Nasional

Kemenko Marves Dorong Kincir Air Buatan Indonesia, Ikut Dipamerkan dalam BBI di Lombok

Pipnews.co.id, Surabaya – Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) terus mendorong penguatan pembangunan teknologi kincir air buatan dalam negeri bagi tambak udang dan rencana kesiapan keikutsertaan dalam pameran nasional “Bangga Buatan Indonesia/BBI” Terkait hal tersebut Kemenko Marves melakukan Rapat Koordinasi (Rakor) secara langsung dan virtual yang diselenggarakan di Surabaya Rabu (17/2).

Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marves Safri Burhanuddin mengatakan, produksi dalam negeri perlu mendapatkan perhatian lebih dari berbagai pemangku kepentingan, salah satunya terkait sarana dan prasarana (sarpras) penunjang industri perikanan budidaya. Namun ia melihat saat ini masih ada beberap permasalahan sarpras penunjang industri perikanan budidaya yang muncul, khususnya kincir dan pompa.

“Sebagian besar sarpras penunjang industri perikanan budidaya, khususnya kincir air dan pompa air masih bergantung pada produk impor, padahal kita punya kebutuhan yang sangat banyak,” kata Deputi Safri dalam siaran pers Kemenko Marves (18/2).

Untuk itu lanjut dia, diperlukan kolaborasi sinergitas antar kementerian/lembaga, badan riset, perguruan tinggi, pelaku usaha dan UMKM dalam produksi masal dan jaringan pemasaran sarpras penunjang buatan dalam negeri.

Safri mengatakan, adapun lokasi pengembangan tambak udang tahun 2020 hingga 2024 yaitu dengan luas lahan 100.000 hektar. Hal ini dilakukan guna mendukung peningkatan ekspor udang 250%.

Senada dengan hal tersebut, Kepala Pusat Pendidikan Kelautan Perikanan Bambang Suprakto, yang juga narasumber mengarakan, bahwa peningkatan ekspor udang 250% tersebut membutuhkan produksi sebanyak 579.579 ton dengan luas lahan 58.990 hektar (5000  hektar intensif, 53.990 hehtar semi intensif). Dengan estimasi sarpras penunjang industri perikanan 1.101.820 unit, yaitu 973.740 unit kincir dan 117.890 unit pompa. ” Kalau berbicara soal kincir, memang kebutuhan kincir kita  cukup besar. Namun saat ini untuk kincir kita 100% masih impor,” ungkap Bambang.

“Bahan yang digunakan dalam pembuatan kincir angin ini juga berasal dari bahan lokal. Selama tiga tahun sudah diujicoba, ini berbahan baku lokal, jadi lokal konten, kapasitasnya 1 phase,” jelas Mohamad.

Sementara itu, Direktur Politeknik KP Sidoarjo Mohamad R Alaudin mengungkapkan terkait progres kincir air. Menurut dia prototipe kincir air yang sudah diujicobakan dan sudah dilakukan penyerahan blueprin secara lengkap ke BUMN Teknologi PT Barata.

Menurut Mohamad ujicoba kincir air terakhir akan dilakukan selama seminggu pada 22 – 28 Februari di lokasi tambak udang Politeknik Kelautan Perikanan (KP) Sidoarjo. Selanjutnya diharapkan pada bulan Maret 2021 sudah bisa finishing produk sehingga bisa dilakukan penandatanganan kerjasama dan produknys diluncurkan pada pameran BBI di Lombok.

Mohamad Hery melanjutkan, kincir air produk anak bangsa tersebut juga memiliki keunggulan setelah dibandingkan dari kincir air impor dan hasilnya memang lebih efektif dan efisien. Tidak hanya itu, secara kualitas juga lebih baik, coverage lebih luas dari pada kincir impor dan suku cadangnya pun dibuat dari bahan bahan yang mudah didapat.

“Saya tadi di challenge untuk fasilitasi terkait status sertifikasi SNI nya, nanti kira akan koordinasi dengan BSN, lalu sertufikasi TKDN nya. Kemudian inovasi anak bangsa ini akan kita diangkat nanti di pameran Bangga Buaran Indonesia di Lombok pada Maret mendatang,” imbuh  Asdep Merves Amalios, yang ikut mendampingi Sarfi Burhanuddin dalam Rakor dimaksud.

Selanjutnya, setelah mendengar semua progres terkait produksi kincir air oleh PT Barata Surabaya, Kemenko Merves langsung melakukan kunjungan lapangan melihat model kincir airnya yang oleh PT Barata sudah dikembangkan lima bulan terakhir.

Ia menambahkan, kincir air karya putra putri bangsa ini akan mendukung produksi udang nasional meningkat hingga 250%. (Yan).

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Back to top button