Koperasi Pesisir Tingkatkan Ekonomi Nelayan

Pipnews.co.id, Pati 20 Mei 2018

Adagium koperasi sebagai soko guru perokonomian rupanya masih sangat relevan. Terbukti keberadaan koperasi mampu meningkatkan taraf ekonomi para anggotanya. Sebagai contoh, Koperasi Rukun Artha Santosa (RAS) di Desa Bajomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati. adalah satu diantaranya . Koperasi yang beranggotakan 725 orang ini bisa dikata, 90 persen menggantungkan hidup dari laut.

Supi’i Manajer Koperasi RAS mengatakan, saat ini koperasi ini selain mengayomi para anggotanya, juga telah memiliki aset berupa tiga kapal. Satu kapal berukuran berukuran 99 gross ton yang biasa melaut ke selat Makassar dan dan dua kapal berukuran 159 gross ton yang memiliki wilayah cakupan melaut di laut Arafuru.

Aset kapal yang dimiliki, kata Supi’i, jika diakumulasikan berjumlah lebih dari 300 gross ton. Maka, demi berlangsungnya opersional koperasi, maka dibentuklah Perseroan Terbatas (PT) dengan nama yang sama sebagai sesuai dengan aturan pemerintah.

“Memang aturan pemerintah aset kapal minimal 300 gross ton harus dikelola PT, maka kami bentuk PT pada tahun 2012,” kata Supi’i saat ditemui di kantornya, Selasa (15/5/2018).

Keberadaan kapal itu, katanya, merupakan aset yang hasilnya diperuntukkan bagi kesejahteraan anggota yang bertindak sebagai anak buah kapal (ABK) serta keberlangsungan koperasi. Hal lain yang dilakukan oleh kopertasi ini yakni dengan memberi fasilitas pinjaman kepada anggotanya senilai Rp 500 juta untuk keperluan pemasangan alat tangkap rawai dasar.
Setelah itu lanjut Supi’i, para anggota yang difasilitasi pinjaman tersebut rupanya bisa berkembang. Buktinya, aset yang dimiliki oleh anggotanya dari hasil pinjaman kini mengalami peningkatan.

“Mereka kini tak lagi meminjam di (koperasi) ini lagi. Tapi masih anggota. Karena skala pinjamannya untuk kebutuhan melaut terhitung tinggi. Maka butuh campur tangan bank,” katanya.

Keperluan anggota yang hendak melaut, katanya, biasa mengambil modal terlebih dahulu dari koperasi Bahkan, untuk menunjang sekaligus memermudah, Supi’i berkata, terkadang agunan dari anggota tersebut tidak sesuai dengan nilai yang dipinjam. “Tapi anggota itu tidak nakal, kan kita punya datanya,” katanya.

Menyangkut kebijakan pemerintah yang melarang alat tangkap cantrang, Supi’i berkata, anggotanya telah diwanti-wanti untuk berpindah ke alat tangkap ramah lingkungan sejak 2015.

Untuk memfasilitasinya, anggota pun boleh melakukan pinjaman sesuai dengan kebutuhan pergantian alat tangkap.
“Tapi ya tidak sepenuhnya kami meminjami. Biasanya ngambil di bank Rp 1 miliar, nanti kekurangannya mungkin Rp 1.5 miliar kami yang meminami,” katanya.

Sekretaris Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah Bima Kartika mengatakan, memang keberadaan koperasi mampu meningkatkan taraf ekonomi anggotanya. Syaratnya harus dihalankan dengan manajemen yang baik serta transparan.

“Misalnya Koperasi RAS ini mampu menjadi batu lonjatan perkonomian bagi anggotanya,” katanya. (Tribun/Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*