Kemitraan KUMKM dengan Usaha Besar di Kulonprogo Dapat Dukungan Kemenkop-UKM


pipnews.co.id, Kulonprogo – Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM) membangun dan mengembangkan kemitraan koperasi dan pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dengan pelaku usaha besar di Kabupaten Kulon Progo, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Pengembangan kemitraan KUKM tersebut dimaksudkan untuk mendorong KUKM agar lebih cepat dalam pengembangan usahanya, perluasan pasar, dan akses ke teknologi ataupun permodalan, serta diperkuat dengan perlindungan usaha untuk memajukan usaha mikro dan kecil.

Adapun temu kemitraan ini bertujuan untuk memberikan berbagai kemudahan dan fasilitas kepada pelaku usaha mikro dan kecil, khususnya dalam memasarkan produknya. Kegiatan itu diantaranya terkait peningkatan kinerja dan daya saing KUMKM di Kulon Progo dan daerah lainnya.

Demikian diungkapkan Asisten Deputi (Asdep) Perlindungan Usaha, Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha, Kementerian Koperasi dan UKM, Sutarmo saat membuka acara Temu Mitra KUKM dengan Usaha Besar di Kulon Progo, Kamis (21/3).

Sutarmo menambahkan, selain kerja sama memasarkan produk dengan mitra toko modern, perlu juga dilakukan kerja sama dengan usaha besar, seperti produsen tepung terigu kenamaan Sriboga dengan pelaku usaha makanan olahan. “Sehingga pelaku usaha mikro makanan olahan dapat memperoleh bahan baku tepung terigu dengan harga yang lebih terjangkau sehingga harga produk olahan makanan makin kompetitif,” ujarnya lagi.

Hadir dalam acara tersebut, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Kulon Progo, Sri Harmitarti, Kepala Bidang Kemitraan Usaha Deputi Bidang Restrukturisasi Usaha Kemenkop dan UKM Abdul Latif, perwakilan usaha besar antara lain PT Indomarco Prismatama selaku usaha besar yang telah menjalin kemitraan dengan Koperasi di Kulon Progo dalam bentuk Toko Milik Rakyat (ToMiRa), Produsen Tepung Terigu PT Sriboga serta ratusan pelaku UMKM se-kabupaten Kulon Progo.

Masih enurut Sutarmo, salah satu program strategis Kementerian Koperasi dan UKM dalam mempercepat peningkatan kinerja dan daya saing KUKM, yakni dengan mengembangkan berbagai pola kemitraan, seperti inti plasma, perdagangan umum, sub kontrak, waralaba, keagenan dan lainnya.

“Karenanya, KUKM perlu memahami pola-pola kemitraan yang akan dijalankan dan persyaratan dan ketentuan yang harus dipersiapkan. Dengan demikian tujuan kemitraan dapat terwujud sesuai yang harapan,” tandas Sutarmo.

Imbuh dia, kemitraan merupakan suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu, untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan, saling menguntungkan dan saling memperkuat.

Melalui kemitraan dengan usaha besar/menengah, Koperasi dan UKM jelas Sutarmo, diharapkan dapat meningkatkan produktifitas dan daya saing, sekaligus menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kesenjangan antara UKM dengan usaha besar.

“Dengan demikian kedepan KUMKM dapat secara konsisten mensuplai kebutuhan usaha besar, kualitas produk yang sesuai standar serta teratasinya masalah permodalan KUMKM,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Kab Kulon Progo, Sri Harmitarti mengatakan, perkembangan koperasi dan UMKM memiliki potensi yang besar dalam meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.

Hal tersebut ditunjukkan oleh
keberadaan Koperasi dan UMKM. Mereka telah mencerminkan wujud nyata kehidupan sosial dan ekonomi di masyarakat. Selain itu juga memiliki kontribusi yang besar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, secara langsung maupun tidak langsung, sehingga berdampak siknifikan terhadap penganggulangan kemiskinan.

“Apa yang kami sampaikan benar adanya, dimana sngka kemiskinan Kabupaten Kulon Progo pada tahun 2018 mencapai 18% dan tertinggi di antara Kabupaten/kota yang ada di DIY, sehingga Pemerintah Kabupaten Kulon Progo terus berupaya secara masif untuk mengatasi hal tersebut. Berbagai program yang telah dilaksanakan dan salah satunya melalui pengembangan Koperasi dan UMKM yang merupakan ujung tombak ekonomi kerakyatan,” jelas Sri Harmitarti.

Masih ungkap dia, dalam rangka meningkatkan daya saing produk lokal Kulon Progo dan menghadapi Revolusi Industri 4.0, maka koperasi dan UMKM dituntut untuk lebih dinamis, inovatif dan revolusioner, sehingga tidak terlibas dengan kondisi yang semakin Kompleks dan rumit ini.

Saat ini jumlah Koperasi di Kabupaten Kulon Progo sebanyak 261 unit dan UMKM 35.457 unit, sedangkan jumlah UMKM miskin produktif sejumlah 1.281 unit.

Kembali Sri menjelaskan, dengan sasaran itu pihaknya telah melaksanakan pembinaan dan pendampingan terhadap KUMKM melalui 3 bidang. Seperti bidang pemberdayaan, permodalan dan kelembagaan yang diimplementasikan dengan kegiatan-kegiatan di lapangan. Meliputi pelayanan HKI, pelaksanaan diklat, fasilitasi permodalan, pendampingan IUMK, penyuluhan perkoperasian, fasilitasi pendirian Koperasi dan lainnya.

Masih ditambahkan Sri, kegiatan temu Mitra KUMKM dengan usaha besar dan sosialisasi Pola Kemitraan Rantai Nilai/pasok, merupakan wujud sinergitas Pemkab Kulon Progo bersama Kementerian Koperasi dan UKM, terkait peningkatkan kualitas Koperasi dan UMKM di Kabupaten Kulon Progo. Khususnya dalam hal peningkatan pemasaran produk KUMKM melalui kemitraan dengan usaha besar. Yakni dengan PT Indomarco Prismatama, selaku usaha besar yang telah menjalin kemitraan dengan Koperasi di Kulon Progo dalam bentuk Toko Milik Rakyat (ToMiRa).

“Kami berharap kemitraan yang sudah terjalin ini, kedepan akan terus meningkat dan berdampak signifikan terhadap peningkatan kualitas produk KUMKM, sehingga dapat berdaya saing menghadapi kompetisi persaingan global,” tandas Sri.

Produsen

Selain itu, kalangan produsen dan pelaku usaha mikro berharap kerja sama atau kemitraan dengan pelaku usaha besar dapat segera terealisasikan. “Kami berharap bisa kerja sama dengan industri besar dan perhotelan agar bisa memasok gula semut kebutuhan mereka,” ungkap Samijo, Sekretaris Koperasi ISM Gempita Mandiri, Desa Kalirejo, Kokap Kulon Progo.

Samijo juga mengaku sebelumnya pernah melakukan kerja sama dagang dengan perusahaan eksportir, namun kini terkendala terutama masalah pembayaran yang lambat. Dengan produksi 3-5 ton gula semut per bulan, pihaknya berharap bisa memasok kebutuhan usaha makanan dan minuman, serta perhotelan di DIY.

Hal senada disampaikan produsen produk olahan cabe di Glagah, Temon, Kulon Progo, Titin Lisnawati. Dia berharap produksinya bisa dipasarkan di toko modern dan mampu memenuhi kebutuhan konsumen maupun makanan. (Slamet A Wijaya).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.