Kopdit Keling Kumang Mampu Bukukan Aset Rp1,3 T

Pipnews.co.id, Sintang – Tak usah heran bila Koperasi Kredit (Kopdit) atau Credit Union (CU) Keling Kumang telah masuk jajaran koperasi besar di Indonesia. Koperasi yang didirikan pada 25 Maret 1993 dengan modal Rp260 ribu itu, kini sudah mampu membukukan aset sebesar Rp1,3 triliun.

Demikian jumlah anggota CU Keling Kumang juga sudah menembus 171 ribu orang, dengan 63 kantor cabang di seluruh Kalimantan Barat (Kabupaten Sintang, Sekadau, Kapuas Hulu, Sanggau, Melawi dan Kota Pontianak).

“Kami tumbuh dan berkembang karena menerapkan prinsip inovasi dengan IT. Kita sudah online system,” ujar Mikael Ketua Pengurus Keling Kumang Group saat ditemui di Sintang, Kalimantan Barat, Jumat (21/9).

Mikael menambahkan, kini CU Keling Kumang tak hanya eksis di pentas bisnis koperasi simpan pinjam (KSP) saja. Melainkan sudah sukses juga di sektor usaha potensial lainnya, seperti bisnis ritel minimarket dan departement store (Koperasi 52/K52), produksi dan toko pertanian (K77), koperasi jasa dalam mengelola hotel (Hotel Ladja, Sintang), hingga yayasan pendidikan (SMK Keling Kumang).

Seiring unit-unit usaha yang terus membesar kapasitasnya, kata Mikael juga membentuk satu holding bernama Keling Kumang Group yang membawahi koperasi-koperasi tersebut. “Operasional bisnis kami dikelola Keling Kumang Group, sehingga masing-masing koperasi yang mengelola unit usaha mampu tumbuh secara bersama,” jelasnya lagi.

Dia mencontohkan, anggota CU Keling Kumang yang berprofesi sebagai petani karet dan sawit meminjam modal usahanya dari CU Keling Kumang, lalu membeli segala kebutuhan pertaniannya (pupuk, bibit, dan sebagainya) dari K77.

Sedangkan untuk K25, sudah memiliki beberapa outlet minimarket yang berlokasi di Ketapang, Sekadau, Melawi, dan Sintang. Khusus untuk outlet di Sintang, tak hanya minimarket tapi juga departement store.

Selain itu kata Mikael pihaknya juga tengah menjajaki kerja sama dengan ritel besar Indomaret dan Alfamart. “Kita akan menitip produk hasil industri rumahan anggota CU Keling Kumang dipasarkan di Indomaret dan Alfamart. Seperti keripik ubi dan keripik pisang. Saat ini, Keling Kumang sedang mengurus label halal untuk produk rumahan tersebut,” imbuhnya.

Adapun untuk yayasan pendidikan, Keling Kumang sudah memiliki satu sekolah, yaitu SMK Keling Kumang yang berlokasi di Kabupaten Sekadau. Pada 2018 ini, Keling Kumang tengah mengurus izin ke Kopertis XIII untuk mendirikan perguruan tinggi. Rencana mendirikan universitas kata Mikael bertujuan untuk lebih membangun kualitas SDM Keling Kumang.

“Kita akan fokus membangun SDM di sektor teknologi, seperti agrobisnis dan agro industri. Saya berharap ijin itu rampung di akhir 2018 ini. Sehingga, anak-anak dari anggota CU Keling Kumang bisa berkuliah disini”, ucap Mikael.

Tak hanya itu, Keling Kumang pun mendirikan unit lain, yaitu Self Help Group (SHG) yang bertugas memberikan pendampingan bagi para anggota yang memiliki usaha. Saat ini, Keling Kumang sudah memiliki sekitar 123 kelompok usaha yang bergerak di bidang pertanian, perkebunan, sawah (padi), karet, sawit, kopi, dan juga kakao. Selain itu mempunyai pabrik gula aren yang mampu memproduksi satu ton perbulan. Hasilnya, dijual di outlet-outlet K52 dan minimarket lainnya di Kalbar.

CU Keling Kumang juga tengah membangun beberapa pilot project seperti industri lebah madu dan serai wangi. Ada juga pengembangan ekowisata, PLTMH (pembangkit listrik tenaga mikro hidro), hingga pipanisasi air bersih. Selain itu juga bekerjasama dengan Astra mengadakan pelatihan kepada beberapa anggota di bidang sepeda motor. Nantinya, jika sudah mahir dilatih akan membangun bengkel sepeda motor berikut pengadaan spareparts-nya. Sedangkan untuk permodalannya akan fasilitasi CU Keling Kumang.

Generasi Milenial

Terkait kaderisasi, CEO Keling Kumang Group Valentinus, mengungkapkan bahwa hal itu sudah berjalan secara signifikan. Menurutnya saat ini, sebanyak 35% dari total anggota CU Keling Kumang merupakan anak-anak muda di bawah usia 35 tahun. Bahkan, dari 500 lebih jumlah karyawan di Keling Kumang, 50% merupakan generasi milenial. “Kami terinspirasi para pendiri Keling Kumang yang membangun ini di usia amat muda,” tandas Valentinus.

Imbuh Valentinus, koperasi sangat cocok bagi pemberdayaan generasi muda untuk terjun sebagai wirausaha. Menurutnya dia juga datang dari keluarga tidak mampu. Tetapi taraf hidup keluarganya meningkat karena ia menjadi anggota koperasi. “Banyak contoh lain dari manfaat koperasi yang bisa memotivasi anak muda generasi milenial untuk berkoperasi. Saya juga dalam banyak kesempatan selalu mengajarkan nilai-nilai perkoperasian,” akunya.

Lanjut Valentinus, untuk meningkatkan taraf hidup para anggota CU Keling Kumang, para pengurus koperasi akan terus mendorong usaha-usaha di sektor riil yang dijalankan para anggota. Hal tersebut sesuai visi dan misinya yakni untuk kesejahteraan masyarakat Kalbar.

Valentinus pun berharap dengan berkoperasi bisa mengubah mindset di kalangan generasi muda milenial agar bisa berkembang menjadi seorang wirausaha. “Saya selalu mengajak anak-anak muda bergabung dalam koperasi, khususnya di CU Keling Kumang, agar mampu mengasah jiwa wirausaha sebagai bekal hidup di masa depan,” pungkasnya. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.