Dinamika

Ketua KSP Nasari : Pembinaan Koperasi Bukan Lagi Kuantitas Tapi Kualitas

Pipnews.co.id, Jakarta 8 September 2018.

Sahala Panggabean, pendiri Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Nasari-Semarang, mengungkapkan kondisi koperasi di Indonesia saat ini. Kata dia, pembangunan dan pembinaan terhadap koperasi di Indonesia oleh pemerintah tidak lagi didasarkan pada kuantitas melainkan kualitas.

Hal itu ditandai dengan banyaknya koperasi tidak aktif yang dibekukan atau dilikuidisasi di era kepemimpinan Jokowi-JK di bawah intruksi Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

“Yang kami garisbawahi pada era pemerintahan bapak Jokowi dan JK bersama Pak Menteri Puspayoga bahwa semula jumlah koperasi 212.570 unit langsung banyak dipangkas menjadi 152.714 unit. Ada jumlah 59.876 yang dibubarkan,” kata Sahala dalam acara ulang tahun ke 20 Nasari di Gedung Smesco, Jumat (7/9/2018).

Dia mengungkapkan, sejak 2017 tercatat Koperasii yang aktif sebanyak 80.088 unit. “Artinya aktif ini adalah konsekuen melaksanakan rapat anggota tahunan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada pengurus, anggota dan stakehokder,” ujarnya.

Sementara sisanya yang tidak aktif sekitar 72.706 unit koperasi. Koperasi yang tidak aktif tersebut sudah dibubarkan. Bahkan saat ini juga terakhir tahun 2018 dari 149.821 unit masih ada lagi yang akan dibubarkan atau dilikuidasi sebanyak 3.531 unit.

“Jadi selama Pemerintahan Jokowi sudah dibekukan koperasi yang tidak aktif 63.387 koprasi. Artinya disini tidak lagi main-main untuk memajukanan koperasi. Bukan lagi kuantitas tapi kualitas bahwa Koperasi penggerak ekonomi rakyat.

Sementara iitu, Menteri Koperasi dan UKM, Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga yang didaulat membuka Ultah Nasari mengatakan, dari kacanata kementerian yang dipimpinnya, kontribusi Koperasi pada Produk Domestik Bruto (PDB) sudah cukup besar.

Sebagai gambaran lanjut dia, bisa dilihat pertumbuhanpada empat tahun terakhir. PDB tahun 2014 (1,71 persen), di 2015 naik jadi (4,41 persen). Tahun 2016 turun sedikit jadi (3,99 persen) dan tahun 2017 naik lagi jadi (4,48 persen). “Sementara tahun 2017 direncanakan bisa 6,5 persen.” Ujar Puspayoga.

Menurut dia, kondisi tersebut bisa terjadi karena ditunjang oleh beberapa kelonggaran atau relaksasi relugasi dari pemerintah. Salah satunya adalah penurunan pajak koperasi dan beberapa kemudahan lainnya. “Pajak diturunkan menjadi 0,5 persen.” kata dia.

Koperasi juga mempunyai indikator yang sama dengan perbankan, salah satunya adalah rasio Non Performing Loan (NPL) atau kredit bermasalah.

“Ada rasio-rasio yang sama dengan perbankan bahwa rasio NPL atau kredit macet itu di koperasi hanya di bawah 2 persen per bulan. Sedangkan kalau diperbankan NPL 5 persen masih ambang dinyatakan sehat,” imbuhnya. (Yan)

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button