Du’ Anyam Wadah Potensi Kaum Ibu NTT Membangun Bisnis dari Warisan Budaya

Pipnews.co.id, Jakarta – Persoalan menganyam daun lontar di provinsi Nusa tenggara Timur (NTT) khususnya di Kabupaten Flores memang sudah berlangsung turun-temurun. Tetapi tanpa kepedulian yang maksimal hasil karya apik ini tak akan beranjak, apalagi mampu dikenal dunia. Hanya melalui peran sang peduli itulah anyaman lontar nan eksotik ini dikenal dan bisa dinikmati di berbagai tempat.

Adalah Azalea Ayuningtyas, Co-Founder dan CEO Du’Anyam yang turut memperkenalkan anyaman tersebut merambah ke ranah yang makin luas ini. Menurut Ayu, demikian perempuan berusia 27 tahun itu biasa disapa, menceritakan anyaman yang merupakan budaya khas di banyak daerah di Indonesia. Dan, salah satunya di NTT ini, sudah mejadi kegiatan keseharian para ibu dengan cukup terampil.

Sementara untuk bahan baku yaitu daun lontar juga tersedia melimpah, dengan demikian warisan budaya ini akan terus langgeng. Hanya saja jika tidak memiliki akses pasar tidaklah akan membawa nilai tambah secara ekonomi bagi para pelakunya. Maka, melalui kepedulian orang yang jeli dan tulus untuk mengangkat citra anyaman lontar ini akan memiliki arti penting karena akses pasar makin terbuka luas.

“Kami menggandeng para wanita di Flores ini yang selama ini menggantungkan kehidupannya dari menganyam daun lontar untuk sama-sama membangun bisnis,” ujarnya.

Ayu menambahkan, lewat Du’Anyam inilah dia dan teman-temannya dapat membantu ibu-ibu dan wanita di 20 desa di Flores untuk lebih banyak menghasilkan produk kerajinan anyaman dari daun lontar itu dengan tetap mempertahankan ciri khas desain tradisional.

Du’Anyam menghasilkan tas, sepatu dan beragam suvenir serta produk kerajinan berbahan daun lontar lain. “Produk ini kami jual di beberapa resor, hotel, dan toko suvenir di Bali,” Ayu menambahkan.

Uang hasil penjualan itu kata Ayu digunakan untuk memperbaiki dan memenuhi kebutuhan pangan sehat anak-anak dan para ibu. Menurut Ayu tingginya angka malnutrisi di Flores disebabkan para orang tua tidak memiliki cukup uang untuk membeli makanan bergizi bagi kebutuhan sehari-hari anak dan mereka sendiri. “Dan kami melalui wadah bisnis Du’Anyam hadir untuk memenuhi itu,” imbuh Ayu.

Ayu menyadari bisnis sosial yang sedang ia jalankan masih tergolong sangat kecil dan muda. Diakuinya masih banyak tantangan yang harus dihadapi bersama teman-temannya, agar bisnis ini menjadi makin matang. Terutama, kata Ayu, dalam hal mencari investor untuk pendanaan.

Menurut Ayu Du’Anyam membiayai aktivitasnya dari pendanaan jangka pendek, yakni dari hasil memenangkan berbagai kompetisi kewirausahaan sosial, seperti MIT Global Ideas Challenge 2014, UnLtd Indonesia Incubation profram 2014-2016, Global Social Venture Competition 2015, serta dana hibah dari Tanoto Foundation. (Slamet AW)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.