Kemenperin: Teknologi Kecerdasan Buatan Pacu Produktivitas Industri

Pipnews.co.id, Jakarta – Kementerian Perindustrian melalui Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (Dirjen ILMATE) Taufiek Bawazier mengatakan, pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artivicial Intelligence/AI) menjadi salah satu.bentuk penerapan industri 4.0 untuk meningkatkan efisiensi proses manufaktur serta produktivitas industri.

“Kalau kita lihat terminologi yang sederhana, AI mengganti fungsi.manusia atau mesin dalam memproses informasi. Dengan menghasilkan machine language, semua data analitik bisa diproses sehingga pengambilan keputusan bisa lebih cepat dan mengantisipasi kebutuhan atau permintaan pasar,” kata Taufiek.dalam siaran pers di Jakarta (23/8).

Dia menjelaskan, pihaknya terus mendorong sektor manufaktur untuk segera menggunakan teknologi industri 4.0 guna mendongkrak kualitas produk dan kapasitas produksinya. Sebelumnya terdapat.lima sektor yang menjadi pionir dalam penerapan industri 4.0 tanah air, yaitu industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia dan elektronik.

“Namun di tengah pandemi Covid-19, Kemenperin menambah lagi dua sektor pionir yaitu, industri farmasi dan alat alat kesehatan. Langkah ini sebagai komitmen pemerintah untuk memperluas penerapan industri 4.0,” imbuhnya.

Menurut Taufiek, saat ini kedua sektor tersebut memang sedang mengalami permintaan yang sangat tinggi. Sementara itu, lima sektor prioritas awal sudah mampu memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional mencapai 60%.

“Penerinrah bertekad untuk terus menjaga aktivitas sektor industri karena selama ini konsisten menjadi penopang ekonomi. Tapi karena ada pandemi Covid-19, pemerinrah juga menekankan agar perusahaan ibdustri dan kawasan industri menjalankan protokol kesehatan secara ketat.m,” ujarnya.

Menurut Taufiek, selain menjadi keberlangsungan usaha sektor industri, pemerintah juga fokus memacu daya saingannya. Salah satu strateginya adalah mendorong pemanfaatan teknologi digital seperti AI agar bisa menghasilkan inovasi. Menciptakan inovasi itu harus dimulai dengan memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi modern, sehingga bisa mewujudkan peningkatan nilai tambah dan ekonomi yang berkelanjutan.

Terkait riset dan inovasi Taufiek membagi dua bagian, yakni riset untuk riset riset untuk industri. “Kami lebih fokus pada riset untuk.membangun ekonomi. Pasalnya dengan menggunakan teknologi AI dapat meningkatkan produktivitas, menyerap tenaga kerja serta meningkatkan sekali sehingga ekspor dan PDB ikut naik, yang juga.berpengaruh pada peningkatan pajak,” kata Taufiek.

Dirinya optimis, apabila industri 4.0 terimplementasi dengan baik di sektor manufaktur Indonesia akan menjadi bagian dari 10 negara yang memiliki ekonomi terkuat di dunia pada tahun 2030 sesuai aspirasi besar Making Indonesia 4.0. Selain itu Indonesia juga mempunyai cita cita besar untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi (high income country) pada tahun 2045 bertepatan dengan perayaan 100 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.

“Tentunya percepatan sasaran itu, perlu ditopang dengan kesiapan industri dan dibutuhkan SDM yang kompeten. Oleh karena itu Kemenperin juga memprioritaskan pengembangan yang dibutuhkan oleh sektor manufaktur di era industri 4.0,” pungkas Taufiek. (Yan).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.