Berkat Program PEN, Pelaku UMKM Merasa Sangat Diringankan Bebannya

Pipnews.co.id, Jakarta – Dampak pandemi Covid-19 memang begitu dahsyat menerpa hampir seluruh pelaku UMKM di Indonesia. Untuk itulah pemerintah telah mengeluarkan kebijakan untuk pemulihannya. Salah satunya adalah program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN), program ini memang khusus untuk pelaku koperasi, usaha mikro, kecil dan menengah (KUMKM). Faktanya di masa pandemi Covid-19 ini, tak dipungkiri program PEN sangat dirasakan oleh pelaku usaha karena amat meringankan beban. Terutama adanya subsidi bunga cicilannya dianggap cukup meringankan.

Paling tidak hal tersebut telah dirasakan beberapa pelaku usaha, Zaenab misalnya. Ia mengungkapkan kepada awak media, di hadapan Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully Indrawan dan Direktur Bisnis Mikro Bank BRI Supari, di Pusat Informasi Pemulihan Ekonomi Koperasi dan UMKM, di kantor Kementerian Koperasi dan UKM, Senin (6/7).

Zaenab menambahkan, bahwa cicilan Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diperolehnya pada 31 Juli 2019 dan besar cicilannya Rp2,485 juta perbulan, mendapat penundaan angsuran selama enam bulan ke depan. “Saya juga mendapat subsidi tambahan sebesar Rp2,1 juta. Jadi, angsuran perbulan yang harus saya bayar hanya Rp300 ribuan saja,” ungkapnya.

Namun diakuinya selama ada pandemi Covid-19 pendapatan warung kelontongnya drop hingga 90%. Makanya ia bersyukur ada kebijakan dari pemerintah, yakni program PEN, khusus untuk pelaku KUMKM. “Program ini amat meringankan beban dengan subsidi bunga cicilan,” ujar pelaku usaha kecil penerima KUR dari Bank BRI ini.

Hal senada pun ceritakan Dedi Achyadi, pelaku usaha warung kelontong di pasar tradisional yang juga mengalami penurunan omzet secara drastis selama pandemi corona. Bahkan dia mengakui usahanya nyaris bangkrut. Sudah begitu kewajiban cicilan KUR yang didapat dari BRI sebesar Rp50 juta, dan cicilan yang harus dibayar perbulan Rp2,9 juta. “Dengan adanya program PEN, saya hanya mencicil angsuran pokok sebesar Rp134 ribu,” ujar Dedi senang.

Demikian Trisnowati pun sama, pelaku usaha penjualan alat-alat memasak yang sangat terdampak dari wabah pandemi. Dia mengakui, dalam kondisi normal ia biasa menjual paling sedikit lima unit alat masak. Ahkan undangan demo masak diakuinya datang setiap hari. “Tapi selama pandemi, semuanya hilang,” ungkap Trisnowati.

Padahal, Trisnowati memiliki tanggung jawab atas KUR yang sudah diperolehnya sebesar Rp500 juta. Dengan cicilan sekitar Rp13 jutaan perbulan, diakui bukan beban yang ringan. “Alhamdulillah, dengan kebijakan PEN dari pemerintah, saya mendapat penangguhan untuk pembayaran angsuran pokok,” ujarnya.

Hitungannya, Trisnowati hanya diwajibkan mengangsur sebesar Rp1,68 juta perbulan saja. Bahkan setelah kini mendapat tambahan subsidi bunga dari pemerintah, ia hanya wajib membayar sebesar Rp300 ribuan saja. Sehingga kata dia, dari uang yang ada yang harusnya untuk membayar cicilan KUR, bisa diputar kembali untuk usaha. “Kini, saya beralih ke penjualan online. Meski belum sebagus waktu saat normal, namun penjualan secara online yang saya lakukan, mulai terlihat hasilnya,” jelas Trisnowati.

Selaku bagian dari pemerintah Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM Prof Rully sangat senang mendengarkan testimoni para pelaku usaha UMKM ini yang merasa lega karena terbantu oleh program yang digulirkan itu.

Hanya saja kata Prof Rully, diakui hingga saat ini baru ada empat bank yang telah mengajukan klaim atas dana talangan dalam program PEN untuk sektor UMKM. Keempat bank tersebut kata dia, adalah Bank BRI, BNI, Mandiri, dan BPD Kaltimtara. “Sebagai kuasa pengguna anggaran (KPA) kami terus mendorong agar bank-bank penyalur KUR agar segera melakukan klaim ke pemerintah,” ujar Prof Rully.

Pasalnya, jika tidak ada klaim yang diajukan, akan terjadi keterlambatan pembayaran pemerintah atas biaya-biaya yang dikeluarkan bank penyalur. “Sementara Presiden Joko Widodo secara tegas meminta agar Kementerian dan Lembaga (K/L) mempercepat realisasi dan pencairan dana PEN khusus KUMKM yang dipatok sebesar Rp123,46 triliun,” tegas Prof Rully lagi.

Langkah Strategis

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Bisnis Mikro Bank BRI Supari mengatakan, selama pandemi Covid-19 pihaknya melakukan tiga langkah strategis. Yaitu, langkah penyelamatan pelaku UMKM, implementasi program PEN, dan tetap menyalurkan kredit UMKM selama pandemi Covid-19. “Selama lima bulan pandemi ini, Bank BRI sudah menyalurkan KUR sebesar Rp56 triliun, dari target sebesar Rp120 triliun. Kami optimis, KUR akan tersalurkan seluruhnya hingga akhir tahun,” ujarnya.

Bagi Supari, ketika aktifitas ekonomi masyarakat sudah kembali menggeliat, UMKM harus ditopang dengan permodalan baru. “Kita akan mengimplementasikan seluruh kebijakan PEN. Salah satunya, subsidi bunga untuk memperpanjang napas usaha UMKM,” tandasnya lagi.

Begitu pula dengan skema penjaminan yang nantinya diperuntukkan untuk akselerasi recoveri usaha milik UMKM. Imbuh Supari, Bank BRI akan terus mendampingi dan memberdayakan UMKM. Termasuk, ketika nasabah melakukan perubahan usaha dari offline ke online dengan tujuan untuk efisiensi.

Supari meyakini, langkah BRI ke depan akan lebih cepat lagi dalam proses akselerasi implementasi kebijakan PEN. “Selama Mei-Juni 2020 kita sudah menyelamatkan sebanyak 2,7 juta UMKM dengan nilai kredit sebesar Rp110 triliun,” pungkasnya. (Esawe).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.