Daerah

Koperasi Putera Blitar Produksi Telur 250 Ton/Hari dengan Pemasaran Berbagai Penjuru Tanah Air

Pipnews.co.id, Blitar – Salah satu daerah di Indonesia penghasil telur ayam adalah Kabupaten Blirltar, Jawa Timur. Lantaran itu daerah ini punya andil besar dalam pasokan telur  nasional, yang setidaknya 30% pasokan telur di Tanah Air berasal dari  Blitar.

Namun ada yang menarik dari perbisnisan telur ini, ternyata pemasoknya adalah pelaku UMKM berbasis koperasi. Itulah Koperasi Putera Blitar, Jawa Timur yang kini dipimpin Sukarman selalu ketua koperasi.

Berdiri pada tahun 2017, Koperasi Putera Blitar memiliki anggota sebanyak yang tersebar di seluruh Kabupaten Blitar. Tak tanggung tanggung sebanyak 200-250 ton telur per hari mampu dihasilkan koperasi ini melalui produksi ternak ayam milik anggotanya.

Sukarman bercerita, bahwa sebelum koperasi terbentuk di daerah itu peternak ayam bekerja sendiri. “Jadi setelah terbentuk koperasi, kami setiap minggu sosialisasi ke desa desa untuk memberi pencerahan kepada masyarakat, sehingga mula mula anggota koperasi itu hanya 35 orang sampai sekarang menjadi 427 orang,” kata Sukarman dalam keterangannya di Blitar (14/2)..

Koperasi Putera Blitar didirikan pada prakteknya adalah untuk membantu kepastian pasar bagi para peternak anggotanya. Selain itu koperasi juga memberikan harga pakan yang lebih murah untuk para anggotanya dibanding dengan harga yang ada di pasaran.

“Sebagai contoh harga jagung di luar (koperasi) sebesar Rp 6.000 s/d Rp 6.500 per kg, maka koperasi hanya menjual Rp 5.300/kg, dan hal ini yang menjadi salah satu faktor mendorong peternak masuk anggota koperasi,” kata Sukarnan, yang mengaku juga peternak ayam petelur.

Tidak hanya sampai di situ, setekah Koperasi Putera terventuk, berbagai bantuan juga berdatangan dari berbagai pihak, seperti Bank Indonesia yang membantu mensosialisasikan dan membina para.peternak. Saat ini koperasi ada kedatangan sebuah BUMD dari Jakarta yang membutuhkan telur namun, tidak punya produksi telur. Akhirnya mencari sumber pangan, dan Blitar menjadi pilihannya.

“Jadi kerjasama itu, pertama dengan Jakarta, kedua dengan Tasikmalaya, ketiga dengan Induk Koperasi Pasar (Inkoppas), kemudian dengan Tugu Pangan Jawa Timur, lalu bansos kabupaten maupun provinsi yang dikelola Dinas Sosial,” kata Sukarman menjelaskan.

Dalam distribusinya anggota koperasi akan mengirimkan telur telur yang sudah siap jual ke koperasi untuk nantinya dipilah pilah sesuai dengan kategori telur. Ada dua kategori telur yang siap dijual, yaitu telur merah dan telur krem.

Manager Usaha Koperasi Putera, Kristina Sari Niviantri Ningtyas yang bertugas mengatur jual beli telur di koperasi menjelaskan kedua jenis telur tersebut membedakan kualitasnya. Nantinya telur merah akan didistribusikan ke beberapa kota di Jawa dan yang krem akan didistribusikan dalam cakupan lokal saja.

Menurut Novi, koperasi hanya menjadi medium untuk para peternak dalam memasarkan telur milik mereka. Sehingga nantinya ketika telur telur telah terjual uang yang dihasilkan akan diberikan langsung oleh para peternak melalui aplikasi yang diberi oleh Bank BRI.

“Jadi pasar yang sudah kami bangun di Bandung, Jakarta dan Tasik. Untuk telur yang kulitnya krem biasanya yang pabrik roti dan lainnya. Kita memilihnya. waktu pengepakan dari peternak dan yang masuk truk itu ada 9 tray dan dipisah antara krem dan merah. Yang merah itu masuk ke penjualan di Bandung, Jakarta dan Tasik, yang krem untuk lokal,” ujar Novi, panggilan akrab Kristina Noviantri.

“Aplikasi yang dinamakan ‘Pasar Mikro’ tersebut masih berbentuk pilot project sangat dirasakan manfaatnya. Novi mengatakan dengan adanya aplikasi tersebut, kini peternak tak perlu menunggu uang transfer dari pembeli karena kini sudah ada sistem otomatis yang diberikan oleh aplikasi tersebut.

“Kecepatan dalam pembayaran akhirnya dalam kita mencari telur akan dapat banyak. Di aplikasi ini cairnya H+2, kalau tidak ada aplikasi H+3-5 hari. Kalau ikut PO bisa lebih lama lagi,” tutur Novi..

Ia pun berharap dengan adanya aplikasi akan memangkas harga sampai ke konsumen, sehingga harganya bisa terjangkau dan peternak di Blitar bisa eksis.

“Harapannya, aplikasi yang disediakan oleh BRI secara cuma cuma ke kami peternak kecil, ke pedagang bisa dilanjutkan terus sehingga telur yang kami produksi bisa sampai ke konsumen tanpa ada rantai yang panjang sehingga harga bisa stabil dan tidak merugikan peternak kecil,” pungkas Novi. (Yan).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button