Dinas Tanaman Pangan Holtikultura Bogor Fasilitasi Berdirinya Koperasi Petani Kopi

Pipnews.co.id, Bogor 25 September 2018

Satu lagi koperasi baru terbentuk di Kabupaten Bogor, Jawa Barat,dengan nama Koperasi Kopi Bogor. Pembentukan koperasi kopi yang beranggotakan komunitas kopi dan petani kopi ini diprakarsai dan difasilitasi Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (Dinas TPHP) Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

“Sedang tujuannya adalah untuk meningkatkan kesejahteraan petani kopi, dan memberdayakan mereka agar lebih berkembang dan lebih baik lagi perkebunan kopinya,” kata Kepala Seksi Kelembagaan, Bidang Perkebunan, Dinas TPHP, Krisnayana, kepada wartawan di Bogor (24/9/2018).

Krisna menjelaskan, perkebunan kopi di Kabupaten Bogor sekarang ini semakin berkembang, seiring dengan semakin dikenalnya kopi asal kabupaten Bogor, yang kualitasnya memang tidak kalah dengan kopi dari daerah lain. Misalnya Kopi Gayo Alas dari Aceh dan Kopi Sigararutang dari Siborongborong Tapanuli Utara, Sumut.

Dari data yang ada Dinas TPHP lanjut Krisna, pada tahun 2017 luas areal lahan perkebunan kopi di Kabupaten Bogor seluas 6.059 hektare. Dan sebagian besar dari kebun kopi ini merupakan milik masyarakat.

Begitupun diakui Krisna, areal kopi ini didominasi jenis Robusta tersebar di sejumlah kecamatan seperti Sukamakmur, Tanjungsari, Cariu, Tenjolaya, Babakan Madang, Cigudeg, Rumpin, Pamijahan. Sedang total produksinya mencapai 2.844.528 kg, atau 2,844 juta ton.

Sementara kopi jenis arabika terdapat di Kecamatan Sukamakmur, Cisarua, Babakan Madang, serta kecamatan lainnya, dengan total produksi sebanyak 111.072 kg. Dengan demikian.total produksi kopi Kabupaten Bogor dari dua jenis tersebut mencapai 2.955.600 kg,

Masih oleh Krisna dikatakan, perkembangan kebun kopi di kabupaten Bogor masih terus terjadi, dan hingga tahun ini diperkirakan luas areal kebun kopi di Kabupaten Bogor bertambah menjadi 7.500 ha.

Ia mengatakan, selama ini produksi kopi petani di Kabupaten Bogor sangat rendah, hal ini dikarenakan belum terlatihnya petani dalam manajemen hasil pertanian. Mereka memetik semua buah kopi, saat panen, tidak memilah antara merah, dan hijau. Sehingga harga kopi menjadi rendah.

Sejak 2016, dengan adanya Festival Kopi Bogor yang digagas Bupati Nurhayanti, Dinas TPHP melakukan pembinaan kepada petani kopi, salah satunya melalui gerakan petik buah merah. Selain itu, dinas juga hadir memberikan dukungan dan menyalurkan bantuan berupa bibit kopi, serta pelatihan untuk manajemen tanam kopi yang baik dan benar.

“Selama ini petani kopi memang terjerat sistem Ijon, mereka hanya butuhnya 5.000 tapi oleh pengijon dikasih 10 ribu. Mau tidak mau mereka jadi terikat,” katanya.

Hadirnya badan hukum petani kopi dalam bentuk koperasi ini, lanjut Krisnayana, diharapkan petani kopi yang tersebar di sejumlah kecamatan di Kabupaten Bogor dapat berhimpun dalam satu wadah yang besar, terstruktur dan teroganisir.

“Diharapkan dari koperasi ini nantinya, petani kopi bisa menghidupkan dirinya masing-masing, jika butuh modal dan bibit mereka bisa dapatkan di koperasi, tidak perlu lagi ke pengijon,” katanya. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.