Kerja Keras Koperasi Mencapai Target Pembangunan Berkelanjutan (SDGs 2030).

 

LAPORAN DARI KONFERENSI KOPERASI UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN. COLOMBO – SRI LANKA.

Konferensi Kerjasama Koperasi Asia Pasifik (APCD) akan diselenggarakan dengan tema Membangun Kemitraan Multi-Stakeholder untuk Pembangunan Berkelanjutan di Hotel Galadari, Kolombo (Sri Lanka) dari 27-28 Februari 2018. Organisasi penyelenggara konferensi ini adalah International Cooperative Alliance-Asia Pacifik (ICA-AP), Kemitraan ICA-EU untuk Koperasi dalam Pembangunan: People Centered Business in Action (# coops4dev) dan Gerakan koperasi Sri Lanka yang dipimpin oleh National Cooperative Coucil (NCC), Federasi Koperasi Konsumen (COOPFED), Federasi SANASA, Koperasi Hemat & Koperasi Kotikawatta dan Institut Pengembangan Koperasi Nasional.

Konferensi ini merupakan forum dialog yang strategis antar berbagai stakeholder dan pengambil kebijakan tentang bagaimana membangun kemitraan untuk pembangunan berkelanjutan sejalan dengan rumusan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) 2030. Ada 4 tema yang akan dibahas dalam konferensi ini yakni (1) Pengentasan Kemiskinan : Peluang, Perlindungan dan Pemberdayaan, (2)  Membangun Sistem Pangan yang Berkelanjutan : Kelaparan, Ketahanan Pangan dan Kebutuhan Sehari-hari, (3) Peningkatan Akses terhadap Layanan Kebutuhan Dasar : Ekonomi Sosial dan Kultural, (4) Perlindungan terhadap Lingkungan : Kepedulian terhadap Komunitas termasuk didalamnya bagaimana mendorong keterlibatan generasi muda, sebagai salah satu strategi penting ICA-Asia Pacific dalam menjamin Keberlanjutan Pembangunan Koperasi.

Para pemangku kepentingan dari berbagai sektor mendiskusikan berbagai hal mengenai kebijakan pembangunan, yang bertujuan untuk menciptakan kemitraan, pertukaran dan pengembangan terstruktur antara koperasi dan pemangku kepentingan dalam upaya Pembangunan Berkelanjutan dan tujuan-tujuannya (SDGs). Sebagai mana telah terprogramkan empat sesi tematik tentang Pemberantasan Kemiskinan: Kesempatan, Perlindungan dan Pemberdayaan; Membangun Sistem Pangan yang Lebih Berkelanjutan: Kelaparan, Ketahanan Pangan dan Mata Pencaharian; Meningkatkan Akses terhadap Barang dan Jasa Dasar: dilihat dari Aspek Ekonomi, Sosial dan Budaya; Bagaimana Melindungi Lingkungan: Perhatian untuk Masyarakat. Kemudian pada puncaknya bersamaan dengan dibentuknya sesi panel kerja mengenai tiga Prioritas Pembangunan Strategis Asia Pasifik yaitu, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan; Youth Inclusion and Exploring ‘Work’ dan ‘Ownership’ Structures in Co-operatives. Yakni bagaimana keterlibatan generasi sekarang dalam struktur kerja serta kepemilikan koperasi.

Pidato pembukaan Konferensi yang mewakili Pemerintah Sri Lanka selaku tuan rumah disampaikan oleh H.E. Abdul Rishad Bathiudeen, Menteri Perindustrian dan Perdagangan, Sri Lanka. Upacara pembukaan juga dihadiri oleh para narasumber terkenal lainnya seperti Milinda Rajapaksa, Dosen Wisata, Universitas Kelaniya & Mantan Direktur Konferensi Pemuda. Shainujaa Inpanathan, Anggota (batticaloa), Sri Lanka Youth Parliment, H.E. Daniar Imanaliev, Wakil Menteri Ekonomi, Pemerintah Republik Kyrgyztan, dan H.E. Gamini Jayawickrama Perera, Menteri Pembangunan Berkelanjutan dan Kehidupan Liar, Sri Lanka.

