Kemenkop-UKM Bersama Markplus Inc Bersinergi Tingkatkan Kemampuan SDM dan Permodalan Pelaku UMKM dan Koperasi di Sleman

pipnews.co.id, Sleman – Kementerian Koperasi dan UKM bersama Markplus Inc menjalin sinergi dengan Pemda Kabupaten Sleman, terkait peningkatan kinerja dan kapasitas SDM pelaku koperasi dan UMKM. Sinergitas tersebut dilakukan karena wilayah itu mempunyai potensi cukup besar untuk dikembangkan guna meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan masyarakat.

Selanjutnya di daerah itu juga banyak terdapat perguruan tinggi negeri yang tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat lokal, tetapi juga penduduk dari luar Kabupaten Sleman, bahkan luar Provinsi DIY sebagai tempat menuntut ilmu.

Banyaknya pendatang yang tinggal di wilayah tersebut menuntut ilmu, membuat tingkat perputaran ekonomi cukup tinggi. Sehingga menjadi potensi tersendiri dalam peningkatan pemerataan kesejahteraan warga Sleman. Demikian disampaikan Deputi Pengembangan SDM Kemenkop dan UKM, Rulli Nuryanto, di The Rich Hotel, Sleman, Yogyakarta, Selasa (23/4).

Rulli menambahkan, Kabupaten Sleman juga memiliki potensi lain, khususnya di bidang komoditi pertanian dengan sejumlah produk unggulannya. Seperti salak pondoh, mendong, komoditas sapi potong dan budidaya lele. “Selain itu Sleman juga banyak memiliki potensi wisata, baik itu wisata desa, wisata budaya, wisata alam, wisata pendidikan sampai wisata sejarah termasuk di dalamnya candi dan monument. Dimana potensi-potensi ini pada 2017 mampu mendatangkan wisatawan sebesar 7,2 juta orang,” jelasnya.

Tidak hanya itu lanjut Rulli, tetapi ada lagi potensi industri dengan produk unggulan, antara lain mebel dan kerajinan kayu, pakaian jadi serta sarung tangan kulit golf. Yang mana berbagai potensi tersebut menurut dia, masih bisa terus dikembangkan di waktu-waktu mendatang dengan upaya serius dan kerja keras oleh semua pihak.

“Ini pasar yang sangat besar untuk masyarakat Sleman. Kami harapkan SDM koperasi dan UKM dapat menangkap peluang pasar tersebut. Terlebih dalam mengembangkan ekonomi, pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan penurunan suku bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) menjadi hanya 7 persen. Juga penurunan pajak UMKM dari 1 persen dari omset menjadi 0,5%. Kebijakan ini dapat lebih mendorong UMKM dan koperasi untuk lebih giat lagi mengembangkan usahanya,” tutur Rulli lagi.

Ia menambahkan, sinergi yang dilakukan meliputi sejumlah kegiatan seperti pelatihan perkoperasian di era digital, pelatihan vocational, pelatihan kewirausahaan, pelatihan uji kompetensi SDM KUMKM melalui SKKNI bidang ritel koperasi, dan bimtek ketahanan usaha KUMKM. “Kegiatan pada kali ini bisa dikatakan komplit, karena tidak hanya diikuti para pelaku UMKM dan koperasi di wilayah Sleman, tetapi melibatkan para ASN/PNS di lingkungan Pemda Kabupaten Sleman,” tambahnya.

Selain pelatihan, rangkaian sinergi ini juga diisi seminar dengan menghadirkan Hermawan Kertajaya sebagai fasilitator atau narasumber. Pakar marketing yang sekaligus pendiri Markplus Inc dan president International Council for Small Business (ICSB) Indonesia ini, membagikan banyak ilmu, pengalaman dan pengetahuan.

“Kegiatan yang kita lakukan ini bagian dari pemerataan kesejahteraan masyarakat. Karena pemerintah tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi saja. Angka pertumbuhan ekonomi kita masih positif dan cukup baik yaitu 5,17%, jadi masih lebih baik dari banyak negara lain, tetapi kita juga concern terhadap pemerataan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya pemerataan kesejahteraan masyarakat, tidak bisa terlepas dari pemberdayaan dan pengembangan sektor koperasi dan UMKM. Bukan lantaran jumlah pelaku UMKM menjadi bagian terbesar dari pelaku usaha di Indonesia (62,9 juta) tetapi juga ketersebarannya berada di seluruh Indonesia.

Jadi kata dia, sangat beralasan bila pemerintah berusaha untuk kontinyu mengembangkan dan memberdayakan pelaku UMKM dan koperasi sebagai bagian strategis pemerataan kesejahteraan masyarakat. “Pemerintah sangat berharap para pelaku UKM juga saling bersinergi dengan membentuk satu koperasi. Dari pada saling bersaing untuk kepentingan pribadi, kan lebih baik bersinergi,” ujar Hermawan.

Adapun Bupati Sleman Sri Purnomo yang membuka kegiatan tersebut mengaku senang karena kegiatan tersebut dapat terwujud dalam waktu yang singkat. Yakni saat dirinya bertemu Menteri Koperasi dan UKM, Puspayoga bersama Hermawan Kertajaya, pada 29 Maret 2019. Lalu tercetuslah untuk melakukan kegiatan peningkatan kinerja dan kapasitas SDM pelaku UMKM dan Koperasi di Kabupaten Sleman.

“Kondisi UKM di sini terus berkembang dan dinamis. Salah satunya objek wisata Kampung Flory. Bahkan saat ini Pemerintah Kabupaten Sleman akan mengusulkan desa wisata Kampung Flory sebagai objek wisata baru populer di tingkat nasional dalam Anugerah Pesona Indonesia,” tutur Bupati.

Sri Purnomo menyebutkan, tingkat kunjungan destinasi wisata di Kabupaten Sleman terus meningkatkan tiap tahunnya. Jika pada 2017 masih sekitar 7,2 juta orang, tahun berikutnya meningkat menjadi 8,53 juta orang. Khusus pada 2019 ini pihaknya menargetkan sekitar 10 juta wisatawan.

Masih lanjut Sri, di Sleman kini UMKM terus mengalami pertumbuhan menjadi sekitar sekitar 36 ribu pelaku. Karenanya, perlu terus dimotivasi dan didorong agar usahanya lebih maju lagi. “Di sinilah pentingnya peranan untuk saling bersinergi dengan pihak-pihak terkait. Juga dengan meningkatkan peran serta masyarakat melalui pemberdayaan kelompok masyarakat,” tegasnya lagi.

Dalam kesempatan tersebut juga diberikan bantuan kepada wirausaha pemula (WP) kepada Akbar Permana pelaku usaha bidang handycraf sebesar Rp13 juta, dan Muhammad Alfinhadi yang bergerak di usaha kuliner sebesar Rp15 juta.

Sementara itu, bantuan pembiayaan dari Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) KUMKM, diberikan kepada Elita Yuniasti (usaha sembako) sejumlah Rp51 juta, dan Wabut Winarto (usaha kerajinan blankon) sebesar Rp75 juta.

Sedangkan penerima dana KUR adalah Arif Riyanto usaha konter dan servis HP dari BRI sebesar Rp 10 juta, Ambar Windriati usaha industri anyaman bahan natural dari BNI seesar Rp400 juta, Ade Kurniawan usaha kos kosan Rp50 juta dari Bank Mandiri, Abdul Rasyid usaha warung makan Rp25 juta dari BRI Syariah), dan Widarsasna usaha perdagangan batik seesar Rp70 juta dari BPD DIY. (Slamet  A Wijaya).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.