pusat khususnya Kementerian Koperasi dan UKM untuk mendukung pengembangan produksi, pemasaran dan penjualan sehingga dapat bersaing dengan produk sejenis.

Bambang Family Dairy

Adapun kedai Susu Bambang Family Dairy (BFD) yang berlokasi di jalan Raya Puncak – Cianjur ini dikenal sebagai produsen susu pasteurisasi dengan olahan susu lainnya. “Kami menyediakan susu murni dan keju alami. Dibuat dengan bahan alami tanpa bahan pengawet,” kata Valentinus Indarto Aris Gunadi.

Dia mengakui dukungan dari pemerintah daerah khususnya Dinas Koperasi Cianjur dan PLUT-KUMKM mendukung pengembangan usahanya. Terbukti pada akhir Januari lalu, pakar susu dari Belanda datang untuk melakukan assesment terhadap peternak sapi di kawasan Cipanas, Cianjur sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas produksi susu peternak sapi. “Secara umum, peningkatan kualitas susu sapi sangat tergantung dari ketersediaan bahan pakan, asupan makanan, pola perawatan, dan lingkungan peternakan,” kata Valentinus.

Selain mengembangkan kedai susu BFD, juga menyajikan beragam minuman spesial seperti yogurt dan susu murni, dengan penyajian berkualitas seperti di hotel bintang lima. Kedai susu BFD pun menyediakan sajian untuk paket edufarm, dimana paket tersebut sudah termasuk pelatihan cara membuat keju dan memerah sapi.

Dukungan PLUT-KUMKM dan dinas koperasi setempat mendorong BFD mengembangkan fasilitas ruang keluarga dan meeting, lesehan dan toilet, serta adanya tempat atau peternakan sapi serta tempat pembuatan keju dan susu murni, sehingga pengunjung juga bisa langsung melihat cara atau membuat semua jenis menu yang tersedia disini.

Kopi Sarongge

Sarongge sebuah kampung kecil di kaki Gunung Gede. Letaknya berbatas hutan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Cianjur, di ketinggian 1.000-1.600 mdpl. Petani umumnya menanam sayur mayur, dengan selingan pohon buah dan kopi di batas kebun mereka.

Staf Pemasaran, Fahri menuturkan bahwa kopi yang ditanam dari varietas Sigarar Utang, Lini S dan moyangnya adalah Typica, yang menjadi tanaman tahunan untuk menambah penghasilan warga setempat. “Kopi Sarongge ditanam sebagai selingan bagi warga desa setelah menanam sayuran. Rasanya juga unik, karena ditanam di daerah berhawa sejuk, kabut tebal dan ekosistem berbatas hutan,” kata Fahri.

Dia mengakui dukungan PLUT-KUMKM Cianjur sangat membantu petani kopi yang semula sekadar memproduksi kopi untuk kebutuhan sendiri, kemudian mengembangkan Kopi Sarongge menjadi peluang agribisnis, dengan banyaknya wisatawan yang datang untuk menikmati panorama dan hawa sejuk di kaki Gunung Gede.

Meskipun sulit mengubah pola petani yang terbiasa menanam sayuran ke kopi, namun potensi bisnis mulai menyadarkan petani setempat untuk serius menggarap lahan kopi sebagai peluang bisnis masa depan. “Memang butuh waktu, tapi warga sudah mau berubah untuk menerima hal baru temasuk penanaman kopi. Cianjur dulu punya sejarah bagus sebagai produsen kopi dunia,” kata Fahri. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*