Konferensi yang berlangsung selama dua hari diikuti oleh partisipasi dari 23 negara dan menampilkan berbagai presentasi dari organisasi anggota-anggota ICA, Badan lembaga internasional seperti ILO, UNDESA, AGRITERRA, dan perwakilan vocal poin tentang pembangunan berkelanjutan dari berbagai negara. Untuk mengikuti dan mengakses materi dan program konferensi ini kita dapat menangkap sorotan, kutipan, dan foto pembicara dengan mengikuti hashtag # APCDC2018 di saluran media sosial milik ICA-AP.

Fokus pembicaraan pada konferensi ini dimulai dengan isu mengenai bagaimana para pemangku kepentingan dapat bekerja untuk menciptakan kemitraan baru antara koperasi dan pemangku kepentingan dalam mendorong pembangunan berkelanjutan. Konferensi ini sebelumnya telah menetapkan beberapa sasaran yang menjadi fokus koperasi dalam mencapai target pembangunan berkelanjutan (SDGs).  Target mengenai Pengurangan Kemiskinan (No Poverty), Hilangnya Kelaparan (Zero Hunger), Kehidupan bawah laut (Life below water), Tanggungjawab Produksi dan Konsumen (Responsible Consumtion and Production), serta Kemitraan untuk Pembangunan (Partnership for Development) menjadi beberapa isu yang ingin dicapai koperasi bersama-sama sejalan target pembangunan berkelanjutan (SDGs).

Panel pertama tentang ‘Pemberantasan Kemiskinan: Kesempatan, Perlindungan dan Pemberdayaan’ diisi oleh berbagai pembicara yang mewakili pemangku kepentingan dari dalam dan luar gerakan koperasi. Sessi ini dimoderatori oleh Robby Tulus, Mantan Direktur Regional ICA-AP. Pembicara terdiri dari Savitri Singh, Direktur Program, ICA-AP; Upali Herath, Managing Director Co-operative Insurance, Sri Lanka; Mounir Kleibo, Direktur ILO, Palestina; Jeyavathany Thillainadarasa, SEWA, Sri Lanka; dan presentasi video oleh M. Wenyan Yang, Kepala Perspektif Sosial di Cabang Pengembangan, Divisi Kebijakan & Pengembangan Sosial, Departemen Ekonomi dan Sosial (UNDESA) organisasi PBB, New York.

Savitri Singh menyoroti konsentrasi kekayaan di tangan orang terkaya di dunia berjumlah 1%. Dia mengatakan bahwa menangani kemiskinan adalah tujuan awal dari model perusahaan koperasi, dan persoalan kemiskinan ini tetap menjadi pendorong koperasi di banyak bagian dunia. Koperasi menempatkan penekanan pada keamanan kerja dan memperbaiki kondisi kerja, membayar upah yang kompetitif, dan meningkatkan pendapatan tambahan melalui pembagian keuntungan dan dividen. Akses kepemilikan pekerja pada perusahaan koperasi menjadi keunggulan yang hanya koperasi menjadi perusahaan yang paling demokrasi di dunia.

Upali Herath, Direktur Koperasi Asuransi di Sri Lanka menunjukkan bagaimana koperasi memberikan keamanan dan perlindungan kepada orang miskin dengan membiarkan mereka mengubah risiko individu menjadi risiko kolektif. Herath memberi contoh termasuk Koperasi Simpanan & Kredit, Koperasi Susu AMUL, dan Koperasi Konsumen di Sri Lanka selama Perang Dunia Kedua. Bahkan setelah kemerdekaan Sri Lanka masih berkecamuk dengan berbagai permasalahan internal namun dapat bangkit membangun ekonomi dan sosial dengan berkurangnya angka pengangguran dan kemiskinan melalui kerja-kerja koperasi.

