Banyak Produk dan Desain Ditiru, Dua Perajin Bali Urus Sertifikat HAKI Dari Kemenkop dan UKM

pipnews.co.id, Denpasar – Sertifikat Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) berupa hak paten kembali diserahkan Menteri Koperasi dan UKM, kepada dua perajin asal Bali atas produk seni yang dihasilkannya. Mereka adalah I Wayan Panjir (kerajinan perak Motif Colok) dan I Gusti Ayu Adhiatmawati (dompet khas Bali berbahan dasar Kain Endek merek Dadong Bali). Pemberian sertifikat diberikan di sela-sela acara FGD dan Workshop Pelestarian Tradisi Budaya Bali Melalui Perlindungan Kekayaan Intelektual, di Kota Denpasar, Jumat (21/6).

I Gusti Ayu Adhiatmawati mengungkapkan latar belakang dirinya mengurus hak paten dari Kemenkop dan UKM, lantaran sudah banyak yang mencontek karyanya dan mudah dijumpai di pasaran. “Banyak yang mencontek desain dompet kreasi saya. Meski ada bedanya, kualitas bahan di dalam dompet itu berbeda, namun sama-sama desain luarnya berbahan dasar Kain Endek,” jelasnya.

Masih menurut Gusti Ayu, yang dipatenkan adalah nama mereknya, Dadong Bali, dan khusus memproduksi dompet khas Bali berbahan dasar Kain Endek. Desain atau bahannya bisa dicatut orang, namun tidak boleh memakai brand miliknya, yaitu Dadong Bali. Ia pun cerita, awalnya menekuni usaha pembuatan dompet khas Bali tersebut sejak 2011. “Saya membuat desain sendiri. Terkadang saya mencari pola desain di internet, kemudian saya kembangkan sendiri. Saya yang mendesain dan memotong bahan, sedangkan yang menjahit dilakukan tujuh karyawan,” katanya.

Adapun pemasaran produknya mayoritas masih berada di Bali. Kecuali dompet kata Gusti Ayu, sudah terdisplay di Gedung Smesco Indonesia Jakarta. “Saya bersyukur sertifikat hak paten saya sudah keluar, setelah selama empat tahun mengurusnya,” jelasnya lagi.

Sementara I Wayan Panjir yang diwakili anaknya, I Kadek Jayantara, mengatakan bahwa usaha kerajinan berbahan perak tersebut sudah lama digeluti ayahnya. “Ayah saya sekarang berusia 79 tahun dan sedang dalam kondisi sakit. Maka, kedepan, saya yang akan melanjutkan usaha turun-temurun di keluarga kami ini,” jelas Kadek Jayantara.

Ia menambahkan tujuan mengurus hak cipta bagi produk kerajinan peraknya, karena sudah banyak desain-desain produk perak khas Bali milik Ayahnya dipatenkan oleh pihak asing. Dengan dasar itu maka dia mendaftarkan hak cipta desain Motif Colok ke Kementerian Koperasi dan UKM.

Sebetulnya, kata Kadek, Motif Colok itu memiliki enam jenis motif dan desain. Salah satunya adalah motif Bun yang terinspirasi dari pohon Pakis. “Kedepan, kami berharap, klaim asing atas desain produk-produk kami tidak akan terjadi lagi,” tandasnya. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.