Peran Koperasi Diharapkan Mampu Tekan Kemiskinan

Pipnews.co.id, Yogyakarta – Dewan Koperasi Indonesia Wilayah (Dekopinwil) DIY mengklaim kondisi koperasi di wilayah tersebut menunjukkan perkembangan kualitas yang lebih baik dibandingkan wilayah lain di Indonesia.

Hal tersebut dinilai dari pemahaman konsep koperasi secara murni di kalangan masyarakat DIY yang menampakkan perkembangan positif dari tahun ke tahun.

Meskipun demikian, Ketua Dekopin Wilayah DIY, Syahbenol Hasibuan menjelaskan, koperasi yang baik secara kualitas tesebut masih kesulitan dalam membesarkan volume usaha, akibat keanggotaannya yang berasal dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

“Tapi yang paling penting dan kita tekankan bahwa koperasi ini mampu berperan untuk mengurangi angka kemiskinan serta menekan kesenjangan sosial yang tinggi di DIY” kata dia Kamis (13/12/2018).

Ia juga menghimbau, agar masyarakat koperasi di zaman sekarang mesti berubah dan mampu mengikuti laju perkembangan teknologi digital yang berkembang pesat.

Selain itu, Syahbenol turut menekankan kepada koperasi agar selalu berpedoman kepada ketentuan koperasi nasional maupun internasional dalam operasionalnya.

Karena, saat ini, dari sejumlah 2.700 koperasi yang terdapat di DIY, sekitar 15 persen diantaranya merupakan koperasi abal-abal.

“Upaya pembinaan tetap kita lakukan kepada koperasi yang kurang baik tersebut, baik melalui pengembangan SDM, pendampingan, maupun pengawasan yang berbasis pada pembinaan bukan lewat hukum,” kata dia.

Lebih lanjut dia menerangkan, bahwa saat ini DIY hanya mempunyai satu koperasi yang menggunakan teknologi digital dalam operasionalnya, yakni koperasi Pasar Indonesia yang bergerak di bidang komoditas kedelai, beras, dan daging.

“Itu untuk Koperasi murni yang melayani bisnisnya secara digital memang baru satu, namun untuk koperasi yang aksesnya untuk penyaluran kredit atau untuk pendataan anggota sudah ada beberapa,” sambungnya.

Minimnya jumlah koperasi yang melayani operasional bisnis nya melalui layanan digital, dinilai dia karena koperasi masih terkendala pada SDM yang belum melek teknologi digital.

“Masyarakat juga kurang menyambut baik bila koperasi layanannya dilakukan secara digital, mereka lebih tertarik pada market place. Makanya kita berharap dan mendorong agar koperasi tetap mengikuti tren perkembangan digital,” pungkasnya. (sumber: Tribunjogja.com)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.