Produksi berkelanjutan juga memainkan peran penting dalam membantu anggota yang menghadapi kesulitan. Praktek pertanian berkelanjutan telah diperkenalkan untuk konservasi air, konservasi tanah dan pertanian organik di Sri Lanka. Setelah pada masa lalu beberapa petani melakukan bunuh diri karena beban hutang yang berat dari pinjaman pertanian, koperasi menyelenggarakan sebuah pusat pelayanan untuk mendidik para petani mengenai metode pertanian organik murah di Polonnaruwa.

Mounir Kleibo dari Direktur ILO (International Labour Organisation), Palestina, menjelaskan konsep ‘de-development’. Dalam konteks krisis kemanusiaan yang berkepanjangan di Palestina, dia berkata: ‘De-development didefinisikan sebagai proses yang melemahkan atau melemahkan kemampuan ekonomi untuk tumbuh dan berkembang dengan mencegahnya mengakses dan memanfaatkan masukan penting yang diperlukan untuk mendorong pertumbuhan internal. melampaui tingkat struktural tertentu.

Rakyat Palestina menghadapi krisis ekonomi dan sosial yang terus berlanjut namun undang-undang koperasi yang baru diharapkan dapat membatalkan beberapa kerusakan jangka panjang yang telah mereka derita. Rencananya Palestina akan membuat National Co-operative Commission (NCC) untuk memastikan koordinasi yang lebih besar dalam gerakan koperasi; kompilasi data pada sektor koperasi yang berbeda; dan menyetujui proyek yang didanai oleh komunitas donor untuk mengembangkan sektor koperasi. NCC akan membawa harapan bagi 25,8% warga Palestina yang hidup di bawah garis kemiskinan saat ini.

Wenyang Yang, dari UNDESA badan khusus PBB tentang Pembangunan Sosial Ekonomi, mengatakan bahwa koperasi telah memainkan peran penting dalam mewujudkan SDG karena struktur fundamental mereka ‘memperkuat sarana pelaksanaan dan revitalisasi kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan’. Di negara-negara tertentu, koperasi merupakan andalan mata pencaharian dan satu-satunya jalan keluar dari kemiskinan. Dia memberi contoh di Kenya, di mana 63% bergantung pada koperasi untuk mendapatkan lapangan pekerjaan. Dia mendesak raksasa koperasi tersebut untuk memberi kontribusi sumber keuangan guna mendanai upaya pengembangan gerakan koperasi global.

Terakhir sesi pertama ini dipamungkasi presentasi yang dibuat oleh SEWA (Organisasi NGO Perempuan yang Beroperasi di beberapa negara), perwakilan Sri Lanka, Jeyavathany, yang menggambarkan pekerjaan penting yang dilakukan oleh organisasinya dengan wanita yang terpinggirkan secara ekonomi dan sosial di tiga distrik di Sri Lanka. SEWA telah memberdayakan wanita-wanita ini dengan memberi mereka keterampilan penting, seperti komputerisasi dan, pengolahan makanan, untuk memulai bisnis mereka sendiri.

Panel berikutnya mengenai Pemberantasan Kemiskinan memberikan banyak wacana mengenai bagaiamana membangun sistem supply dan produksi makanan yang berkecukupan. Pada panel Ini menggemakan apa yang telah kita ketahui tentang bagaimana gerakan kooperatif menciptakan penyangga terhadap risiko masa depan bagi anggotanya, dan juga memperluas pemahaman kita dengan membahas peran koperasi di daerah konflik. Ini menegaskan kembali iman kita pada koperasi sebagai agen perubahan yang dapat mengurangi kemiskinan, dan memberi manfaat bagi anggota bagaimana cara hidup yang layak dan menjalani kehidupan yang bermartabat.

Konferensi ini berakhir dengan sejumlah rencana aksi dan rekomendasi yang menjadi rujukan bagi para mitra koperasi dalam pembangunan berkelanjutan. Rujukan ini membuat semacam peta jalan bagi tiap-tiap negara anggota di Asia Pacific tentang bagaimana membangun akses terhadap supplai makananan dan kebutuhan dasar secara berkelanjutan oleh koperasi, dan perlindungan terhadap kelestarian sumber daya alam dan energy untuk masa depan dunia.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.