KUD Mino Saroyo Sukses Mengelola TPI Jadi Tauladan Koperasi Perikanan

Pipnews.co.id, Cilacap 9 September 2018.

Tak mudah menjaga koperasi bertahan hingga sampai saat ini, apalagi dari zaman kependudukan Jepang. Namun tidak bagi Koperasi Unit Desa (KUD) Mino Saroyodi Cilacap, Jawa tengah yang digadang-gadang menjadi suri teladan sukses bagi sebuah koperasi pengelola Tempat pelelangan Ikan (TPI).

KUD tingkat primer yang beranggotakan nelayan di Kelurahan Cilacap, Kecamatan Cilacap Selatan tersebut telah dirintis sejak zaman kependudukan jepang.dan eksis hingga sekarang ini. Dab jejak rekam inilah yang disebut-sebut menjadikan KUD Mino Saroyo dianggap telah demikian memahami karakteristik masyarakat di Cilacap.

Ketua KUD Mino Saroyo, Untung Jayanto mengatakan, sebenarnya masyarakat nelayan pesisir di Cilacap yang menjadi anggotanya hanya menginginkan kehidupan yang lebih baik, tidak lebih dari itu.

” Kami menginginkan ada kesejahteraan yang lebih baik untuk masyarakat di pesisir pantai yang selama ini memang identik dengan kemiskinan,” ujar Jayanto melelaui keterangan tertulis Minggu (9/9/2018).

Maka kemudian, masyarakat nelayan pun membentuk perkumpulan demi mencapai kesejahteraan hidup secara bersama-sama. Berawal dari komunitas nelayan yang terbentuk menjadi Koperasi Perikanan, dab termasuk koperasi paling tua di tanah air. Karena telah terbentuk sejak zaman penjajahan Jepang.

Tercatat pada tahun 1942 lalu, Koperasi Perikanan yang didirikan dengan nama GYO-GYO KUMIAI (bahasa Jepang). Selanjutnya menyesuaikan Undang-Undang Koperasi Tahun 1958 menjadi Primer Koperasi Perikanan Laut (KPL).

Lalu keluarnya Inpres Nomor 2 Tahun 1978, tentang KUD, maka KPL dan BUUD dileburkan menjadi Koperasi Unit Desa dan kemudian bernama KUD Mino Saroyo.
Menurut Untung Jayanto, nama Mino Saroyo dipilih karena dianggap paling sesuai dengan visi dan misi koperasi. “Mino artinya ikan, Saroyo artinya Bersama-sama sehingga Mino Saroyo artinya koperasi yang bergerak disektor perikanan secara bersama-sama mengelola perikanan untuk menyejahterakan nelayan,” sebut Jayanto.

Tepat pada 15 Januari 1990 lalu, KUD “Mino Saroyo” Cilacap mendapat predikat sebagai KUD Mandiri. Maka tanggal 15 Februari 1990 itulah KUD tersebut mendapatkan SK KUD Mandiri dari Departemen Koperasi, yang waktu itu menterinya Bustanil Arifin SH.

Kini KUD tersebut menjalankan usaha pokok melayani kebutuhan-kebutuhan anggota nelayan dan kebutuhan perbekalan melaut sampai pemasaran hasil perikanan. Selain itu juga penjualan hasil tangkapan ikan nelayan dijual melalui tempat pelelangan ikan (TPI) sebanyak 9 unit yang terletak dimasing-masing Kelompok Nelayan, dimana di Tempat Pelelangan Ikan tersebut terdapat pula sarana usaha milik KUD “Mino Saroyo” Cilacap.

Untung Jayanto mengatakan, KUD yang dipimpinnya terus berkiprah mewadahi para nelayan anggotanya. Bahkan, pengelolaan TPI yang dilakukan oleh KUD tersebut membuktikan adanya peningkatan hasil lelang.

Pihaknya mencatat, sejak TPI Cilacap dikelola KUD Mino Saroyo mulai 2010, hasil lelang meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2009 saat TPI masih dikelola Pemda Cilacap hasilnya hanya mencapai Rp22 miliar.

Namun, sejak 2010 hasil lelang meningkat drastis. Tercatat tahun 2014 mencapai Rp70 miliar, tahun 2016 hasil lelang sebesar Rp45 miliar, dan tahun 2017 melonjak lagi menjadi Rp75 miliar.

Penguatan nilai tukar dolar bahkan sedikit banyaknya mendatangkan keuntungan kepada nelayan di Cilacap. Oleh karena itu, jumlah produksi ditargetkan bisa mencapai Rp100 miliar sampai tutup tahun atau naik dibandingkan tahun lalu Rp75,2 miliar selama 2017. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.