Ekonomi Kreatif Sumbang PBD Tembus Rp 1000 Triliun

PIPNews, Jakarta – Presiden tak keliru membentuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mewadahi dan melakukan pembinaan kepada pada pelakunya. Hasilnya ternyata sangat menggembirakan. Paling tidak Sumbangan Ekonomi Kreatif (Ekraf) kepada Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia secara keseluruhan diperkirakan tembus angka Rp 1.000 triliun.

Angka ini pun diakui Kepala Badan Bekraf Triawan Munaf menjadi batas psikologis dalam pengembangan ekonomi kreatif di tanah air. Menurutnya pada akhir 2017 Ekraf sudah menyumbangkan Rp 1.000 triliun terhadap besaran PDB. “Itu angka psikologis, penting ngga penting tapi bisa boost semangat kita untuk memajukan ekraf,” tuturnya dalam Bincang-bincang Bekraf di Museum Modern and Contemporary Art in Nusantara (MACAN), Jakarta, Senin (25/2).

Triawan mengakui, angka tersebut belum terekam secara resmi oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Hingga 2016 kontribusi ekraf mengalami kenaikan menjadi Rp 922,58 triliun dari tahun sebelumnya yang Rp 852,56 triliun. Dengan angka tersebut kata dia membuat kontribusi ekraf terhadap PDB naik dari 7,38% menjadi 7,44%. Dan angka tersebut diyakininya akan terus tumbuh dan berkembang di Indonesia, sehingga pada 2018 ini ditarget kontribusinya akan menembus Rp1.000 triliun lebih.

Kontribusi ekraf terhadap perekonomian nasional imbuh Triawan diperkirakan Rp 70 triliun lebih setiap tahunnya. Dimana Bekraf ini membawahi 16 subsektor ekraf, tiga subsektor menjadi prioritas yakni fashion, kuliner, dan craft (kerajinan tangan).
Ke 16 subsektor ekonomi kreatif, yaitu: seni rupa, desain produk, desain komunikasi visual, desain interior, arsitektur, seni pertunjukan, kuliner, fotograti. kriya, fesyen, musik, periklanan. penerbitan. televisi & radio, aplikasi & pengembangan permainan (game), serta film, animasi, dan video.

“Program unggulan masih fashion,kuliner dan craft tapi kita prioritaskan juga film, musik, apps dan games,” ungkapnya.

Adapun kontribusi dunia perfilman kata dia cukup signifikan terhadap perkembangan ekraf. Dari jumlah penonton telah mengalami peningkatan luar biasa, dari 16 juta penonton pada 2015 menjadi 42 juta penonton pada akhir 2017. Sayangnya, kata dia lagi, bergairahnya industri perfilman Indonesia tidak didukung ketersediaan layar yang memadai.

Triawan menambahkan, salah satu yang membuat film bergairah, kita buka DNI (investasi asing) untuk film agar tidak diproteksi berlebihan. “Sampai kemarin presiden nonton film Dilan semoga bisa naik lagi agar bisa kalahkan film Warkop DKI 6,8 juta penonton. Meskipun berat karena kita kekurangan layar bioskop, makanya saya buka investasi asing,” jelasnya.

Dia menyebutkan jumlah layar bioskop di tanah air mencapai 1.500, naik dibanding sebelum ada Bekraf, yakni 1.100 layar. Sehingga dengan dibukanya investasi asing untuk perfilman, diharapkan jumlah bioskop akan semakin banyak.

Keberadaan Bekraf yang sudah jalan tiga tahun telah melakukan berbagai kegiatan. Pada 2018 ini kegiatan yang mendukung pengembangan ekosistem ekraf telah disusun dan mulai dilaksanakan, seperti Coding Mum, Bekraf Animation Conference (Beacon), Bekraf Creative Labs. lnnovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON), Creative Training and Education (Create), Bekraf Festival, dan Orbit.

“Gagasan kreatif tak akan pemah habis sehingga diharapkan dapat menggantikan sumber daya alam (SDA) menjadi tulang punggung perekonomian nasional” paparnya.

Bekraf Developer Day dan Bekraf for Pre-Startup juga kembali digelar dengan menyasar sejumlah kota di Indonesia. Pendampingan ke pelaku ekonomi kreatif melalui inkubator bisnis terus dilakukan. Untuk pengembangan ekraf ini juga tak hanya menyasar perseorangan dan komunitas, juga wilayah melalui program kota kreatif dan desa kreatif.

Khusus kemudahan akses permodalan, pelaku ekraf diberikan melalui Dana Ekonomi Kreatif (Bekraf), Kredit Usaha Rakyat Ekonomi Kreatif (Kurekraf), IP Financing, optimalisasi crowdfunding, hingga mengadakan forum bagi investor dan filantropi ekraf.

Selain itu Bekraf juga fokus melindungi produk kreatif karya anak bangsa melalui bantuan pendaftaran hak kekayaan intelektual. Selain itu. diberikan juga dukungan sertifikasi dan pelatihan untuk meningkatkan daya saing pelaku. (AWeS).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.