Ekspor Perdana Tempe ke Jepang Produk UKM dari Bogor 4,8 Ton Dilepas Dirjen PEN Kemendag Didi Sumedi

Pipnews.co.id, Jakarta – Kabar baik datang dari pelaku  usaha kecil menengah (UKM) yang memproduksi makanan olahan Tempe. Bahwa makanan  yang berbahan baku kacang kedelai ini tidak lagi hanya dipasarkan secara lokal di dalam negeri, tapi sudah menjadi barang komoditi ekspor.

Kegiatan ekspor itulah yang digelar hari itu (17/6) di Bogor, yang secara simbolis dan virtual di lepas oleh Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan Didi Sumedi.

Hadir dalam acara pelepasan ekspor yang seremonialnya dilakukan di gudang cold storage Bosco Penjaringan Jakarta Utara ini, Direktur Pengembangan Pasar dan Imformasi Ekspor Hari Widodo dan Direktur Ekspor Produk Industri dan Pertambangan Luther Palimbong. Di sana juga tampak Ketua Umum Rumah Kreasi Indonesia Hebat (RKIH) Kris Budihardjo, Ketua Forum Tempe Indonesia Made Astawan, BPOM Pusat dan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kora Bogor Ganjar Gunawan.

“Ini adalah ekspor perdana produk tempe milik para pelaku UKM yang tergabung dalam Rumah Tempe Azaki Bogor, yang melakukan kerjasama dengan perusahaan eksportir PT Arumia dan Kobe Busan. Ekspor perdana produk tempe ini sebanyak 4,8 ton dengan tujuan negara Jepang,” kata Didi dalam siaran pers Kemendag (18/6/2021).

Didi menjelaskan, ekspor perdana produk tempe ke Jepang ini momen penting untuk meningkatkan nilai ekspor produk makanan olahan Indonesia ke seluruh dunia. Hal ini sekaligus diharapkan menjadi motovasi UKM lainnya untuk mengembangkan pasarnya hingga ke manca negara

“Ke depan kita juga harus berusaha lebih giat untuk mengembangkan sektor sektor baru yang menghasilkan nilai tambah bagi ekspor Indonesia. Melalui acara hari ini diharapkan ekspor produk makanan.olahan akan semakin tumbuh ditahun tahun mendatang. Kementerian Perdagangan akan terus mendukung pelaku usaha untuk memperluas pasar dan meningkatkan nilai ekspornya,” ujar Didi.

Didi menjelaskan, ekspor perdana produk tempe ke pasar Jepang mengadaptasi produk yang diinginkan oleh pasar Jepang. Produk tempe dikemas dalam kemasan 450  gram. Eksportir Indonesia sudah menyesuaikan bentuk, ukuran, resep pengolahan dan kemasan sesuai dengan yang diiginkan pasar Jepang. Produk ini nantinya akan diimpor oleh salah satu chain wholesale supermarket terbesar di Jepang yang memiliki 800 gerai di seluruh Jepang,” kata Didi Sumedi.

Menurut Didi, meskipun merupakan negara produsen bahan makanan, Jepang juga melakukan impor bahan pangan. “Sebesar 60 persen konsumsi bahan pangan Jepang merupakan impor, sehingga saat tempe didaulat jadi superfood asli Indonesia, konsumsi tempe pun mulai tumbuh di negara negara maju termasuk Jepang. Hal yang menarik, yaitu tetap terjaganya cita rasa otentik tempe walaupun proses fermentasi tempe dilakukan di Indonesia,” kata Didi.

Ia menilai pasar impor pangan Jepang harus terus didorong untuk meningkatkan pangsa pasar produk pangan Indonesia yang baru mencapai 1,3 ‘persen dari keseluruhan pangsa produk pangan impordi Jepang.

“Konsumen Jepang juga suka mencoba berbagai produk makanan baru khususnya produk makanan yang sehat. Untuk itu Indonesia harus dapat memanfaatkan peluang yang masih terbuka ini’,” tutur Didi.

Sesuai data, pada 2020 ekspor pangan Indonesia ke pasar Jepang sebesar USD 19,1 juta atau tumbuh 16 persen dibanding tahun 2019. Pertumbuhan yang pesat ini harus terus ditingkatkan sejalan dengan tren pasar Jepang yang mulai melirik produk yang berkualitas di luar Tiongkok untuk memenuhi kebutuhan pasar. (Yannes).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.