Ekspor Produk Olahan Pertanian Berikan Nilai Tambah Tinggi

PIPNews.co.id, Denpasar – Sektor pertanian memiliki potensi besar dalam mengembangkan pelaku usaha (agripreneur). Karenanya peluang tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan oleh siapa saja termasuk para lulusan perguruan tinggi.

Bahkan ke depan sektor pertanian harus mampu menghasilkan produksi bermacam barang olahan. Tujuannya agar dapat memberikan nilai tambah tinggi bagi seorang agripreneur. Karenanya mindset para agripreneur harus dirubah supaya tidak melulu mengekspor bahan mentah ke luar negeri.

Demikian disampaikan Deputi Bidang Produksi dan Pemasaran, Kementerian Koperasi dan UKM, I Wayan Dipta, dalam acara Talkshow bertema “Let’s Be Young Agripreneur”yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Pertanian Universitas Udayana, di Denpasar-Bali, Selas (13/3).

“Saya mendorong mereka (lulusan perguruan tinggi) yang menjadi agripreneur dapat mengolah produk-produk pertanian menjadi produk olahan, jangan hanya bahan mentah yang diekspor sehingga ada nilai tambah menjadi tinggi, yang bisa dinikmati oleh pelaku usaha,” papar Wayan Dipta yang mewakili Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga.

Dia mencontohkan dengan mengolah sabut kelapa menjadi jok mobil, daging kelapa menjadi santan, minyak dan CPO. Maupun mengolah biji kopi menjadi serbuk kopi yang bisa dipasarkan dengan kemasan yang menarik melalui kafe anak-anak muda, serta diekspor.

Menurutnya potensi dan kekuatan SDM anak bangsa tidak terlalu kalah dengan negara-negara lain, tinggal bagaimana menggarap peluang-peluang yang ada untuk direalisasikan menjadi suatu hal yang memiliki nilai tambah. “Sangat banyak produk pertanian yang bisa diolah menjadi barang jadi atau siap pakai,” tegasnya lagi.

Wayan mencontohkan komoditas kopi yang sudah terkenal bila sudah jadi serbuk dan
dikemas dengan packaging yang menarik, atau bisa juga agripreneur membuat kafe dengan menu utama kopi dengan desain dan tampilan yang unik maka nilai kopi tersebut akan sangat tinggi.

Hadir dalam kesempatan kesempatan tersebut, Wakil Rektor III Prof. Dr. Ir Made Sudarma, I Ketut Kariyasa dari Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Causa Iman Karana dari BI, Komang Sukarsana pemilik Bali Kopi Arabika, dan Orin Hardy, pemilik The Kul-Kul Farm. (awes).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*