Koperasi Garam “Cek Meunarek” Didorong Mengelola Produksi Garam di Aceh

Pipnewes.co.id, Lhokseumawe – Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh mengadakan konsolidasi daerah untuk meningkatkan kapasitas bagi koperasi garam. Konsolidasi yang berlangsung di Aula Setdakab Aceh Utara di Lhokseumawe Kamis pekan lalu, dihadiri pejabat dari Kemeterian
Kelautan dan Perikanan RI sebagai narasumber.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Aceh Utara Ir Jafar Ibrahim mengatakan. konsolidasi daerah itu dimaksudkan untuk persiapan Aceh Utara sebagai sentra produksi garam Sumatera. Sebab itu rapat konsolidasi ini melibatkan semua stakeholder terkait dalam pengembangan garam di kabupaten Aceh Utara pada khususnya dan Provinsi Aceh pada
umumnya. “Konsolidasi ini sekaitan dengan program Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGAR) pada lahan terintegrasi yang telah dimulai sejak 2018,” kata Jafar Ibrahim dalam sambutannya.

Program ini lanjut dia, telah membawa perubahan yang positif terhadap produksi garam rakyat di Aceh Utara, baik dalam hal peningkatan kapasitas dan SDM pelaku usaha garam, maupun kualitas dan kuantitas produksi.

Sementara itu Kasubdit Pemanfaatan Air Laut dan Biofarmakologi Direktorat Jasa
Kelautan pada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI, Mohamad Zaki Mahasin, S.Pi, M.Pi, mengatakan, pengelolaan koperasi garam yang nantinya akan diproduksi secara terintegrasi tidaklah boleh asal-asalan. “Badan usaha berbentuk koperasi yang berpotensi dan kita dorong mengelola
produksi garam di Aceh ini, diantaranya Koperasi Cek Meunarek yang ada di areal
Gampang Matang Turong, Kecamatan Lapang, Aceh Utara. Lantaran itu koperasi ini haruslah memiliki SDM dan tatakelola yang profesional setara dengan sebuah
perusahaan,” kata Mohamad Zaki.

Zaki melanjutkan, Kementerian KKP memberikan perhatian khusus dan serius
terhadap pengembangan usaha garam rakyat di Tanah Air. Saat ini pihaknya
sedang mengembangkan sistem produksi garam dengan lahan terintegrasi yang
telah dilakukan ujicoba di beberapa lokasi, di mana menunjukkan hasil yang cukup
menguntungkan. Sebagai misal adalah produksi garam yang ada di Gampang
matang Tunong, yang sudah disaebutkan tadi.

Sementara Bupati Aceh Utara H. Muhammad Thaib dalam kesempatan itu mengharapkan, agar seluruh stakeholder terkait untuk memberikan perhatian pada produksi garam rakyat, karena juga merupakan upaya pengembangan ekonomi masyarakat pesisir. Pihaknya meminta semua yang terlibat di sini, baik petani garam maupun pengurus koperasi untuk ambil peran yang sungguh-sungguh, jangan ada yang ambil untung duluan. “Mulailah secara bersama-sama dan ambil untungnya sama-sama nanti pada saat sudah panen,” pesan Cek Mad, sapaan akrab Bupati.

Lebih jauh ia meminta, Kementerian KKP untuk membantu petani garam Aceh Utara, seraya berharap agar ke depannya Aceh Utara benar-benar dapat dikembangkan menjadi sentra garam Sumatera.
“Bantuan dari Jakarta sangat kita harapkan, kita harapkan ini salah satu jalan mengurangi angka kemiskinan di daerah ini,” sebut Cek Mad. Seraya menambahkan, bahwa daerah yang memiliki lahan produksi garam di Aceh, diantaranya Aceh Utara, Aceh Besar, Didie, Pidie Jaya, Bireuen dan Lhoksemawe.

Saat ini pengelolaan pembuatan/produksi garam di Aceh ada tiga macam, yang pertama adalah garam tradisional dengan cara dimasak di dalam tungku besar.

Azhari seorang petani garam tradisional di Kecamatan Lapang, Aceh Utara mengaku hanya mampu memproduksi garam 100-150 kg satu hari dengan cara di masak.dan dijual seharga Rp 5.000/kg. Kemudian ada pengelolaan produksi garan dengan sistem Tunnel. Proses garam dalam sistem tunnel dilakukan secara tertutup mulai dari proses air baku dari laut menjadi air tua dan berakhir di meja kristalisasi yang akan menghasilkan garam dengan kualitas yang lebih baik, putih dan bersih.

Sistem tunnel yang diperkenalkan oleh Kemenko Kemaritiman ini dan sudah dipraktekkan di Kabupaten Pidie, diklaim menghasilkan produksi garam yang lebih tinggi dibandingkan dengan sistem garam rebus yakni mencapai 10-12 kali lipat. Lokasi garam di Pidie juga dapat dikembangkan dengan inovasi lainnya dengan ekstrak rempah-rempah sehingga menjadi garam spa, atau garam aroma therapy yang akan memberikan nilai tambah bagi pendapatan
petambak garam.

Terakhir, Aceh Geothermal Forum (AGF) bersama akademisi Universitas
Syiah Kuala (Unsyiah) baru saja meresmikan sebuah alat produksi garam melalui pemanfaatan tenaga surya di Kemukiman Lampanah, Gampong Ujong Mesjid, Kecamatan Seulimum, Kabupaten Aceh Besar.

Ketua AGF, Fahmi di Aceh Besar, Senin mengatakan Kemukiman Lampanah
merupakan daerah yang telah bertahun-tahun melakukan produksi garam
dalam jumlah banyak dengan cara tradisional, sehingga mereka melakukan
pendampingan untuk pengembangan alat produksi garam yang telah dirancang ahli.
“Produksi garam di sini menjadi sumber pendapatan mereka yang cukup baik.
Sehingga kita mencoba memperkenalkan kepada ibu-ibu petani garam di sini
untuk melakukan produksi garam dengan model baru, menggunakan tenaga
matahari,” kata Fahmi beberwea waktu lalau. (Yan).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.