Prima Handayani Mengaku Nyaman Kembangkan Usaha Rajutan setelah Peroleh Hak Cipta

Pipnews.co.id, Kota Malang – Prima Handayani, pelaku UKM asal Malang, Jawa Timur merasa nyaman setelah produk rajutan Moze Crochet miliknya mendapat Hak Cipta. Menrurtnya berkat adanya fasilitas pendaftaran Hak Cipta dari Kementerian Koperasi dan UKM itu, membuat dirinya lebih mudah dan nyaman untuk berkreasi.

“Jadi kalau disain tersebut populer di luar negeri kita tenang karena sudah ada hak cipta untuk disain tersebut punya kita,” kata Prima saat ditemui di tempat usahanya di Jalan Cengger Ayam Dalam 3 No 9 Malang, Jawa Timur.
Ia menambahkan tak lagi merasa khawatir kreasinya akan dijiplak dan diakui oleh orang lain. Sehingga kalau membuat desain-desain yang unik-unik dan desain tersebut sudah yakin bagus sekali dan bakal heboh, katanya tinggal di daftarkan saja Hak Ciptanya apalagi dari terfasilitasi gratis dan cepat prosesnya.

Prima menceritakan, awalnya ia hanya mencoba, namun setelah mendaftarkan Hak Ciptanya, ia kini kini lebih percaya diri mengembangkan hasil karyanya yang lain. Selain itu dia juga percaya karyawnya tak akan bisa diklaim oleh siapapun.

Dia berawal mengajukan 8 produk rajutan Moze Crochet ke Dinas Koperasi dan UKM setempat dan 3 yang disetujui, yakni untaian bunga, daun melingkar, dan bunga kertas. Moze Crochet merupakan salah satu dari dua yang menjadi turunan dari brand Loys yang dimilikinya. Loys sendiri merupakan merek yang menghasilkan produk rajutan buatan tangan diantaranya baju rajutan, tas, bross, kerudung dan aksesoris lainnya. “Produk-produk itulah yang menjadi aset penting buat saya,” ujarnya senang.

Untuk memperoleh Hak Cipta tersebut, Prima dibantu ibunya dalam mendaftarkan hak ciptanya setelah mendapat tawaran langsung dari Dinas Koperasi dan UKM. Apalagi fasilitas itu gratis, hanya diharuskan memenuhi syarat. Ternyata diakuinya proses pengurusannya cukup mudah. Tinggal mengisi form, KTP, KK, dan menyertakan produk yang ingin didaftarkan.

Tidak lain diakui Prima karena ibunya sering mengikuti pelatihan dan kegiatan dinas setempat, sehingga bisa mendapatkan informasi tersebut. Masih diceritakan Prima, bahwa tidak semua pelaku UKM yang ditawarkan untuk mendaftarkan Hak Cipta. Rata-rata UKM yang lain hanya ditawarkan Hak Merek.

“Manfaat pasti ada, tetapi saya masih kurang memanfaatkan ini, karena untuk secara riil penjualan lingkungan di sini-sini saja belum terlalu membutuhkan Hak Cipta. Mungkin kalau saya sudah mulai memasarkan produk saya ke luar negeri, saya sangat membutuhkan Hak Cipta ini,” papar dia.

Prima menekuni dunia usahanya sejak 2015 dan merupakan melanjutkan usaha ibunya. Tetapi baru ia merasakan usahanya mengalami perkembangan setelah jalan 3 tahun. Usaha tersebut dilakukan Prima di tempat tinggalnya dengan 8 orang karyawan.

Prima mengaku baru memiliki satu butik, tetapi dalam memasarkan produk-produknya ia memanfaatkan media sosial, selain mengikuti berbagai pameran. Seorang karyawan diberi tugas khusus untuk menjual hasil usahanya melalui media sosial. Karena ia sadar masyarakat kini lebih suka membeli barang via online.

“Dulu saya sempat sistem nitip ke berbagai butik, tetapi menurut saya malah tidak efektif, karena jadi tercecer produknya di sana sini. Jadi ya saya lebih milih masarin produk sendiri melalui media sosial (instagram),” ungkapnya.

Kepemilikan hak cipta itu ia rasakan menjadi salah satu keberpihakan pemerintah terhadap para pelaku UKM seperti dirinya. Ia pun bersyukur dan berharap pemerintah terus memperhatikan pelaku usaha mikro dan kecil agar terus berkembang. “Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Jokowi-JK yang sudah memberikan perhatian besar kepada rakyat kecil,” katanya. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*