Klub Sepak Bola Bayangkara FC, Kini Dimiliki Koperasi Zebra Jaya

Pipnews.co.id, Jakarta – Pemilik Bhayangkara FC saat ini adalah Koperasi Zebra Jaya, yang menaungi pegawai dan eks-karyawan Korps Lalu Lintas Mabes Polri. Koperasi ini beralamat di Jalan Letjen M.T. Haryono Kaveling 37-38, satu alamat dengan Korlantas Polri.

“Koperasi Zebra Jaya memang tidak ada dalam struktur Korlantas. Kami hanya bisnis. Korlantas institusinya. Semua anggota Korlantas adalah anggota koperasi. Dari yang paling tinggi sampai paling rendah,” ujar Purnawirawan Kombes (Pol) Agus Rumekso Carel kepada Tirto pada peluncuran Bhayangkara FC di Hotel Borobudur, 23 Februari lalu.

Koperasi ini menguasai 90 persen saham sebesar Rp900 juta di PT Mitra Muda Inti Berlian (MMIB), perusahaan legal Bhayangkara FC. Kepemilikan dominan Koperasi Zebra Jaya di PT MMIB baru terjadi musim ini. Saat kompetisi Liga 1 musim lalu, Bhayangkara FC masih di bawah penguasaan Koperasi Primkopol Zebra Jaya Mandiri Ditlantas milik Polda Jatim di Surabaya.

Kala itu koperasi milik Polda Jatim menguasai 54,9 persen saham, dan Koperasi Zebra Jaya hanya 35,1 persen saham. Formasi ini tertuang dalam akta perusahaan pada 4 Agustus 2016. Namun, setelah klub berjuluk The Guardian ini juara, komposisi saham berubah pada 23 November 2017: nama Polda Jatim terdepak.

Agus Rumekso Carel saat ini menjabat Ketua Koperasi Zebra Jaya. Jabatan ini membuatnya diberi peran sebagai Direktur Utama PT MMIB.

Soal peralihan saham dari Koperasi Primkopol Polda Jatim ke Korlantas Mabes Polri, ia berkata semuanya berjalan “sesuai prosedur” dan tidak ada instruksi penyerahan paksa dari daerah ke Jakarta.

“Transaksi sesuai mekanisme. Alasan kami ambil karena secara home sudah di sini (mes Bhayangkara FC terletak di Melawai, Jakarta Selatan) dan kami sudah mampu, akhirnya kami ambil alih,” dalih Agus.

Lantas bagaimana koperasi Korlantas Mabes Polri bisa membiayai klub Bhayangkara FC? Sebagai pemilik saham terbesar, Agus menjawab koperasi yang ia kelola memang tak pernah mengeluarkan biaya sepeser pun untuk operasional klub.

“Kami ada sponsor. Kalau enggak ada sponsor, ya enggak kuat. Sponsor itu mitra kami, harus pintar-pintar bersahabat saja,” katanya.

Ketika ditanya berapa persen bantuan sponsor untuk memenuhi kebutuhan tim, Agung menjawab singkat: “Hampir semuanya”.

Bhayangkara FC mendapatkan sorotan lain sebab membawa embel-embel nama Polri yang berpotensi membantu mereka melalui kompetisi. Tapi Agus menampik. “Enggak juga, lah. Kami profesional. Ada benefit promosi yang mereka rasakan. Saling simbiosis,” kata Agus.

Musim lalu, Bhayangkara FC mendapat sponsor dari Bank BNI senilai Rp10 miliar. Angka ini boleh dikata cukup besar karena hanya dikeluarkan oleh satu sponsor dengan durasi setahun saja.

Kejadian di Bhayangkara jadi satu hal langka dalam persepakbolaan Indonesia. Jika dikomparasikan dengan klub lain, sekelas Go-Jek saja membayar Rp 1,5 miliar agar bisa muncul di jersey Persija. Atau Arema FC yang harus bersusah payah mengkolektifkan Torabika, Corsa, dan Ijen Suites agar terkumpul Tp 7 miliar. Relasi BNI dan Bhayangkara FC adalah hubungan saling menguntungkan—atau “simbiosis” dalam istilah Agus. Di luar urusan bola, Bank BNI dikenal mitra terdekat Mabes Polri.

Beberapa kerja sama dua lembaga milik negara ini adalah penerbitan dan pengelolaan Kartu Debit, Kartu Kredit, maupun Tapcash BNI-Polri Promoter. Selain itu, BNI mengelola pembayaran secara elektronik (e-Samsat), dan Penyaluran Dana Tunjangan Kinerja (Tunkin) keluarga besar Polri.

Titik puncak relasi ini terjadi pada 20 Desember 2017 saat Kakorlantas Mabes Polri, Irjen Royke Lumowa—juga CEO Bhayangkara FC—menunjuk BNI sebagai mitra resmi untuk mengelola dana Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) dan layanan pembayaran berbagai dokumen terkait kendaraan bermotor.

Hubungan antara Bhayangkara FC dan sponsor dari BUMN juga dicontohkan lewat asuransi Jasa Raharja pada musim ini. Ini tak terlepas dari peran Agus Rumekso Carel. Sebelum pensiun tahun lalu, Agus adalah Kepala Bidang Manajemen Operasional dan Rekayasa Lalu Lintas, yang pekerjaannya berhubungan dengan Jasa Raharja—keduanya bergerak di bidang keselamatan berkendaraan. Agus enggan menjawab saat disodorkan temuan ini.

Ketertarikan polisi dan sponsor yang rata-rata dari BUMN memang sudah diplot sedemikian rupa dari Istana. “Memang Polri untuk kelola sepakbola sudah ada mandat dari Pak Jokowi. Dan sponsor kebetulan percaya kepada kami,” kata Agus.

Ucapan Agus senada dengan Gede Widiade, mantan pemilik Bhayangkara FC tapi kemudian menjualnya ke polisi. “Karena seperti imbauan dari presiden, instansi pemerintahan lewat induk organisasinya membantu perkembangan sepakbola nasional,” ucap Gede. (Tirto/Yan)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*