4 Koperasi Angkot di Jakarta Mundur Dari OK Otrip, Takut Anggota Rugi

Pipnews.co.id, Jakarta 6 Februari 2018

Dengan alasan para anggota pemilik kenderan takut merugi, maka empat Koperasi Angkutan Kota (Angkot) di Jakarta, tidak ikut serta atau mundur dari Program One Karcis One Trip atau OK Trip (transportasi satu harga untuk satu kali perjalanan) saat diuji coba sejak 15 Januari 2018 hingga tiga bulan ke depan.

Sebelum uji coba, ada enam koperasi angkot yang menurut rencana bergabung. Namun, saat uji coba mulai dilaksanakan, empat koperasi angkot batal ikut serta. Koperasi yang menarik diri itu adalah Kopamilet, Komilet, Kolamas, dan Komika. Sementara dua koperasi yang ikut adalah Koperasi Wahana Kalpika (KWK) dan Koperasi Budi Luhur.

“Tadinya, ada enam koperasi angkutan yang ikut gabung. Tapi yang ikut uji coba cuma dua, yang empat belum, tunda,” ujar Ketua Organda DKI Jakarta Shafruhan Sinungan, pekan lalu di Jakarta.

Shafruhan menjelaskan, keempat koperasi itu masih belum sepakat dengan tarif rupiah per kilometer yang ditawarkan PT Transjakarta. PT Transjakarta menawarkan tarif Rp 3.400 per kilometer, sementara koperasi menginginkan Rp 3.800 per kilometer.

KWK dan Budi Luhur tetap ikut uji coba. Menurut Shafruhan, mereka setuju dengan tarif yang ditawarkan PT Transjakarta.

“Mereka (KWK dan Budi Luhur) yang tanda tangan, berarti mereka menyetujui,” katanya. Seraya menambahkan, jika mengikuti tarif Rp 3.400 yang ditawarkan PT Transjakarta, empat koperasi itu khawatir anggotanya merugi.

Shafruhan menyampaikan, empat koperasi yang belum ikut akan kembali bernegosiasi dengan PT Transjakarta. Sebelum ada kesepakatan, mereka menunda keikutsertaannya pada program OK Otrip.

“Dari awal belum ikut uji coba karena sedang mengevaluasi dasar perhitungannya. Koperasi ini anggotanya perorangan, tentu mereka tidak mau dengan bergabung, pendapatan mereka turun,” kata Shafruhan.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah menyampaikan, pihaknya akan menghitung kembali tarif rupiah per kilometer tersebut. Dia menyebut, ada beberapa komponen yang kemungkinan belum masuk dalam hitungan.

“Contoh, satu armada harusnya dua sopir sehari. Itu kan sopir di samping mendapatkan (gaji) UMR (upah minimum regional), juga dapat BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Ternyata yang dihitung baru satu sopir, satunya belum. Kami menyesuaikan dengan kondisi existing kebutuhan bagaimana operasional OK Otrip berjalan optimal,” ujar Andri.

Hingga 100 kerja Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan wakilnya, Sandiaga Uno, pada 24 Januari 2018, baru 46 angkot dari Koperasi Budi Luhur dan KWK yang ikut uji coba OK Otrip.

“(Sebanyak) 46 angkot, (dari) 2 operator, KWK dan Budi Luhur,” kata Wakil Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Sigit Wijatmoko.

Sementara itu, rute yang sudah diterapkan OK Otrip baru ada tiga. Ketiga rute itu adalah Kampung Melayu-Duren Sawit, Semper-Rorotan, dan Kampung Rambutan-Pondok Gede. (Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.