Memacu Pertumbuhan Koperasi dan UKM Butuh Lembaga Pembiayaan Khusus

Pipnews.co.id, Jakarta 24 Januari 2018

Pertumbuhan Koperasi dan usaha kecil menengah (UKM) terus berkembang, baik secara kelembagaan mapun usaha. Saat ini Indonesia memiliki jumlah koperasi dan UKM terbesar di dunia.

Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) mencatat, kini ada lebih dari 152.000 koperasi saat ini. Turn over bisnis seluruh koperasi telah mencapai 167 triliun dengan Sisa Hasil Usaha (SHU) sebesar 6 triliun.

Ketua Harian Dekopin Agung Sudjatmoko mengatakan, hambatan utama koperasi adalah permodalan, baik untuk modal kerja maupun investasi. Kondisi ini sebagian telah bisa diatasi oleh koperasi dengan modal mandiri simpanan anggota.

“Meskipun demikian dalam mempercepat pengembangan usaha koperasi masih tetap membutuhkan suntikan dari lembaga pembiayaan,” papar Agung dalam rilis resmi Dekopin, Selasa (24/1/2018).

Begitupun sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang saat ini berjumlah 59 juta, Agung lihat, juga mengalami kesulitan permodalan.

“Banyak alasan kenapa bank enggan memberikan kucuran kredit pada UKM, alasan klasik karena UKM tidak mempunyai pembukuan dalam mengelola usaha. Belum lagi dianggap mempunyai risiko tinggi terhadap kemacetan, bisa bangkrut, tidak mempunyai anggunan,” ujar Agung.

Saat ini, industri perbankan didorong memberikan bunga kredit satu digit, sehingga beban debitur lebih ringan. Tapi, menurut Agung, bank cenderung mencari pendapatan berbasis fee ketimbang menyalurkan kredit.

Kekakuan bank dengan aturan yang rigid dari otoritas keuangan yakni Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta tidak kreatifnya bank membuat skim pembiayaan ke koperasi dan UKM kesulitan memperbesar usaha. “Maka diperlukan lembaga pembiayaan khusus bagi Koperasi dan UKM ,” kata Agung.

Lembaga pembiayaan ini didesain bukan bank, dapat beroperasi lebih efisien, menyalurkan kredit lebih efisien, dengan tata kelola yang mudah, murah dan aman.

Agung menyatakan lembaga khusus pembiayaan non bank ini didesain untuk menghilangkan hambatan permodalan bagi koperasi dan UKM dengan menjadikan lembaga keuangan mikro dan koperasi simpan pinjam sebagai executing-nya.

“Pola ini dapat menghilangkan hambatan permodalan bagi UKM karena, biayanya murah, resikonya dilepaskan ke LKM dan koperasi sebagai eksekuting, lembaga eksekuting sdh mengenal nasabah/anggotanya sehingga mengurangi resiko gagal bayar kredit dari UKM,” ujar Agung, yang saat ini juga merangkap sebagai Sekjen Dekopin. (Yan).

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*