KPSM Sleman Meski Pernah Dihantam Erupsi Merapi Mampu Bangkit Lagi


Pipnews.co.id, Sleman — Meski pernah dihantam erupsi awan panas Gunung Merapi pada 2010 lalu, anggota Koperasi Peternakan Sarono Makmur (KPSM) Kabupaten Sleman, Provinsi DIY, tidak putus asa. Mereka tetap berupaya dan membuktikan diri sebagai salah satu koperasi tangguh. Koperasi para peternak sapi perah ini berhasil bangkit kembali.

Sebelum bencana alam itu datang, KPSM mencatat asetnya sekitar Rp 5,48 miliar dan jumlah anggota 400 orang. Dengan sapi perah yang dikelola sebanyak 1.400 ekor dan memproduksi susu mencapai 4.000 liter per hari. Sedangkan omsetnya hingga Rp 10,3 miliar.

Bukti ketangguhan koperasi tersebut diungkapkan Deputi Bidang Kelembagaan, Kementerian Koperasi dan UKM Luhur Pradjarto, saat mengunjunginya belum lama ini bersama
Petugas Penyuluh Koperasi Lapangan (PPKL) Kabupaten Sleman Wulan Anggraeny, PPKL Kabupaten Bantul Nur Hayati dan Irfan PPKL Provinsi DIY menyempatkan berkunjung ke KPSM belum lama ini.

Menurut Luhur koperasi sektor riil macam KPSM, memang sangat potensial untuk ditumbuh-kembangkan. Mengingat dampaknya sangat signifikan untuk anggota dan masyarakat. Selain itu, KPSM dalam mengelola bisnis persusuan (sapi perah) merupakan salah satu koperasi yang sangat jelas keterkaitannya, antara anggota dengan koperasinya. “Yakni oroduksi susu anggota diserap oleh koperasi, dan koperasinya yang melakukan penjualan susu ke industri pengolahan susu. Juga mengolah sendiri susu dengan varian produk lain, seperti yoghurt maupun susu pasteurisasi melalui proses UHT (ultra high temperature),” kata Luhur.

Keterkaitan lainya dengan anggota lanjut Luhur, KPSM Sleman juga menyediakan pakan konsentrat, obat-obatan dan ensiminasi buatan. Dimana kegiatan tersebutHal telah dilakukan oleh KPSM yang berdiri sejak1994 ini.

Pada waktu terkena bencana, hampir semua aset yang dimiliki koperasi dan anggota dapat dikatakan nyaris habis, bahkan sapi yang dikelola anggota tinggal 200 ekor yang bisa diselamatkan. Semua kandang rusak, truk tanki susu juga rusak, pakan hijauan pun kering terbakar.

Menyikapi kondisi demikian, Daud Soeroto selaku Ketua KPSM pun tidak tinggal diam. Dengan kepedulian dan kekompakan pengurus, anggota dan karyawan, mereka bertekad memberdayakan kembali dengan menyusun rencana 5 tahun kedepan. Tujuannya untuk memotivasi anggota agar bangkit dan punya penghasilan.

Langkah-langkah yang dilakukan antara lain dengan mengamankan 200 ekor sapi ketempat pengungsian, membangun kandang, mengupayakan pinjaman dengan bunga murah ke perbankan, maupun mencari donatur untuk pembangunan kandang koloni.

Upaya pengurus akhirnya, memperoleh hasil, diantaranya mendapatkan bantuan untuk pembangunan kandang koloni dari BPD, Dinas Pekerjaan Umum, dan SCTV. Tidak hanya itu, untuk permodalanpun mendapatkan pinjaman dari perbankan sebesar Rp 750 juta. Dana tersebut dipergunakan untuk pengadaan sapi sebanyak 50 ekor sapi.

Dengan memaksimalkan jumlah sapi yang ada, akhirnya diputuskan sapi milik koperasi dipelihara oleh anggota, atau istilah yang sering didengar dimasyarakat adalah sistem “gaduh”. Oleh karena jumlah sapi terbatas yaitu sebanyak 250 ekor, sementara jumlah anggota sebanyak 400 an orang, maka pendistribusian sapi diputuskan secara musyawarah.

Seiring dengan berjalannya waktu, dan dengan ketekunan pengurus dan jiwa kekeluargaan para anggotanya dan pengurus, kondisi KPSM perlahan mulai bangkit, kini jumlah sapi mencapai 1.600 ekor. Produksi susu yang dipasarkan ke industri pengolahan susu yaitu Nestle sekitar 7.400 liter per dua hari, sedangkan yang tidak dipasarkan ke IPS, diolah oleh KPSM menjadi yoghurt dan susu pasteurisasi. Pabrik konsentrat yang dimiliki selain untuk memenuhi kebutuhan anggota juga dipasarkan ke masyarakat.

Salah satu karyawan, Yusuf mengatakan bahwa tidak hanya itu perubahannya, tetapi aset meningkat menjadi Rp 18 miliar (naik 82,8% dibanding tahun 2010) dan omset per tahun sekarang sekitar Rp 21 miliar atau naik 50,5% dibanding tahun 2010. Disamping itu, juga membangun yayasan sosial untuk anak yaitu TK Bina Mandiri.

Wulan Anggraeny, PPKL Sleman menambahkan, bahwa atas keinginan para pengurus koperasi peternakan sapi perah, mereka juga sedang mempersiapkan membentuk koperasi sekunder, antara lain dengan Koperasi Warga Mulya, Koperasi Usaha Peternakan dan Pemerahan Kaliurang.

Dengan adanya koperasi sekunder, diharapkan koperasi-koperasi peternakan sapi perah akan lebih maju dan kesejahteraan anggota meningkat. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.