Jawa Timur

Saatnya Koperasi Menyusun Masterplan Pengembangan Koperasi

Sidoarjo, PipNews.Co.Id – Sedikitnya 40 orang lebih yang terdiri dari penggiat koperasi, aktifis koperasi, praktisi ekonomi, pengambil kebijakan, dan akademisi dari beberapa provinsi hadir dalam acara Sunday Training yang diselenggarakan oleh Lapenkop Dekopinwil Jatim dengan tema Cooperative Masterplan Development dan Stakeholder Engagement. Minggu (14/2/2021).

Kepala Lapenkop Wilayah Jatim, Mohammad Faishol Chusni sekaligus sebagai Tuan Rumah Sunday Training menandaskan agar materi yang disampaikan pada kesempatan tersebut dapat diadaptasi koperasi dan diimplementasikan dengan sungguh-sungguh agar koperasi semakin kuat perannya.

Lebih lanjut ia memaparkan panduan teknis dalam melakukan penyusunan masterplan koperasi yang bisa digunakan oleh para penggiat koperasi dalam menyusun Mater Plan koperasi.

“Sengaja kami menghadirkan materi dan pemateri yang sangat berpengalaman dibidangnya untuk memberikan insight baru bagi koperasi. Semua harus dihadirkan agar memberikan warna terang bagi kemajuan koperasi. Sunday Training ini bukan Webinar yang satu arah, tetapi ekosistem berdiskusi para pemerhati koperasi untuk memikirkan bagaimana koperasi dapat terus berkembang,” ujarnya.

Sementara itu, menurut praktisi strategic partnership dan pemerhati bisnis sosial, koperasi dan UMKM, Jalal yang hadir sebagai pemateri mengemukakan pentingnya memahami Stakeholder engangement yang diramu dalam materi pelatihan Pemangku kepentingan yaitu konsep, praktik dan perkembangan mutakhir. ia membuka dengan menjelaskan perkembangan konsep stakeholder, bagaimana melakukan mengelola stakeholder dengan tepat dan implementasinya dalam konteks koperasi.

“Stakeholder dalam arti luas adalah kelompok dan individu yang dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan dari sebuah organisasi tersebut. Semakin jelas purpose sebuah organisasi, maka semakin mudah memetakan siapa stakeholder prioritas dan semakin mudah pula mengelolanya dengan baik. Begitu pula sebaliknya,” Tegas Jalal.

Oleh karena itu, lanjutnya, sangatlah penting melakukan pengkajian strategi dengan manajemen pemangku kepentingan. Pendekatan ini dilakukan oleh berbagai perusahaan terkemuka dalam membina hubungannya dengan para pemangku kepentingan bisnisnya, yang tentunya juga dapat diadopsi juga untuk pengembangan strategi dan usaha koperasi.

Menurutnya terdapat lima langkah dalam melakukan manajemen pemangku kepentingan, yaitu (1) Engangement strategy, dimana kita perlu melakukan penetapan visi yang jelas dan mengkaji ulang strategi. (2) Stakeholder mapping, disini kita perlu mendefinisikan pemangku kepentingan yang memiliki pengaruh, keahlian, orientasi, kerentanan, kapasitas dan tingkat kepercayaan didalam organisasi. (3) Preparation, dalam hal ini kita perlu fokus pada tujuan jangka panjang dan mempersiapkan kebutuhan engagement serta batasannya. (4) Engagement, dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan yang berfokus pada mitigasi dan prioritasnya (5). Action plan menjadi langkah untuk mengidentifikasi peluang untuk mendapatkan feedback dan tindakan serta rencana untuk kepentingan engagement berikutnya.

Tidak jauh berbeda dengan pemateri sebelumnya, praktisi perencanaan strategis dan pemberdayaan masyarakat, Wahjudin Sumpeno yang lebih fokus terhadap pengembangan Masterplan Koperasi dengan memaparkan masalah-masalah yang umum ditemui pada koperasi di Indonesia, dan memberikan pandangan perencanaan koperasi yang menekankan pentingnya perencanaan awal, terutama dalam penetapan Visi dan misi.

Wahyudin memberikan contoh salah satu koperasi sukses melakukan perencanaan strategis yang pernah didampinginya adalah KUD Makmur di Kalimantan Selatan. KUD ini mentransformasikan bisnisnya dari perkebunan, yang profitnya terpukul karena pengaruh market global, menjadi usaha pertambangan yang sangat profitable dengan melakukan perencanaan strategis yang terencana dan terukur dengan baik.

“Sudah saatnya koperasi Shifting (berpindah, red) dari hanya melakukan perencanaan jangan pendek, menjadi perencanaan jangka menengah, koperasi harus visi yang jelas dan bagaimana mencapai visi tersebut, sehingga koperasi menjadi tahu kemana ia melangkah, bagaimana mencapai tujuan dan kapan bisa mewujudkan tujuan,” tandasnya.

Penulis : Mohammad Sulton, UPT Pelatihan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Timur

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button