Akuntansi dan Pengawasan Penting bagi Koperasi, Kemenkop Dituntut Sering Gelar Pelatihan agar Koperasi Besar dan Profesional

pipnews.co.id, Bandung – Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Meliadi Sembiring menyambut baik gelaran program pelatihan perkoperasian di lingkungan internal kementerian. Sehingga, jajarannya mampu dan paham betul mengenai perkoperasian. Semisal bagaimana tata cara memperoleh badan hukum, rincian detail dari prinsip-prinsip berkoperasi, hingga pengertian dari perkoperasian.

“Dari situ, kita bisa membedakan mana koperasi dan mana yang bukan koperasi. Saya jadi teringat jaman dulu ketika masih ada yang dinamakan Balai Latihan Koperasi atau Balatkop. Aneka bentuk pelatihan selalu kita ikuti,” ungkap Meliadi pada acara Pelatihan Akuntansi dan Pengawasan Koperasi di lingkungan Kementerian Koperasi dan UKM, di Lembang, Bandung, Senin (11/2).

Acara tersebut juga dihadiri Rektor Institut Koperasi Indonesia (Ikopin) Burhanuddin Abdullah, Direktur Pusat Inkubator Bisnis Ikopin Indra Fahmi, dan Kepala Biro Umum Kemenkop dan UKM Hardiyanto, Meliadi berharap, dengan pelatihan selama lima hari ini, nantinya bakal terbentuk SDM yang berbeda dan lebih terlatih, dibanding yang tidak mengikuti pelatihan tersebut. “Kalau hasilnya sama saja, saya sarankan ke depan pelatihan perkoperasian seperti ini tidak perlu diselenggarakan lagi. Untuk apa? Jadi, saya tegaskan harus ada bedanya antara yang ikut pelatihan dengan yang tidak ikut,” tegasnya.

Bahkan, usai pelatihan, Meliadi menginginkan ada ujian bagi peserta pelatihan. Menurutnya, pihaknya memang dituntut untuk terus berbenah diri selaku Pembina. Sebaliknya di sisi lain, Kemenkop juga menuntut koperasi untuk menjadi lebih moderen, lebih terbuka, bisa menjadi besar dan sebagainya, itulah yang dituntut.

Meliadi menambahkan, asal jangan sampai terjadi ironis, dimana kita menuntut banyak koperasi, sementara sebagai Pembina tidak tahu apa-apa. “Kita mengatakan koperasi harus menjadi koperasi yang baik. Kita harus paham dan tahu bagaimana bentuk koperasi yang baik itu. Kita harus tahu apa itu koperasi bodong. Kita harus tahu bedanya yang bodong dengan yang tidak bodong itu apa,” jelas Meliadi.

Imbuh Meliadi, Kemenkop membentuk Deputi Pengawasan beberapa tahun lalu itu diakui merupakan bentuk terobosan yang bagus. Sebab, diharapkan pembangunan kualitas dari koperasi tersebut. Kalau mengutamakan kualitas kata dia, maka bentuk pengawasannya harus lebih besar dan banyak. Supaya koperasi bisa berkualitas, tentu tidak seenaknya saja dalam menjalankan usahanya.

Untuk bisa mengawasi koperasi dengan baik, Meliadi menekankan, aparat pembinanya harus terus diisi dengan pengetahuan tentang tata cara berkoperasi yang baik dan benar. “Setelah pelatihan harus terus diperdalam lagi di lapangan. Sehingga, pelatihan hari ini ada manfaatnya,” tegasnya lagi.

Perihal akuntansi menurut Meliadi sudah menjadi kebutuhan bagi koperasi dalam menjalankan setiap usahanya. Sehingga sebagai Pembina harus tahu dan paham sistem akuntansi seperti apa yang dibutuhkan koperasi, supaya tidak dikibuli oleh pelaku koperasi.

Demikian terkait pengawasan, Meliadi juga berharap jajaran Pembina ini tahu dan paham betul mengenai peraturan perundangan yang berlaku, yang harus dijalankan para pelaku koperasi di seluruh Indonesia. Intinya pengawas kata dia harus bisa membedakan mana koperasi yang patuh dan tidak patuh. Khususnya pada KSP, pengelolaan uangnya harus prudent. Termasuk di dalamnya harus tahu penilaian koperasi.

Kalau sudah mengetahui semuanya, kata Meliadi, kita bisa menerapkan sanksi bagi koperasi yang tidak patuh. “Kita harus tahu sanksi bagi koperasi dalam UU Perkoperasian yang sekarang seperti apa, dan bagaimana sanksi yang tertuang dalam RUU Perkoperasian. Kita harus pelajari itu semua. Bukan sekedar sanksi teguran, melainkan juga ke sanksi pidana,” tandasnya.

Sementara itu Rektor Ikopin, Burhanuddin Abdullah berpendapat, pelatihan seperti ini merupakan pendidikan yang sangat penting. Malah dia berharap ini ada kelanjutannya. Supaya bisa jelas mestinya harus ada sertifikasi dari para pengawas koperasi. Dengan demikian standar kompetensi juga terukur.

Masih dikatakan Burhanuddin, koperasi harus mencoba untuk ikut dalam arus perbaikan teknologi. Dengan begitu, koperasi akan lebih dimudahkan untuk diperbesar, efisiensi akan meningkat, dan keuntungan juga akan makin baik. “Koperasi dengan teknologi, maka semakin besar jangkauan anggotanya. Itu yang penting bagi koperasi,”jelasnya.

Burhanuddin memandang koperasi mempunyai masa depan yang sangat baik dan cerah. Menurutnya di masa depan itu jika tanpa kolaborasi dan tanpa komunikasi, kita tidak akan bisa menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa. (Slamet AW).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.