OASE Berikan Pelatihan Membatik Gunakan Canting 0 di Desa Podhek-Pamekasan

pipnews.co.id, Pamekasan – Ada yang menarik di Desa Podhek di Kabupaten Pamekasan (Madura), Jawa Timur, karena hampir seluruh warganya menjadi pengrajin batik secara turun-temurun. Hal inilah yang menggugah anggota OASE (Organisasi Aksi Solidaritas Era) Kabinet Kerja) untuk bertandang kesana.

Tentu kunjuangan tersebut tidak sekedar ingin melihat keunikan hasil kriyanya, tetapi ingin memberikan sentuhan pemberdayaan agar produknya makin berkualitas dan jangkauan pasarnya juga meluas. Bisa dinikmati tidak hanya masyarakat Madura dan Jatim saja, tetapi lebih luas lagi.      

Mereka yang beranjangsana adalah Bintang Puspayoga,  isteri Menteri Koperasi dan UKM, Koesni Harningsih isteri Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Rugaiya Usman isteri Menteri Kordinator bidang Politik Hukum dan Keamanan, serta Kartika Basuki isteri Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat melihat langsung pelaksanaan pelatihan vocational bagi para pengrajin batik Kampung Podhek.  

Peminaan yang diberikan berupa pelatihan,yang pelaksanaanya dilakukan Kemenkop dan UKM, melalui Deputi bidang Sumber Daya Manusia (SDM). Tujuannya adalah untuk meningkatkan kemampuan teknik membatik, sehingga batik yang dihasilkan kualitasnya semakin tinggi.  Hal tersebut terkait dengan didatangkannya mentor ahli batik dari Pekalongan . Dia mengajarkan teknik membatik dengan canting 0.

Menurut Bintang Puspayoga pelatihan tersebut sangat dibutuhkan agar batik dari Kampung Podhek ini dapat bersaing dan memenuhi permintaan pasar dengan tetap mempertahankan ciri khasnya.  

Hadi, pembina pengrajin Podhek mengakui mereka sangat membutuhkan pelatihan untuk meningkatkan teknik membatik, mengingat batik Podhek makin dikenal luas. “Batik Podhek dulu hampir punah karena hanya sebagai sampingan warga desa.  Tapi sejak 2012 mulai berkembang lagi dan membatik kembali menjadi sumber penghasilan masyarakat desa,” kata Hadi, Kamis, (4/2).  

Harga batik juga mulai meningkat yang sebelumnya di bawah Rp 100.000 kini sudah mencapai puluhan juta. Pemasaran batik Podhek diakuinya masih terbatas, mayoritas dikirim ke Pasar Batik 17 Agustus, Pamekasan. Selain itu, pemasaran juga dilakukan secara online dan mulai merambah ke konsumen luar negeri. 

Imbuh Hadi, di desanya kini ada sekitar 200 pengrajin batik yang sudah merupakan generasi kelima. Menurutnya ciri khas Batik Podhek seluruhnya batik tulis dan tidak mengenal batik cap. Menggunakan pewarna celup dan proses pengerjaannya tanpa menggunakan canting rangkap. 

Sebelum berkunjung ke kampung batik,  para anggota OASE mengawali kunjungannya ke Pamekasan dengan mengadakan Sosialisasi Enam Langkah Cuci Tangan di TK Pertiwi, memberikan makanan tambahan,  peralatan sekolah, dilanjutkan dengan sosialisasi IVA Test di RS Kusuma. (Slamet AW)/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.