Buruh Migran Datangkan Devisa Rp 108 Triliun per Tahun

PIPNews.co.id, Jakarta – Sebutan pahlawan devisa buat TKI/TKW memang tidak berlebihan. Pasalanya uang dari luar negeri yang masuk ke Indonesia per tahun mencapai triliunan rupiah. Pada 2017 saja uang yang tercatat mencapai 8 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 108 triliun.

Data riilnya tercatat pada Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI), mencatat pengiriman uang dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) atau Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke negara asalnya (remitansi) hingga November 2017 mencapai US$ 8 miliar atau setara Rp 108 triliun. Data remitansi ini diperoleh dari kolaborasi antara BNP2TKI dan Bank Indonesia.

Demikian dijelaskan Kepala Bagian Humas BNP2TKI, Servulus Bobo Riti, bahwa remitansi ini bila dibandingkan pada periode sama tahun sebelumnya ada penurunan sebesar 1,06% atau tercatat US$ 8,1 miliar/setera Rp 108,32 triliun.
Penurunan itu kata Bobo karenak ada penurunan remitansi untuk kawasan Timur Tengah dan Afrika, sebesar 7,15%, kawasan Amerika sebesar 66,28% dan kawasan Eropa dan Australia sebesar 24,22%.

Dia menambahkan penurunan jumlah remitansi ini terjadi antara lain dipengaruhi adanya kebijakan pemerintah yang mendorong peningkatan penempatan PMI formal. Disamping sebagai dampak nyata dari kebijakan penutupan penempatan TKI informal ke kawasan Timur Tengah. Atau ada faktor terbatasnya peluang kerja bagi tenaga kerja asing di beberapa negara penempatan PMI yang disebabkan dampak ekonomi global yang fluktuatif.

Masih kata Bobo sebagian besar TKI bekerja sebagai pembantu rumah tangga (PRT) atau pengasuh anak, pekerja pertanian, pekerja konstruksi, dan pekerja pabrik. Kemudian, ada yang bekerja menjadi perawat lansia, pekerja toko, restoran, dan hotel, menjadi supir, serta bekerja di kapal pesiar.

Sementara sesuai data Bank Dunia, ada sekitar 55% dari 9 juta PMI, bekerja secara non-prosedural. Dengan kata lain sebagian besar menjadi pekerja dengan dokumen dan jalur-jalur yang ilegal.

“Padahal kalau PMI bekerja secara prosedural, mereka bisa mengurangi risiko beban kerja yang tak sesuai, dan bisa meminimalisasi proses penganiayaan atau pelecehan yang kerap terjadi,” ujarnya di Jakarta, Senin (12/2).

Bobo menambahkan, dari sisi kawasan yang terbanyak mengirimkan uang adalah negara kawasan Asia, seperti Malaysia, Hong Kong, Taiwan, Singapura, Korea Selatan dan Jepang. Sedang untuk kawasan Timur Tengah adalah Arab Saudi, Qatar dan Kuwait.(awes).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.