Sejarah Terbentuknya Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI)

Pipnews.co.id, Jakarta 2 Okteober 2018

Bicara batik bagi insan koperasi yang akan teringat adalah GKBI dan sebagian besar masyarakat Jakarta akrab dengan tulisan GKBI. Hal itu karena gedung GKBI (Wisma GKBI) berada persis disamping Jembatan Semanggi yang merupakan salah satu ikon kota Jakarta selain Monas. GKBI adalah singkatan dari Gabungan Koperasi Batik Indonesia .

Hari ini, selasa 02 oktober 2018 yang bertepatan dengan Hari Batik Nasional akan diulas sedikit sejarah berdirinya Gabungan koperasi batik Indonesia.

Batik menjadi produksi paling utama di Jawa. Perkembangan Batik menjadi amat kuat setelah ditemukannya metode penanaman serat kapas (ciam) dari tanaman Jong yang sangat ahli dilakukan oleh orang-orang Cina di Pekajangan (Pekalongan) pada tahun 1880. Ditemukannya serat ini membuat jiwa dagang orang Pekalongan tumbuh. Banyak dari saudagar-saudagar Pekalongan baik keturunan Cina atau Jawa asli yang berpindah ke Solo dan membangun usaha Batik.

Kemudian pada tahun 1898, Sunan Pakubowono X, Raja Solo yang baru diangkat beberapa tahun sebelumnya memerintahkan dibangun sebuah sentra perdagangan sekaligus koperasi-koperasi bagi usaha Batik. Konsep Koperasi menjadi obsesi Sunan Solo setelah membaca sebuah buku tentang Koperasi di Inggris tentang industri tekstil. Atas titah Sunan inilah kemudian berdiri puluhan koperasi di Solo. Lantas kemudian diikuti berdirinya koperasi diluar wilayah Voorstenlanden (Solo dan Yogya) yaitu di Pekalongan, Semarang dan Cirebon.

Pada tahun 1948, beberapa pengusaha Solo dan Pekalongan bertemu untuk membangun sebuah gabungan koperasi batik Indonesia. Lalu beberapa orang dipimpin Haji Djunaid menghadap ke Pemerintah Indonesia yang saat itu berada di Yogyakarta.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan mengajak para pengusaha bergabung dan bersatu membentuk “Gabungan Koperasi Batik Indonesia”. Atau disingkat “GKBI”. Kekayaan GKBI sempat berjaya ketika Pemerintahan Republik Indonesia di tahun 1950-an memutuskan bahwa GKBI dilindungi pemerintah dengan memberikan konsesi khusus harga pada kain mori dan penyediaan kain putih. Pada tahun 1960 bahkan Presiden Sukarno mengajak seluruh rakyat memakai batik sebagai pakaian nasional. Sejak 1964 pesta-pesta pernikahan resmi yang tadinya orang-orang mengenakan jas ala Belanda mulai banyak yang memakai batik sebagai bentuk pakaian formal.

Kehancuran industri batik justru terjadi pada masa pemerintahan Suharto yang tidak lagi melihat batik sebagai kekuatan industri nasional. Suharto mencabut monopoli khusus peredaran batik oleh GKBI dan konsesi-konsesi lainnya serta meliberalisasi impor tekstil yang membuat batik terpuruk oleh jenis pakaian lain yang lebih murah. Puncaknya adalah tahun 1985 batik menjadi hancur setelah GKBI terjerat hutang ke banyak pihak.

Industri batik nasional kemudian surut ke belakang dan diramalkan akan punah. Penyelamat dari kesadaran batik nasional justru terjadi di kalangan elite dan sosialita negeri ini. Adalah Iwan Tirta yang berhasil membangun kekayaan batik nasional dengan menciptakan batik high-end dengan kain sutera dan berbenang emas. Tirta mengenalkan ke banyak kepala negara, bahkan Nelson Mandela seakan-akan tak lepas dari baju batiknya.

Pada 2 Oktober 2009, UNESCO mengukuhkan batik Indonesia dalam daftar Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi, di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Batik berhasil diakui dunia internasional sebagai warisan budaya asli Indonesia. … Selamat Hari Batik Nasional . (MAS)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.