IKM Milenial Dari Jombang Ikut Festival Kopi di Harkop ke-72 DKI Jakarta

Pipnews.co.id, Jakarta – Gerakan Koperasi Wilayah DKI Jakarta, yang dalam hal ini diwadahi Dewan Koperasi Wilayah (Dekopinwil) DKI Jakarta baru saja memperingati Hari Koperasi (Harkop) ke-72 Tahun 2019. Momentum bersejarah bagi gerakan koperasi ini digelar di pusat perbelanjaan “Transmart Mall Cilandak”, Pasar Minggu, Jakarta Selatan selama tiga hari (6-9 September 2019).

Hadir dalam acara ini Deputi Bidang Kelembagaan Kementerian Koperasi dan UKM Luhur Pradjarto, yang sekaligus juga didaulat untuk membuka Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Dekopinwil DKI Jakarta tahun 2019. Maklum peringatan Harkop ini juga dirangkai dengan pelaksanaan Rakerwil Dekopinwil Jakarta. Di sana juga tampak Dina Latifah mewakili Pimpinan Paripurna Dekopin, Ketua Dekopinwil DKI
Jakarta Nuraeni Barung, serta sekitar lima puluhan anggota Dekopinwil Jakarta, yang terdiri dari enam Dewan Koperasi Daerah (Dekopinda) dan 40-an Pusat Koperasi/Primer Koperasi tingkat provinsi.

Namun ada yang tampak berbeda dari Harkop kali ini, yang selain dirangkai dengan Rakerwil, sekaligus juga dipadukan dengan pelaksanaan Festival/Pameran Produk Kopi. Hebatnya lagi, para peserta yang terdiri dari beragam produsen kopi dan kuliner kopi, tidak hanya datang dari seputar Jakarta, tapi juga dari berbagai daerah, diantaranya dari Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Sedikitnya ada empat orang Milenial (pengusaha muda) kopi dari Jombang yang ikut pemeran dengan membawa beragam produk kopi kemasan, yang merknya berbeda-beda. Diantaranya Zinay Coffee (pemilik Satoto Budi), Kopi Bagong (pemilik Prita Aprinia), Kopi Jegidik dan Kopi Be’ (pemilik Weni Desitiyo) dan Arum Kopi (pemilik Satria Rindang).

Dalam percakapan di tempat pameran, tepatnya di Stand Kopi Kabupten Jombang, pemilik produk Arum Kopi, Satria Rindang mengaku kepada Pipnews, bahwa keikutsertaaan mereka berempat di pameran tersebut tidak berdiri sendiri, atau mandiri. Melainkan mendapat fasilitas dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jombang.

“Soalnya, kami berempat yang masuk golongan milenial/pengusaha muda kopi masih, dan dikatagorikan sebagai pelaku Industri Kecil Menengah (IKM) masih dalam tahap pembinaan dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Jadi kami-kami ini tak lebih semacam praktek lapangan untuk mencari pengalaman, dan sekaligus promosi” kata Satria Rindang.

Satria, yang lulusan Sarjana Agribisnis Bisnis (SAB) Universitas Islam Malang mengaku, bahwa berbisnbs mengelola kopi kemasan sudah dimulai sejak dua tahun lalu, setelah sebelumnya mendapat pembinaan dari pengarahan dari Dinas Perindustrian setempat.
Ia mengatakan sampai saat ini baru ada dua bentuk kemasan kopi yang diproduksi, yang satu berukuran 200 gram dan lainnya 215 gram. Kalau yang 200 gram dijual seharga Rp 30.000 setiap kemasan, sedang yang 215 gram sebesar Rp 50.000. Selain dijual secara ketengan di warung kopi miliknya, juga dijual secara online dan pernah mendapat pesanan kopi dari Bandung 10 bungkus.

Meskipun demikian, Satria mengaku omset penjualan kopi kemasan yang dikelolanya belum begitu besar, yang rata rata setiap minggunya terjual 100 bungkus, atau sekitar 400 bungkus setiap bulannya. Atau dengan kata lain sekitar Rp 24 juta setiap bulannya. “Jadi masih butuh perjuangan dan promosi ke sana kemari,” ujarnya.

Sementara itu, Syamsul Ma’arif dari Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Jombang yang mendampingi ke-empat Milenial/IKM Kopi membenarkan apa yang dikatakan Satria, bahwa pihaknya dalam mengembangkan SDM pelaku IKM, tidak hanya sekadar dengan kata-kata pengarahan saja, tapi sekaligus juga praktek lapangan.
“Secara kebetulan ada tawaran proposal pelaksanaan pameran datang dari pantia Harkop ke-72 Jakarta, ya kita daftarkan ikut sebagai peserta. Untuk memberangkatkan empat orang Milenial IKM ini, termasuk biaya pameran dan penginapannya mengabiskan dana sebesar Rp 40 juta, dan itu diambil dari APBD,” kata Syamsul Ma’arif.

Adji Gutomo, sekalu Ketua Panitia pelaksana pameran mengatakan, pada pameran kali ini pesertanya memang tidak hanya datang dari Jakarta saja, tapi juga daerah lainnya. Sekitar 30 stand dari 40 stand yang tersedia, diisi pengusaha produsen kopi dan kuliner kopi, sedang sisanya pro kerajinan dari pelaku UMKM. (Yan).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.