HMPG, Dekopin dan KKP Lakukan Kolaborasi Bantu Petani Garam, agar Harga Garam Tidak Karam

Pipnews.co.id, Surabaya – Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) Jawa Timur melakukan upaya kolaborasi dengan Kemeterian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan  Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin). Hal ini dilakukan semata untuk memperbaiki tata kelola garam dan industrinya sehingga nasib petani garam ikut berubah baik nasibnya.

Menurut Ketua HMPG Muhammad Hasan SG, MSi, pihaknya sangat mengharapkan adanya kolaborasi tersebut, sehingga garam akan selamat karena harganya kembali bagus. “Dengan begitu nasib para petaninya (petambak) akan lebih sejahtera lagi,” ujarnya usai acara MoU di hotel Dafam Surabaya, Rabu (18/11).

Hasan menambahkan, bahwa kebutuhan garam nasional dimungkinan sudah kelebihan pasokan. Dengan melimpahnya stok garam karena garam mudah dibuat dan gampang dicari, sehigga dampaknya harga garam menjadi sangat murah. Mengingat harga garam rakyat saat ini cukup anjlok, yakni hanya sekitar Rp300 – 400 per kilogram.

Dengan besaran harga tersebut kata Hasan, otomatis lebih besar dari pada biaya produksi. Akibatnya garam hasil ribuan petani itu menumpuk di gudang, di berbagai sentra produksi garam. Disisi lain di tengah kondisi perekonomian yang sedanng mengalami kelesuan akibat Covid-19. “Hal ini imbasnya sangat berat dialami para petani garam, mereka makin didera berbagai kesulitan dalam proses distribusi dan pemasarannya ke berbagai daerah,” tandasnya.

Makanya tak mau keadaan semakin parah bagi para petani garam, kata Hasan, HMPG Jawa Timur, melakukan berbagai upaya dan salah satu yang diharapkan, adalah terjadinya kolaborasi antar lembaga demi mengangkat nasib pergaraman nasional.  

Adapun Ketua Umum Dekopin Dr Sri Untari Bisowarno yang didampingi Ketua Dekopin Wilayah Jatim Slamet Sutanto, dalam kesempatan tersebut mengatakan siap untuk membantu agar nasib petani garam lebih baik dari yang sekarang. “Caranya kami akan memfungsikan koperasi secara maksimal, dan kami akan mendirikan semacam lembaga konsultasi, terkait semua permasalahan menyangkut soal garam,” ujarnya.

Masih lanjut Sri Untari, harus melakukan perbaikan dan solusi agar kondisi garam di Indonesia mengalmi berbaikan permanen. Melalui berbagai program, mulai dari jangka pendek sampai jangka panjang. Untuk jangka pendek kata Sri, perlu dilakukan akurasi data neraca garam nasional. Memurutnya akurasi ini diperlukan untuk memastikan, berapa kebutuhan garam industri tertentu, dapat dipenuhi oleh garam petambak secara optimal. “Proses penurunan impor menjadi 975.228 ton pada 2019, memperlihatkan bahwa banyak industri yang pemenuhannya bisa dioptimalkan melalui garam petambak,” jelasnya.

Masih jelas Sri Untari, untuk jangka menengah, pemerintah harus secara kontinu mengembangkan program peningkatan kualitas dan daya saing garam tambak. Kemudian untuk membantu petambak perlu dikembangkan system resi gudang garam. Hal ini tegas Sri, perlu dikembangkan guna pemberian insentif kepada industri pengolahan garam yang mampu menghasilkan garam industri dari bahan baku garam petambak.

Sedangkan untuk jangka panjangnya, tutur Sri, pengembangan industri garam dapat diarahkan kepada upaya terciptanya berbagai model/tekhnologi pengolahan garam. Sekaligus ekstensifikasi tambak garam yang secara geografis dapat menjadi wilayah yang tepat, sehingga menghasilkan garam secara optimal dan kompetitif.

Sedangka untuk pemecahan permasalahan terkait rendahnya harga pembelian garam petambak, serta tingginya harga garam konsumsi di tingkat pengecer, imbuh Sri Untari, dapat dilakukan dengan memasukan garam sebagai bagian dari bahan pokok dan penting (bapokting) yang diatur oleh pemerintah

Sementara itu menurut Direktur Jasa Kelautan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Dr Miftahul Huda mengungkapkan, bahwa pihaknya akan membantu dan bekerja sama dengan petani garam. Dengan cara akan memanfaatkan teknologi canggih sehingga nantinya garam tidak lagi hanya sebagai penyedap masakan saja, tetapi sebagai industrii yang bergengsi. Terutama harga garam menjadi sangat bagus. “Apa dan bagaimananya masih akan digodok secara matang, dengan berbagai pertimbangan yang positif dan akan disinergikan melalui kemitraan dan kerja sama dengan Dekopin dan steak holder lainnya,” tandas Miftahul Huda. (PR).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.